Bos IMF Blak-blakan Terkait Potensi Terjadinya Resesi Global Tak Akan Terjadi

by
Bos IMF Blak-blakan Terkait Potensi Terjadinya Resesi Global Tak Akan Terjadi
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva yang didampingi Menteri BUMN Erick Thohir menyapa pengunjung Gedung Sarinah, Jakarta, Minggu (17/7/2022).

GEOSIAR.COM – Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva blak-blakan terkait potensi terjadinya resesi global di tengah ketidakpastian geopolitik, salah satunya akibat perang Rusia vs Ukraina.

“Kabar baiknya di baselin skenario, kami tidak [ada] ekspektasi resesi global terjadi pada 2022 atau 2023 di seluruh dunia. Namun, resesi mungkin terjadi di negara-negara seperti Rusia dan Ukraina,” ujarnya saat berkunjung ke Sarinah pada Minggu (17/7/2022).

Georgieva menilai bahwa kondisi ekonomi global saat ini menghadapi tekanan yang sangat besar akibat tingginya harga komoditas, inflasi yang terus menanjak, dan adanya risiko pembengkakan utang. Imbasnya, IMF akan kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dua pekan mendatang.

Lantas, bagaimana dengan kondisi perekonomian Indonesia? Georgieva menilai bahwa risiko terhadap perekonomian Indonesia berasal dari tekanan luar negeri, bukan dari dalam negeri.

Baca Juga3 Orang Tewas dalam Penembakan di Mal Indiana

Pasalnya, fundamental dan kinerja ekonomi Indonesia sejauh ini yang berjalan baik. Meski demikian, dia tak menampik Indonesia turut terpengaruh oleh berbagai tekanan dan gejolak yang ada, terutama tingginya inflasi yang memacu banyak bank sentral menaikkan suku bunga.

Dia menilai bahwa tingkat inflasi Indonesia terbilang masih rendah dari kondisi negara-negara lainnya, karena masih cukup dekat dengan harapan pemerintah, yakni di kisaran 4 persen.

“Kondisi itu bisa terjadi di antaranya karena bauran kebijakan fiskal dan moneter, oleh pemerintah dan Bank Indonesia,” imbuhnya.

Bukan itu saja, dia menilai Indonesia pun menuai berkah dari tingginya harga komoditas karena merupakan eksportir batu bara dan crude palm oil (CPO). Meskipun begitu, Indonesia tetap menanggung besarnya beban subsidi akibat harga minyak global yang membengkak.

“Fundamental ekonomi Indonesia ada dalam kondisi baik, sehingga mampu menjaga perekonomian tumbuh di rentang 5 persen. Kami berharap negara ini bisa menyelesaikan tahun ini dengan pertumbuhan ekonomi yang baik. Kami juga berharap pertumbuhan yang positif tahun depan,” ujar Georgieva.

Baca JugaMalaysia Bahas Pembekuan TKI Besok, Bangladesh Kirim Pekerja

(geosiar.com)