Connect with us

Dunia

Indonesia Masuk Extremely High Risk Covid-19 Di Hongkong

Published

on

Geosiar.com, – Pemerintah Hong Kong menetapkan Indonesia menjadi negara yang masuk pada kategori A1 (extremely high risk) dalam kasus penyebaran Covid-19 mulai tanggal 25 Juni 2021.

Mengutip keterangan resmi dari laman Kementerian Luar Negeri yang dirilis pada Rabu 23 Juni 2021, pengumuman tersebut disampaikan oleh Pemerintah Hong Kong.

Masuk dalam kategori A1, maka semua penumpang penerbangan dari Indonesia tidak diperbolehkan memasuki Hong Kong. Maskapai Garuda Indonesia sudah menyetop penerbangan ke Hong Kong.

Kebijakan ini diambil oleh Pemerintah Hong Kong karena terdapat peningkatan jumlah imported cases Covid-19 dari Indonesia. Sebelumnya pemerintah Hong Kong juga telah menetapkan Filipina, India, Nepal, dan Pakistan yang telah masuk kategori A1 terlebih dahulu sebelum Indonesia


Dalam kategori A1 ini, semua penumpang penerbangan Indonesia tidak diperbolehkan memasuki Hong Kong. Ini bagian dari respons pemerintah Hong Kong atas ditemukannya empat penumpang yang positif COVID-19 pada penerbangan Garuda Indonesia GA876 Minggu 20 Juni 2021 lalu.

Atas temuan ini, otoritas pemerintah Hong Kong langsung memberlakukan pelarangan penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta mulai tanggal 22 Juni hingga 5 Juli mendatang

Hong Kong sendiri sejak Selasa kemarin, 22 Juni 2021, menemukan tujuh kasus positif COVID-19 impor. Dari tujuh kasus ini, 6 diantaranya adalah perempuan, sedangkan satunya merupakan seorang pria berusia 51 tahun yang riwayat perjalananya belum jelas.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Luar Negeri, bagi pekerja migran Indonesia (PMI) yang terdampak kebijakan baru ini, disarankan untuk segera menghubungi majikan dan agen masing-masing. Konsulat Jenderal Republik Indonesia juga akan memastikan pemenuhan hak-hak PMI sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan terus memantau perkembangan kebijakan ini.

Kebijakan dalam menetapkan Indonesia menjadi negara kategori A1 (extremely high risk) untuk kasus Covid-19 ini bersifat sementara dan akan dikaji ulang secara periodik sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang kedepannya.(tmp/red)