Connect with us

Ekonomi

BC & Karantina Deklarasi Kolaborasi Peningkatan Ekspor, GPEI Sumut : Hulu Harus Dibenahi

Published

on

Diabadikan usai penandatanganan Deklarasi Kolaborasi Peningkatan Ekspor Daerah di kantor Bea Cukai Bandara Kualanamu Deli Serdang,(Foto/geosiar)

Kualanamu, Geosiar.com,- Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sumut Drs Hendrik Sitompul MM menghadiri acara Deklarasi Kolaborasi Peningkatan Ekspor Daerah di kantor Bea Cukai Bandara Kualanamu Deli Serdang, Selasa (27/4/2021). Turut hadir pengurus GPEI Sumut diantaranya Wakil Ketua GPEI Sumut Bidang Hubungan Internasional dan Perdagangan Paskalis Sitompul, Wakil Ketua Bidang Infokom & Humas Condrad Naibaho dan Wakil Ketua Bidang UMKM Job Purba.

Pada pertemuan yang dihadiri sejumlah stakeholder di Kualanamu diantaranya Bea Cukai, Karantina, Otoritas Bandara Wilayah II Medan, Disperindagsu, Dinas Pertanian, Dinas Kelautan dan Perikanan, PT Angkasa Pura II Bandara Internasional Kuala Namu, PT Pos Indonesia, PT LPEI Sumut, PT Garuda Indonesia, Dinas Peternakan Sumut, UMKM dan DHL itu, membahas dalam upaya peningkatan ekspor melalui bandara kuala namu.

Ketua GPEI Sumut Drs Hendrik Sitompul saat menyampaikan pendapatnya terkait peningkatan ekspor. (Foto/geosiar)

Dalam kesempatan itu, Ketua GPEI Sumut Hendrik Sitompul menjelaskan, berbicara terkait ekspor tentu soal komuditi. Menciptakan pelaku ekspor tentu ada parameternya apa.? “Berbicara peningkatan ekspor harus diawali dari hulu, tidak hanya hilir, kita harus jemput bola, apa permasalah di hulu,” kata Hendrik saat diberi kesempatan berkomentar pada pertemuan itu.

GPEI Sumut sendiri lanjut Hendrik, sudah punya target akan melahirkan 2 ribu eksportir baru dalam waktu berkisar 2 tahun kedepan. “Target untuk mencapai eksportir baru itu, rencananya dengan membuka sekolah ekspor,” tegas Hendrik.

Sekolah ekspor atau Coursus Exim, kata Hendrik, akan melibatkan para stakeholder sebagai mentor dan langsung melakukan study ke lapangan yang dipandu GPEI Sumut. “Hasil investigasi di lapangan, ada 70 persen pemilik barang tidak mengetahui proses ekspor,” kata Hendrik.

Untuk diketahui lanjut Hendrik, pelaku ekspor itu ada 3 jenis, pemilik barang, pengumpul dan under name. Dari ketiga itu kata Hendrik, mana yang harus dipilih. “Jika situasi ini dibiarkan, bisa diprediksi 5 tahun kedepan ekspor stagnan, tidak ada peningkatan,” tegas Hendrik.

Sementara itu Ibrahim, perwakilan dari Bank Indonesia mengatakan, akan mendukung peningkatan ekspor, serta membantu dari sisi permodalan. Namun diakui typikal UMKM yang punya kelas berbeda. Ada 4 kelompok, UMKM yang potensial, UMKM sukses dan digital.

“Tapi, gimana UMKM bisa lakukan ekspor, saat mengajukan modal pinjaman dana tidak lengkap data, tentu yang kita utamakan yang sudah anggota nasabah bank,” kata Ibrahim.

Karantina Kelas II, I Gede menjelaskan, pada tahun 2019 ekspor mencapai Rp 4 triliun, tahun 2020 menurun Rp 3, 2 triliun, sementara tahun 2021 ditargetkan menjadi, 3,9 triliun. Dari unggulan sarang walet, 19 April – 26 April, Rp 128 miliar, namun ada peningkatan sudah mencapai Rp 2,1 triliun sejak triwulan Jan – Maret, dari 4 perusahan tahun 2021 diperkirakan sudah mencapai Rp 8 triliun.

Sebelumnya, Bea Cukai Kualanamu Elfi Haris menjelaskan, kondisi ekspor tahun 2019, 7.000 ton, tahun 2020 turun 3.000 ton, walau terjadi penurun namun devisa meningkat Rp 13 miliar dolar naik 100%. Namun lanjut Elfi, tahun 2021 diharapkan semua naik, target lebih dari tahun 2019.

Acara dirangkai dengan penandatangan Deklarasi Kolaborasi peningkatan ekspor daerah melalui bandara kuala namu. Stakholder yang ada di bandara kuala namu, sejumlah dinas terkait, GPEI Sumut dan UMKM ikut mendatangani deklarasi kolaborasi itu. ( red )