Antisipasi Kelangkaan Pangan, Jokowi Minta Genjot Produksi Jagung

by

GEOSIAR.COM, JAKARTA,– Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta produksi jagung dalam negeri bisa ditingkatkan menjadi 13 ton per hektare. Langkah ini untuk mengantisipasi kelangkaan pangan, khususnya jagung yang masih memiliki porsi impor.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai rapat terbatas dengan Jokowi di Istana Negara pada Senin (1/8).

“Arahan bapak Presiden, rata-rata (produksi jagung) yang sekarang per hektarenya adalah 5 ton itu bisa ditingkatkan menjadi 10 ton sampai dengan 13 ton per ha,” ujarnya dalam konferensi pers.

Adapun langkah yang diminta untuk dilakukan adalah ekstensifikasi atau perluasan lahan baru. Untuk perluasan lahan baru di targetkan ada di wilayah Papua, Papua Barat, NTT, Maluku, Maluku Utara, dan Kalimantan Utara, dengan total luas lahan 141.000 ha dan 86.000 merupakan lahan baru.

Kedua, pemerintah akan mendorong bibit unggul untuk digunakan oleh para petani. Bibit unggul ini disebut hibrida dengan kualitas super, sehingga jumlah panen bisa lebih tinggi dari saat ini.

“Pemerintah sudah mendorong bibit unggul hibrida jagung yang bisa memproduksi antara 10,6 juta ton sampai 13,7 juta ton per ha,” terang dia.

Menurutnya ada 14 jenis bibit hibrida yang ditetapkan pemerintah untuk digunakan petani. Di antaranya Pertiwi 3N1 BC, NK Perkasa, Singa, Bima, Dahsyat hingga P36.
“Artinya, hibrida ini berbasis hibrida nasional dan nanti Pak Mentan akan melakukan perubahan terhadap regulasi terkait ini,” imbuhnya.

Ketiga, pemerintah akan memperhatikan kadar air yang diperlukan oleh petani. Saat ini, kadar air yang ditetapkan sebesar 14 persen dan diharapkan bisa menjadi 27 persen sampai akhir tahun.

“Arahan bapak presiden agar bisa ditingkatkan, maka tentu perlu didorong penambahan jumlah dryer dan silo karena kita ketahui bahwa jumlah produksi jagung, lahan jagung dan feedmill tidak berada dalam provinsi yang sama, sehingga tentu masalah logistik, masalah silo jagung, dan masalah transportasi menjadi perhatian utama,” jelasnya.

Dengan langkah ini, maka diharapkan produksi jagung dalam negeri tak hanya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, tapi juga bisa di eskpor ke negara lain yang membutuhkan.

“Dan bapak presiden berharap bahwa dengan ekstensifikasi, kemudian perluasan lahan baru, maka kita bisa meningkatkan produksi dan produksi ini tentu dipersiapkan sesuai dengan demand di dalam negeri dan juga di negara lain,” pungkasnya.(red)