Barat Kewalahan Atasi Inflasi, Vladimir Putin Tak Terima Invasi Rusia Dituding Jadi Sebab: Itu Ulah Negara G7

by
Barat Kewalahan Atasi Inflasi, Vladimir Putin Tak Terima Invasi Rusia Dituding Jadi Sebab: Itu Ulah Negara G7
Presiden Rusia, Vladimir Putin. /Sputnik/Mikhail Metzel/Kremlin via Reuters

GEOSIAR.COM – Presiden Rusia, Vladimir Putin tak terima invasi Rusia ke Ukraina dituding jadi sebab terjadinya inflasi global.

Pasalnya, di tengah negara barat yang kewalahan mengatasi kenaikan inflasi, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menyalahkan kesulitan ekonomi di negaranya dan Eropa kepada Vladimir Putin.

Dia mengklaim bahwa inflasi yang terjadi saat ini adalah hasil dari apa yang disebut sebagai ‘kenaikan harga Putin’.

Menanggapi hal itu, Vladimir Putin pun menyatakan rasa tak terimanya dan membalikan tudingan Joe Biden.

Menurutnya, akar dari meroketnya inflasi yang diamati di seluruh dunia terletak pada tahun-tahun “tindakan tidak bertanggung jawab” oleh negara-negara G7, bukan dalam invasi Rusia ke Ukraina.

Negara-negara anggota G7 terdiri dari Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat. Uni Eropa juga diwakili di G7.

“Kenaikan tajam, inflasi, tidak terjadi kemarin,” ucap Vladimir Putin, Jumat, 24 Juni 2022.

“Itu adalah hasil dari kebijakan ekonomi makro yang tidak bertanggung jawab dari negara-negara G7 selama bertahun-tahun ,” katanya menambahkan.

Ketika negara-negara barat terus menekan Rusia atas invasi ke Ukraina, mereka mengalami lonjakan inflasi.

Baca JugaPria Paruh Baya Tewas Diduga Diterkam Buaya, Sempat Hilang Terseret ke Sungai Selama Tiga Jam

Di Amerika Serikat, inflasi telah melampaui 8,6 persen, sementara inflasi tahun ke tahun Inggris dilaporkan 9,1 persen, dan di zona euro 8,1 persen.

Akan tetapi, Barat terus mengutuk operasi militer Rusia sebagai “invasi”, dengan Moskow menggarisbawahi bahwa operasi itu diluncurkan sebagai tanggapan atas seruan bantuan dari rakyat Donbass dan memiliki tujuan untuk “demiliterisasi dan de-Nazifying Ukraina”.

Menurut Vladimir Putin, perdagangan global “terperosok dalam perselisihan”, dengan sistem keuangan dunia yang tertatih-tatih dan rantai pasokan terganggu.

Mengatasi kekhawatiran seputar pasokan biji-bijian Ukraina, dia mengatakan bahwa kekhawatiran ini sedang didorong secara artifisial.

Selain itu, Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia tidak menimbulkan hambatan apapun terhadap biji-bijian yang diangkut dari Ukraina.

“Kami tentu siap untuk terus memenuhi dengan itikad baik semua kewajiban kontraktual kami untuk penyediaan produk pertanian, pupuk, pembawa energi, dan produk penting lainnya,” tuturnya.

Selain itu, Vladimir Putin mencatat bahwa beberapa negara berusaha untuk mengganti arsitektur keamanan global yang berpusat di sekitar PBB dengan apa yang disebut “ketertiban berdasarkan aturan”.

“Aturan apa? Siapa yang membuat aturan itu?,” ujarnya, dikutip Geosiar.com dari Sputnik News, Sabtu, 25 Juni 2022.

Mengingat pandangan bersama negara-negara BRICS tentang banyak masalah, format BRICS+ “berguna” dengan para pesertanya berusaha untuk membangun “tatanan multipolar yang benar-benar demokratis” di dunia.

KTT BRICS selama dua hari yang diselenggarakan oleh China dimulai pada hari Kamis, 23 Juni 2022 melalui konferensi video.

KTT ini dihadiri oleh para kepala negara-negara pengelompokan, dengan Vladimir Putin bergabung dengan Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Brasil Jair Bolsonaro, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, dan Presiden Republik Rakyat China Xi Jinping.

Pada hari Jumat, 24 Juni 2022, Presiden Argentina Alberto Fernández meminta agar negaranya diberikan keanggotaan BRICS.

Dia menggarisbawahi bahwa Buenos Aires bercita-cita untuk menjadi bagian dari kelompok yang “sudah mewakili 42 persen dari populasi dunia dan 24 persen dari produk kotor global”.

Baca JugaKrisis Ekonomi di Sri Lanka, Mengharuskan Warga Antri Bahan Bakar Berjam-jam

(geosiar.com)