Connect with us

Travel

Ketua KADIN Medan Bawa Dubes Belarus Berkunjung Ke Rumah Bersejarah Di Kota Medan Tjong A Fie

Published

on

Cucu Tjong A Fie Buk Mini foto bersama Dubes Belarus, Ketua KADIN Medan Arman Chandra dan pengurus KADIN Medan lainnya, di lantai 2 Rumah Tjong A Fie. (Foto/ist)

Medan, Geosiar.com,- Ketua KADIN Medan Arman Chandra bersama Pengurus KADIN Medan lainnya membawa Dubes Belarus Mr Valery Kolesnik berkunjung ke rumah yang punya nilai sejarah di Kota Medan yakni Tjong A Fie. Rumah dua lantai di Jalan Ahmad Yani No 105 di Kesawan, Medan, Sumatra Utara, yang dibangun oleh Tjong A Fie (1860 – 1921), pedagang Hakka yang memiliki banyak tanah perkebunan di Medan.

Duta Besar Belarus bersama Ketua KADIN Medan Arman Chandra serta sejumlah pengurus KADIN Medan lainnya, disambut salah satu cucu Tjong A Fie Buk Mini, Senin (7/6/2021) Seluruh rombongan diajak berkeliling dari lantai satu hingga lantai 2 rumah bersejarah itu. Buk mimi menjelaskan satu persatu peninggalan Tjong A Fie.

Ketua KADIN Medan bersama Pengurus lainnya yang tampak hadir Wakil Ketua Organisasi, Kelembagaan dan Keanggotaan M. Iqbal Sinaga, Wakil Ketua bidang Inkraf, Telematika, Kerjasama Daerah dan Luar Negeri Abdul Razak Nasution, Wakil Ketua bidang Perhotelan, Restorant dan Kuliner Feri Dika WE, Wakil Ketua Bidang Sosial, Pendidikan dan Kesehatan Inggit Luimenta, Wakil Ketua bidang Investasi, Perdagangan dan Perindustrian Hafiz Iskandar Batubara, Komite Tetap KADIN Medan Joey G., M. Rahman, Fakhrizal, Sahala Siregar, Condrad Naibaho, Albert Masli dan beberapa pengusaha lokal Kota Medan. Kunjungan dilaksanakan dengan protokol kesehatan.

Foto bersama di lantai 1 Rumah Tjong A Fie

Untuk diketahui, Tjong A Fie adalah perantau dari Provinsi Guangdong. Perjalanannya lalu berkahir di Medan. Dan kini, rumah peningalannya itu menjadi salah satu bangunan lawas yang kerap dikunjungi pelancong. Pintu gerbang rumah itu terbuka untuk kunjungan turis antara pukul 09.00-17.00.

Gerbang itu dilengkapi atap kecil khas rumah di Cina. Dengan tiket masuk seharga Rp 35 ribu per orang, turis pun leluasa mejelajah kediaman Tjong A Fie yang berdiri sejak 1900 ini.


Di lantai dua, dinding-dinding bagian kanan dipenuhi foto-foto Tjong A Fie di masa lalu. Di sana terlihat, antara lain, saat dia bersama ketiga istri dan anak-anaknya. Ada pula fotonya dengan para penguasa Belanda.

Foto bangunan Bank Kesawan yang didirikannya serta mata uang pada masa itu pun terpampang. Silsilah keluarga juga terpapar. Pelajaran sejarah tentang kota Medan pun dimulai.

Dari ruang ke ruang, seluruh rombongan terus menyimak penjelasan Buk Mini setiap yang terpasang di dindingnya. Ada juga mebel yang ditata rapi. Hingga sampailah di ruang terbuka di bagian tengah, dan dari sana bisa melihat lantai dua dan sisi belakang dari rumah.

Buk Mini, cucu Tjong A Fie yang memandu rombongan ternyata tinggal di rumah itu persisnya di bagian belakang atas lantai 2. Namun bagian tersebut tidak bisa dikunjungi untuk umum. Menurut informasi, di lantai 2 ada ruangan yang luas, disitu Tjong A Fie mengadakan pesta, termasuk pesta dansa dengan orang Belanda.

Foto bersama di labtai 2 tempat biasa Tjong A Fie mengadakan pesta, termasuk pesta dansa dengan Belanda. (Foto/ist)

Semua ruang tertata rapi dan terawat. Tidak semuanya khas Cina, beberapa bagian dimunculkan dengan gaya arsitektur Melayu atau Eropa. Ada empat ruang tamu di lantai dua, yakni ruang khusus untuk menerima Sultan Deli, ada juga ruang untuk tamu Belanda, Tionghoa, dan satu khusus untuk tamu umum.

Sebetulnya di Cina, Tjong A Fie sudah menikah. Kemudian ketika di Sumatera, ia menikah dengan perempuan dari Penang, Malaysia dan mendapatkan tiga anak, namun istrinya tidak berumur panjang.

Terakhir, Tjong A Fie menikah dengan perempuan asal Binjai, Sumatera Utara dan mendapat lima anak.

Tjong A Fie datang ke pelabuhan Deli kala berusia 18 tahun dengan bekal yang sangat minim. Ia merantau ke Hindia Belanda mengikuti kakaknya yang lebih dulu pindah ke Sumatera.

Ketika tiba di pelabuhan, ia bekerja serabutan. Mulai pelayan toko kelontongan kemudian bekerja di perkebunan. Kerja keras, pergaulan yang luas dan kebaikannya membuat ia menonjol.

Akhirnya, suatu saat ia berhasil memiliki perkebunan luas. Tjong A Fie adalah orang Tionghoa pertama yang memiliki lahan semacam itu. Lalu dia mengembangkan usaha perkebunannya hingga ke Sumatera Barat.

Ia menjadi tokoh multikultural yang bisa merangkul semua kalangan. Dikenal dekat dengan kalangan Melayu, Arab, India dan Belanda, selain orang Tionghoa. Tjong A Fie juga dikenal dermawan. (red)