Connect with us

Nasional

Polisi Temukan Dugaan Percaloan Kremasi

Published

on

Foto ilustrasi kremasi. (Foto/internet)


Jakarta, Geosiar.com, — Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat telah memeriksa tujuh orang saksi terkait dugaan kartel kremasi.
“Sampai saat ini kami telah memanggil sebanyak tujuh orang saksi terkait kasus dugaan praktik kartel kremasi yang sempat viral di Jakarta Barat ” kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Ady Wibowo dalam keterangannya, Sabtu (24/7).


Ketujuh saksi tersebut yaitu dua orang pengurus Yayasan Mulia di Jakbar, satu orang pengelola krematorium Mulia di Karawang, seorang pembuat pesan berantai soal kartel kremasi, serta tiga saksi terkait lainnya.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat Kompol Joko Dwi Harsono menuturkan dari hasil pemeriksaan saksi pihaknya justru menemukan soal dugaan praktik percaloan untuk kremasi jenazah.

“Masing-masing berdiri sendiri (pribadi per orang) tidak terorganisir seperti kartel, mereka modusnya menaikkan harga dengan motif memperoleh keuntungan,” tutur Joko.

Lebih lanjut, Joko mengimbau kepada masyarakat yang menemukan praktik percaloan kremasi itu bisa segera melapor.


Laporan, kata Joko, bisa disampaikan lewat call center piket Sat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat melalui nomor 08118420033.

“Jangan ragu untuk segera melaporkan karena informasi sekecil apapun dapat membantu kami dalam menciptakan Jakarta Barat yang aman dan kondusif,” ujarnya.

Diketahui, isu kartel kremasi ini bermula dari beredarnya sebuah pesan singkat berisi pengakuan seorang warga.

Dalam pesan berantai tersebut, ia mengaku dipatok harga tinggi untuk melakukan proses kremasi terhadap keluarganya yang meninggal karena terpapar Covid-19.

Menyikapi isu ini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengimbau kepada pengelola tempat kremasi jenazah untuk tidak mencari keuntungan di masa sulit akibat pandemi Covid-19.

Tentukan harga tarif yang wajar dan terjangkau bagi kepentingan masyarakat banyak. Jadi jangan ada lagi yang mematok harga tidak wajar atau berlebihan,” kata Ahmad Riza Patria di RPH Dharma Jaya, Jakarta, Selasa (20/7).(cnn/red)