FMM G20 di Bali Memanas, Aksi Menlu Rusia Bikin Uni Eropa Meradang

by
FMM G20 di Bali Memanas, Aksi Menlu Rusia Bikin Uni Eropa Meradang
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kanan) menyambut Perwakilan Tinggi Uni Eropa urusan Luar Negeri dan Keamanan Josep Borrell dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri G20 di Nusa Dua, Bali, Jumat (8/7/2022).

GEOSIAR.COM – Pertemuan menteri luar negeri anggota negara G20 telah dilangsungkan di Bali, Jumat, 8 Juli 2022. Di tengah upaya global pulih dari pandemi Covid-19, delegasi dari masing-masing negara berupaya mencari solusi untuk penguatan multilateralisme dan tantangan global yang dihadapi akibat invasi Rusia ke Ukraina serta dampak ekonominya.

Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan, dalam Foreign Ministers’ Meeting atau FMM G20, peserta mengungkapkan keprihatinan mendalam tentang konsekuensi kemanusiaan dari perang Rusia dan Ukraina dan dampak globalnya pada pembiayaan energi serta pangan.

“Peserta menyerukan kepatuhan penuh yang konsisten terhadap piagam dan hukum internasional yang berlaku. Beberapa anggota menyatakan kecaman atas tindakan invasi,” ujar Retno dalam pernyataan pers.

Retno menambahkan, para delegasi juga menyerukan kebutuhan untuk memastikan akses yang aman dan tanpa hambatan bagi pengiriman bantuan kemanusiaan Ukraina. Selain itu partisipan juga berkomitmen untuk mengeksplorasi kolaborasi G20 lebih lanjut untuk memperkuat pangan global, ketahanan energi, termasuk dengan sistem PBB.

Saat ditanya usai menyampaikan pernyataan pers apakah ada negara G7 yang walk out, Retno hanya menyampaikan syukur. Co-Sherpa G20 Indonesia Dian Triansyah Djani memastikan tidak ada perwakilan delegasi yang keluar, termasuk Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Baca JugaElektabilitas Belum Teruji di Pemilu, Harga Tawar AHY Dinilai Terlalu Mahal untuk Capres 2024

Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Josep Borrell punya pandangan berbeda dari Indonesia. Saat dijumpai pada malam setelah pertemuan itu, Borrell mengatakan, Sergei Lavrov tidak hadir pada sebagian besar sesi sore pertemuan G20 di Bali. Dia meninggalkan ruangan setelah memberikan pandangannya.

“Lavrov bukan yang pertama dan bukan yang terakhir (menyampaikan pidatonya), yang bisa kukatakan padamu dia tidak hadir di siang hari. Dia berbicara di pagi hari, dia tidak tinggal untuk mengikuti pembicara, dia pergi,” kata Borrell.

Lavrov yang bersedia diwawancara jurnalis pada siang hari mencela negara-negara Barat karena kritik masifnya di G20. Lavrov mengatakan, forum terlalu fokus pada perang Ukraina dan Barat menyia-nyiakan kesempatan untuk mengatasi masalah ekonomi global.

“‘Agresor’, ‘penyerbu’, ‘penjajah’ – kami mendengar banyak hal hari ini,” kata Lavrov kepada wartawan.

Perang di Ukraina sudah berlangsung sejak Februari 2022. Invasi Rusia ke Ukraina itu menyebabkan negara-negara Barat marah dengan memberlakukan sanksi ekonomi. Amerika Serikat mendukung Ukraina untuk melawan Rusia dengan mengirim bantuan senjata.

Rusia dituding jadi biang kerok masalah energi, pangan, dan ekonomi setelah Ukraina diserang. Moskow menolak tuduhan negara-negara Barat tersebut.

Invasi Rusia ke Ukraina juga telah menyebabkan adanya pergesekan di forum G20. Negara-negara Barat sudah mengusulkan pada Indonesia sebagai presidensi G20 tahun ini agar tidak mengundang Presiden Vladimir Putin ke KTT Bali pada November 2022, setelah invasi Rusia ke Ukraina. Sebagai gantinya, Indonesia diminta mengundang Ukraina.

Terkait dengan fragmentasi di G20 ini, Retno mengakui bahwa masalah substansi yang dibahas memang menjumpai banyak tantangan. Tapi semuanya masih ada di jalur yang tepat.

“Kita akan terus mencoba konsultasi dan komunikasi agar apa yang ingin kita capai selama presidensi G20 ini dapat tercapai,” kata Retno.

Baca JugaLucinta Luna Lakukan Operasi Potong Leher untuk Hilangkan Jakun, Operasi Apa Itu?

(geosiar.com)