Connect with us

Sumut

Uskup Agung Medan dan 2 Pastor Pimpin Misa Arwah 40 Hari, Wafatnya Opung Ode Binsar Sitompul

Published

on

Uskup Agung Medan Mgr Kornelus Sipayung OFMCap dan Polonia Lumbantobing mengapit foto Binsar Sitompul, Minggu (17/10), berkidung saat Misa Arwah 40 Hari Wafatnya personel Group Parisma 71 bergelar Opung Ode Doli yang dilakukan hibryd. Terlihat sebagian anak, pahompu, noni nono. ( Foto/dok )

Medan, Geosiar com,- Keluarga besar Binsar Sitompul, Minggu (17/10), mengadakan Misa Arwah 40 Hari Wafatnya personel Group Parisma 71 bergelar Opung Ode Doli. Ibadah dipimpin Uskup Agung Medan Mgr Kornelus Sipayung OFMCap itu dilakukan hibryd.


Di lokasi Jalan Bromo Medan, dihadiri 2 pastor dan puluhan suster dari sejumlah kongregasi . Di kanal YouTube Altur Manullang, Facebook Hendrik dan Conrad Naibaho plus zoom meeting, diikuti massa.
Biduan kelahiran Sibaganding Pahae, Tapanuli Utara pada 15 April 1939 berpulang pada Rabu, 8 September di Medan. Saat pemakaman, karena diatur protokol kesehatan, massa dibatasi.

Bahkan keturunan pria berkharisma itu, hanya empat orang yang diizinkan. Di antaranya Ir Paskalis Sitompul/Donna Siagian SE Msi. “Jadi, saya ini orang yang ‘dianaktirikan’ karena tidak diizinkan-Nya, mengantar orang yang paling saya kasihi dan hormati,” protes Hendrik Sitompul, penjelasan itu disampaikan kepada wartawan di Medan, Senin (1/11/2021)

Padahal, lanjut Hendrik mantan Anggota DPRD Medan (2014 – 2019) itu, banyak rencana yang hendak dilakukan, seperti harapan Binsar Sitompul ketika masih hidup. “Setelah selesai misa arwah itu, saya sadar… orangtua saya sudah bersama-Nya. Selama ini saya merasa, papa saya masih ada di rumahnya,” ujarnya.

Setiap kata yang diutarakan putra sulung almarhum tersebut, penuh tekanan. Terkesan emosional. Berselang beberapa detik, tangisnya pun pecah. Sang ibu, Polonia Br Lumbantobing, justru terlihat tegar. Padahal, perempuan kelahiran 27 Desember 1941 di Doloksanggul dari pasangan K Lumbantobing – Martaulina Pasaribu, itu ‘ditipu’ oleh anak-anak soal kematian suaminya.

“Kami menyimpan informasi itu sampai 8 hari. Kami tak berani menyampaikan karena khawatir mengguncang jiwanya. Pastor Seles(tinus) Manalu OFMCap dari Naga Huta yang kami minta menyampaikannya. Maaf, Ma… anak-anakmu berbohong,” tambah Hendrik, yang juga Alumni Lemhannas PPRA 52.

Ps Selestinus Manalu OFMCap memang memiliki kedekatan erat dengan Ny Binsar Sitompul. YouTuber yang berisi kidung-kidung biarawan itu sangat sejuk dan menjadi guru spiritual Polonia Br Lumbantobing.

Singkat cerita, kabar duka disampaikan. Tetapi karena situasi Covid-19, masih belum memungkinkan untuk berkumpul. Padahal, sejak kematian anak-anak, pahompu, nini-nono almarhum dari seluruh penjuru, sudah berkumpul di Medan.

Pekan kedua kematian, keluarga dalam jumlah kecil mengadakan ibadah di makam Binsar Sitompul. Tetapi, Hendrik, yang juga Ketua Gabungan Perusahaan Eksport Indonesia (GPEI) Sumut tetap belum yakin orangtuanya wafat.

“Bagi saya orang Batak, kematian itu baru ‘sah’ jika pengebumiannya diiringi doa dan adat. Sekarang ini saya baru yakin, papa saya sudah bersama-Nya,” tambah Hendrik, yang juga Bendahara Ikatan Alumni Lemhannas (IKAL) Sumut.

Isak-tangis pun pecah karena keturunan almarhum saling berangkulan. Emosional. Itu karena tiba-tiba istri almarhum mangandung sehubungan pihak tulangnya muncul di depan pintu. Padahal kehadirannya untuk memberi penghiburan.
Untuk menenangkan, sejumlah kidung dilantunkan. Mulai lagu religi favorit almarhum dan keluarga hingga lagu etnik yang rutin dibawakan Binsar Sitompul kala masih hidup. Satu di antaranya adalah “Tung So Hulohas Ho Marsak” ciptaan Tigor Gibsy Marpaung.

Bagi Polonia Br Lumbantobing, lagu tersebut simbol cinta sang suami padanya. Ketika emosional terkendali, ritual dilakukan. Ucapan belasungkawa dan penghiburan silih berganti tapi air mata tetap bercucuran seperti hujan deras yang mengguyur rumah duka. “Hujan ini berkah buat kami. Selama ini, Medan seperti terpanggang karena Matahari cerah dan suhu mendekat 40 derajat. Doa-doa yang kemi terima menjadi penyejuk, seperti hujan saat ini,” ujar Hendrik Sitompul dan berharap kiranya kidung terus dilantunkan serta doa untuk orangtuanya tak henti didaraskan, kata Hendrik, yang juga Wakil Ketua KADIN Sumut itu, sambil menunjukkan Video Misa Arwah 40 hari kepada wartawan.

Keluarga terberkati tersebut dikaruniai 20 cucu dan 4 cicit berasal dari buah hatinya: Berta br Sitompul/S Lubis, Drs Hendrik H Sitompul MM/Ir Rospita T Br Marpaung MM si teknokrat yang jadi ekonom, Ir Paskalis Sitompul/Donna Siagian SE Msi, Maria Rynelda br Sitompul SE/A Saragih SE, Yenita V br Sitompul AMD/S Manulang SE MSi, Daniel Sitompul/J Br Manullang, Andriani br Sitompul/TMA Panggabean. (rel/Red)