Kuota Bakal Ditambah, Pertamina Ungkap Stok BBM Pertalite dan Solar

by

GEOSIAR.COM, JAKARTA,- Pertamina Patra Niaga, Sub Holding Commercial & Trading PT Pertamina (Persero) melaporkan ketahanan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Solar rata-rata berada di posisi 19 hari.

Kementerian ESDM belakangan berencana menambah kuota Pertalite dan Solar untuk memenuhi konsumsi yang meningkat hingga paruh kedua tahun ini.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Irto Ginting mengatakan ketahanan stok BBM bersubsidi itu dihadapkan dengan tren konsumsi masyarakat yang cenderung meningkat seiring dengan pemulihan pandemi tahun ini.

“Sejak pulih dari pandemi, tren konsumsi terus meningkat. Hal ini mengingat roda perekonomian yang semakin berputar,” kata Irto saat dihubungi, Kamis (4/8/2022

Berdasarkan catatan Pertamina Patra Niaga per Juni 2022, ketahanan stok Pertalite berada di angka 19 hari dengan konsumsi mencapai 14,2 juta kiloliter (KL) dari kuota yang ditetapkan 23 juta KL.

Adapun, ketahanan stok untuk Solar berada di angka 20 hari dengan realisasi konsumsi mencapai 8,3 juta KL dari kuota yang ditetapkan sebesar 14,9 juta KL. “Untuk stok Pertalite dan Solar dalam posisi aman,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif membeberkan keputusan akhir terkait dengan peraturan pembatasan pembelian bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis pertalite dan solar bakal rampung pekan depan.

Selain melakukan pembatasan, Arifin menegaskan, pemerintah juga berencana untuk menambah kuota BBM bersubsidi pada paruh kedua tahun ini.

Arifin mengatakan pemerintah tengah melakukan pematangan revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM yang sebelumnya ditarget rampung pada bulan ini sebagai petunjuk teknis dari program pembatasan konsumsi BBM murah tersebut.

“Minggu depan diharapkan sudah ada keputusan mengenai revisinya untuk segera diterbitkan Perpresnya,” kata Arifin.

Menurutnya, pemerintah berupaya untuk tetap menerapkan pembatasan pembelian BBM bersubsidi itu pada bulan ini di tengah beban subsidi energi primer yang membengkak sejak awal tahun.

Apalagi, kata dia, rencana pembatasan pembelian BBM bersubsidi itu sudah menjadi amanat khusus dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyusul harga minyak mentah dunia yang masih tertahan tinggi hingga pertengahan tahun ini.

Di sisi lain, dia menegaskan, pemerintah bakal kembali menambah alokasi kuota BBM bersubsidi untuk mengimbangi tingkat konsumsi masyarakat yang sejak awal tahun ini melebihi proyeksi yang ditetapkan.

“Kita tidak mau kekurangan BBM kan, BBM kan energinya ekonomi, hitung-hitungannya nanti tinggal dibuat,” ujar Arifin.(red/bc)