Jelang Sebulan Menginvasi Ukraina, Berikut Daftar Kerugian Rusia

by
Jelang Sebulan Menginvasi Ukraina, Berikut Daftar Kerugian Rusia
Terlepas dari gempurannya terus-menerus, pasukan Rusia disebut mengalami kerugian besar menjelang sebulan menginvasi Ukraina. (Foto: REUTERS/ALEXANDER ERMOCHENKO)

GEOSIAR.COM – Invasi Rusia ke Ukraina telah berlangsung selama 27 hari. Namun, Rusia mengakui belum juga mencapai tujuannya di Ukraina menjelang sebulan gempurannya ke negara eks Uni Soviet itu.

Juru bicara Presiden Vladimir Putin, Dmitry Peskov, mengatakan sang presiden mengakui belum mencapai tujuan utama menginvasi Ukraina.

“Ya, pertama-tama, belum. Dia belum mencapainya,” kata Peskov saat ditanyai apa yang Presiden Putin anggap telah dicapai sejauh ini di Ukraina dalam wawancara khusus dengan CNN.

Meski begitu, Peskov enggan mengakui bahwa pasukan Rusia kelimpungan menghadapi perlawanan sengit tentara Ukraina dan mulai kehilangan arah sebagaimana analisis para pengamat perang di lapangan.

Peskov juga menegaskan “operasi militer” Rusia di Ukraina berjalan ketat “sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.”

Meski begitu, pengamat perang menilai Rusia di saat bersamaan juga mengalami “kehilangan” yang cukup besar.

Berikut daftar kerugian yang dialami Rusia berdasarkan rangkuman CNNIndonesia.com selama invasi berlangsung:

Ribuan Tentara hingga Jenderal Gugur

Sejauh ini, Ukraina mengklaim berhasil menewaskan lima jenderal Rusia.

Beberapa pengamat militer menuturkan peristiwa jenderal yang terbunuh selama perang adalah sesuatu yang jarang terjadi. Ini bisa mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang salah dalam pasukan Rusia sehingga bisa mengakibatkan beberapa jenderalnya yang turun tangan gugur di medan perang.

Sementara itu, pada 2 Maret lalu, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan 498 personel mereka tewas. Namun, sejauh ini belum ada perkembangan terbaru terkait kerugian sumber daya manusia dari pasukan Rusia di Ukraina.

Namun, awal pekan ini, salah satu media Rusia yang pro-pemerintah, tabloid Komsomolskaya, merilis data terbaru jumlah kematian tentara Moskow di Ukraina, yang mencapai 9.861 personel.

Baca JugaPersib Bandung Bakal Turunkan Pemain Muda Lawan Persik Kediri

“Berdasarkan Kementerian Pertahanan Rusia, selama operasi khusus di Ukraina, Angkatan Bersenjata Rusia kehilangan 9.861 personel dan 16.153 mengalami luka-luka,” demikian laporan tabloid itu dikutip CNN, Rabu (23/3).

Tak lama setelah rilis, mereka menghapus laporan tersebut dan mengklaim mengalami peretasan dan pemalsuan data.

“Akses ke administrator telah diretas dan selipan (data palsu) dibuat menjadi publikasi,” klaim mereka.

Laporan kematian personel Rusia dari Komsomolskaya tak berbeda dengan perkiraan Amerika Serikat yang menyebut hingga 10 ribu tentara Moskow sudah tewas di Ukraina.

Adapun Ukraina memiliki data tersendiri yang angkanya jauh lebih tinggi. Menurut mereka tentara Rusia yang tewas sudah mencapai 15.300.

Alutsista

Selain soal kerugian di sektor sumber daya manusia, Rusia juga mengalami kerugian dari persenjataan militer mereka.
Menurut Kemenhan Ukraina per Selasa (22/2), Rusia sudah kehilangan 99 pesawat, 123 helikopter, 509 tank, 252 artiler, 1.556 kendaraan lapis baja, 3 kapal, dan 1.000 kendaraan militer lainnya.

Lalu mereka juga kehilangan 70 tangki bahan bakar, 35 dUAV, 45 pesawat anti perang, 15 peralatan khusus, dan 80 peluncur roket.

Kremlin sejauh ini kerap menghindari pertanyaan soal perkembangan pergerakan militer Rusia di Ukraina.

Ekonomi

Di bidang ekonomi Rusia juga mengalami kerugian sebab sejak Putin melancarkan invasi banyak negara yang sudah menjatuhkan sanksi dan embargo terhadap Negeri Beruang Merah.

Uni Eropa bahkan telah menjatuhkan empat paket sanksi bagi Rusia. Presiden Amerika Serikat Joe Biden pun sebentar lagi mengumumkan sanksi baru bagi Rusia.

Belum lagi sanksi-sanksi independen yang dijatuhkan negara lainnya seperti Jepang hingga Singapura sebagai bentuk kecaman atas agresi Rusia ke Ukraina.

Negara Barat bahkan sepakat menendang bank-bank Rusia dari sistem keuangan Society Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT).

SWIFT merupakansistem yang menghubungkan ribuan lembaga keuangan dunia, sehingga bank dapat mengirim dan menerima pesan transaksi dengan cepat dan aman. Tak ayal, transaksi keuangan saat ini dapat dilakukan antar negara bahkan antar benua.

Dengan begitu, pemblokiran ini pun membatasi akses Rusia dari pasar keuangan global. Sanksi ini dinilai jadi yang terberat dari beragam sanksi ekonomi untuk Rusia.

Perusahaan jasa keuangan global seperti Visa dan Mastercard juga telah mendepak bank-bank Rusia dari layanannya.

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) juga disebut akan mencabut Rusia dari daftar negara paling disukai atau most favor nations. Imbasnya, tarif impor yang lebih tinggi akan dikenakan terhadap Rusia, seperti dikutip Reuters.

Berbagai brand global juga ramai-ramai menutup bisnis dan operasi mereka di Rusia.

Sebut saja Apple Inc, McDonald’s, IKEA, H&M, yang merupakan segelintir brand global yang memutuskan menghentikan operasi mereka di Rusia sebagai bentuk protes invasi ke Ukraina.

Baca JugaPelindo Tanjungpinang Siap Layani Wisman di Pelabuhan Sri Bintan Pura

Akibat isolasi yang dihadapi Rusia dari sistem keuangan global, pemerintahan Presiden Vladimir Putin terancam gagal bayar utang. Dilansir The Guardian, Rusia memiliki dua tenggat waktu pembayar bunga utang yang jatuh tempo pada Rabu (16/3).

Rusia tidak dapat mengakses hampir semua cadangan emas dan valuta asingnya senilai US$640 miliar.

Kerugian Ukraina

Tak hanya Rusia, Ukraina pun juga mengalami kerugian yang cukup besar dari pertempuran ini.

Menurut data per 13 Maret lalu, setidaknya 1.300 tentara Ukraina tewas selama konflik berlangsung. Sementara itu, menurut Rusia 2.870 personel Ukraina telah gugur dan terluka per 2 Maret lalu.

Namun, negara Eropa Timur ini mendapat banyak dukungan dari berbagai negara baik pemerintah maupun sipilnya. Seperti Amerika Serikat dan NATO yang terus memberi bantuan perangkat militer.

Baru-baru ini, bahkan ada kebun binatang yang ikut berdonasi untuk Ukraina, senilai US$10 ribu atau 143 juta.

Invasi Rusia ke Ukraina juga membuat banyak korban sipil. Menurut Perserikatan bangsa-Bangsa (PBB) tercatat 953 warga sipil, termasuk 78 anak-anak, meninggal dunia sejak invasi Rusia berlangsung.

Sementara itu, ada 1.557 warga Ukraina dilaporkan terluka akibat gempuran Rusia.

(geosiar.com)

Baca Juga Didampingi Gubernur Kepri, Ketum JMSI Bacakan Deklarasi Natuna