GPEI Sumut Hadiri Rapat Pleno di Jakarta, Tingginya Biaya Logistik Campur Tangan Pelayaran Asing

by

GEOSIAR.COM, JAKARTA,- Dalam rangka evaluasi kinerja dan program yang telah dilalukan masing-masing Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di lingkungan kerja di seluruh Indonesia, Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) melakukan Rapat Pleno Tahun 2022 pada Rabu,(09/11/2022) di Hotel Best Western Plus Kemayoran Jakarta.

Rapat pleno tahunan ini diikuti oleh perwakilan dari beberapa DPD GPEI antara lain DKI, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Bali, Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sumatera Utara dan Lampung.

Adapun agenda rapat tahunan dimulai dari pembukaan acara, pengarahan oleh Ketua Umum GPEI Pusat Beni Soetrisno. Dalam kesempatan itu, dijelaskan diantaranya, membahas biaya-biaya tinggi logistik baik untuk kepelabuhan dan pelayaran, laporan singkat kinerja dan program kerja DPD-DPD dan arahan lainnya.

“Mahal dan tingginya biaya-biaya logistik disebabkan adanya campur tangan dari pihak pelayaran asing, naiknya harga BBM akibat perang Rusia-Ukrania dalam penentuan biaya kepelabuhan seperti THC maupun tambahan biaya administrasi untuk angkutan komoditi ekspor sehingga memberatkan pelaku eksportir dalam transaksi ekspor barang komoditinya,” ungkap Beni Sutrisno.

“Tinggi dan mahalnya biaya logistik untuk kepelabuhan dan pelayaran juga bisa disebabkan adanya double billing dari pelayaran asing kepada pelaku ekspor dan buyer,” ungkap Sekretaris Umum GPEI Toto Dirgañtoro.

“Masalah the double billing bila ada ditemukan agar dilaporkan ke pihak yang berwajib atau kepolisian,”ucap Ketua Bidang Hukum dan Perjanjian Internasional GPEI Pusat Samuel Siahaan.

Pada rapat pleno itu, masing-masing DPD GPEI  diberi kesempatan oleh GPEI Pusat untuk memaparkan kinerja capaian kerja yang telah dicapai, dan program kerja yang akan dilakukan selanjutnya.

Seperti DPD Jatim, yang kreatif menjelaskan adanya kegiatan Bimtek yang telah dilakukan kepada UMKM dan penggagas sekolah ekspor untuk melahirkan pelaku-pelaku ekspor yang bekerjasama dgn bea cukai, dinas pertanian maupun dinas perdagangan.

Begitu juga pemanfaatan bantuan dari lembaga keuangan dunia  untuk memajukan potensi kegiatan ekspor di Jatim maupun Sumatera Utara.

DPD GPEI Sumatera Utara, yang hadir bersama Tim Pimpinan Hendrik Sitompul itu,  juga memaparkan bahwa sebenarnya nilai ekspor untuk Sumut mengalami kenaikan, hanya kenaikannya berfluktuasi disebabkan pengaruh pandemi covid yang masih terasa.

Komoditi ekspor, kata Wakil Ketua GPEI Sumut Paskalis Sitompul, yang biasa diekspor dari Belawan antara lain CPO, karet dan kayu  kecuali kopi yang memilih ekspornya dari Kualanamu.

Sementara komoditi ekspor dari Kuala Tanjung, disebabkan kenaikan biaya pelabuh karena kenaikan harga BBM. Dan program yang belum dikerjakan yaitu adanya MOU dengan Disperindag Sumut tterhambat karena kepala Disperindagnya meninggal dunia.

Sesuai saran dari GPEI Pusat agar DPD Sumut melakukan Musda GPEI tahun depan.

“Kami juga mengharapkan adanya kontribusi dana dari semua DPD GPEI yang ada untuk menunjang operasional GPEI Pusat agar dapat memperlancar kegiatan GPEI Pusat,” ujar Bendahara Umum GPEI Pusat H M Isya Anwar.

Sekjen GPEI Pusat Toto Dirgantoro juga menghimbau, agar DPD GPEI se- Indonesia dapat melakukan kerjasama dengan DPD GPEI yang lain untuk dapat memajukan dan meningkatkan kegiatan ekspor di masing-masing DPD GPEI.(cno/patar)