Anggota DPR RI Hendrik Sitompul : Revisi Perpres BBM Bersubsidi Harus Tegaskan Kelompok Penerima

by

GEOSIAR.COM, JAKARTA,- Anggota Komisi VII DPR RI Drs Hendrik Sitompul MM mengatakan, Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur distribusi BBM bersubsidi diharapkan bisa kembali menegaskan kelompok yang berhak menerima. Jenis BBM bersubsidi yang sedang jadi perbincangan publik adalah solar dan pertalite. Revisi Perpres BBM diserukan agar lebih jelas, agar biaya subsidi dalam APBN terkendali.

“Masyarakat harus sadar bahwa BBM dan LPG subsidi, hanya diperuntukkan bagi kalangan tidak mampu atau miskin. Saat ini pemerintah sedang merevisi Perpres No.191/2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak,” tegas Hendrik Sitompul saat dimintai komentarnya, Kamis (4/8/2022).

Seharusnya, lanjut Hendrik, revisi Perpres ini mengatur teknis kelompok masyarakat yang berhak untuk menggunakan Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite.

Hendrik, dari Fraksi Partai Demokrat itu lebih jauh mengatakan, Produk Perpres yang jelas akan memudahkan kelompok masyarakat tidak mampu mengakses BBM bersubsidi. “Saat ini kelangkaan pertalite dan solar terjadi di wilayah Sumut dan sekitarnya. Ada keresahan di tengah masyarakat akibat langkanya pertalite dan solar. Ini tidak boleh dipandang remeh,” tegas Hendrik, Legislator dari Sumut I meliputi daerah Medan, Deli Serdang, Sergai dan Tebing Tinggi.

Pemerintah, kata Hendrik, kurang mengantisipasi kelangkaan tersebut.
“Info yang Saya terima, di daerah pemilihan Saya kelangkaan solar sangat sering terjadi. Petani dan para pelaku UMKM sangat membutuhkan solar untuk berproduksi. Jadi, saat solar langka, otomatis produksi akan terhenti,” jelas Hendrik.

Sementara itu, Hendrik menilai, kelangkaan dan tingginya harga BBM di Tanah Air tidak lepas dari kondisi geopolitik global yang terjadi saat ini. Harga minyak dunia naik signifikan hingga 350 persen dari April 2020 hingga April 2022.

“Walaupun ada dinamika, namun harga minyak mentah terus berada pada level tinggi, di atas 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga komoditas energi ini tentu berpengaruh terhadap inflasi dan ketidakstabilan kondisi sosial dan ekonomi,” katanya.

Masih kata Hendrik, tren konsumsi BBM masyarakat terus meningkat seiring dengan terkendalinya pandemi Covid-19. “Termasuk peningkatan konsumsi pertalite. Tren kenaikan konsumsi pertalite disebabkan migrasi pengguna pertamax akibat kenaikan harga BBM non subsidi tersebut,” pungkas Hendrik. (cno)