Connect with us

Ekonomi

Disperindag Sumut Bersama GPEI Sumut Audiensi Ke Surabaya, Disperindag Jatim Akui Tak Dapat PAD dari Ekspor

Published

on

Ketua GPEI Sumut Drs Hendrik Sitompul MM, Bendahara GPEI Sumut Delpius Ginting, Wakil Ketua GPEI Sumut Bidang Humas dan Publikasi Condrad Naibaho, Wakil Ketua Bidang UMKM Job Purba dan Staff Ode. Diabadikan saat tiba di Disperindag Jatim bersama Kabid Hubungan Internasional dan Perdagangan Parlindungan bersama sejumlah staff.(Foto/ist)

Surabaya, Geosiar.com,- Dalam upaya untuk meningkatkan Ekspor di Sumut, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumutl bersama Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sumut mengadakan audiensi ke Disperindag Jawa Timur Surabaya, Senin (12/4/2021). Hal itu dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan ekspor di Sumut.

Kadisperindag Jawa Timur melalui Kabid hubungan internasional dan perdagangan Disperindag Jawa Timur Edi Wiyono dan pengurus GPEI Jatim yang dipimpin Ketua Isdarmawan Asrikan, Wakil Ketua bidang Perdagangan Luar Negeri Ayu Sri Rahayu, Somin Rianto Bidang ke Pabeanan, Hari Bidang Perikanan dan pengurus GPEI Jatim lainnya, menerima rombongan Disperindag Sumut dan GPEI Sumut di aula Disperindag Jawa Timur. Sementara pengurus GPEI Sumut yang ikut audiensi diantaranya, Ketua GPEI Sumut Drs Hendrik Sitompul MM, Bendahara GPEI Sumut Delpius Ginting, Wakil Ketua GPEI Sumut Bidang Humas dan Publikasi Condrad Naibaho, Wakil Ketua Bidang UMKM Job Purba dan Staff Ode. Kadis Disperindag Sumut, yang diwakili Kabid Hubungan Internasional dan Perdagangan Parlindungan bersama sejumlah staff.

Audiensi yang diakui untuk pertama kali itu, Ketua GPEI Sumut Drs Hendrik Sitompul MM menjelaskan, bahwa kondisi ekspor di Sumut untuk tahun 2020 memang mengalami kenaikan, namun tidak begitu signifikan. “Kenaikan ekspor di Sumut, ada tapi karena adanya penundaan, jadi tidak signifikan,” kata Hendrik.

Lebih jauh kata Hendrik, bisa dipastikan ekspor di Sumut akan stagnan jika tidak dilakukan jemput bola. “Bicara soal ekspor, harus dipikirkan hulu dan hilir,” tegas Hendrik.

Upaya untuk mendapatkan dukungan peningkatan ekspor, lanjut Hendrik, GPEI Sumut telah melakukan kunjungan ke sejumlah stakeholder yang ada di Belawan Sumuy. “Selain kunjungan kesemua stakeholder yang ada di Belawan, kami juga sudah melakukan investigasi keberbagai instansi dan pelaku ekspor,” tegas Hendrik.

Selain itu, Hendrik juga menyampaikan terkait Ekspor, Kepala Daerah di Sumut mengaku tidak mendapatkan cash back atau PAD. Hal itu menambah kurangnya dukungan untuk peningkatan ekspor. “Hal ini juga menjadi catatan bagi kita, apa ini jug terjadi di Jatim,” tanya Hendrik.

Kadis Disperindag Jatim, melalui Kabid Hubungan Internasional dan Perdagangan Jatim Edi Wiyono mengakui, mengalami hal yang sama. “Kewenangan ekspor dan impor itu ada di pusat, dikementrian perdagangan. Jadi kami tidak mendapatkan apa apa untuk PAD, jadi sama Sumut dengan Jatim,” kata Edi

Ketua GPEI Sumut Drs Hendrik Sitompul MM, Bendahara GPEI Sumut Delpius Ginting, Wakil Ketua GPEI Sumut Bidang Humas dan Publikasi Condrad Naibaho, Wakil Ketua Bidang UMKM Job Purba dan Staff Ode. Diabadikan bersama Kadus Disperindag Jatim yang diwakili Edi S, Ketua GPEI Jatim serta pengurus lainnya bersama Kabid Disperindag Sumut Hubungan Internasional dan Perdagangan Parlindungan bersama sejumlah staff.(Foto/ist)

Sekolah Ekspor

Pada pertemuan itu, Ketua GPEI Sumut Hendrik Sitompul menjelaskan terkait sekolah ekspor dalam upaya untuk meningkatkan ekspor di Sumut. “Hasil survey Kami, berkisar 75% tidak ngerti soal ekspor,” tegas Hendrik.

Lebih jauh kata Hendrik, dari hasil survey dan investigasi GPEI Sumut, ditemukan adanya prilaku eksportir, yang disimpulkan menjadi 3 bagian, yakni eksportir pemilik barang, pengumpul dan under name. “Banyak eksportir ini tidak mau pusing dan terkesan sombong, memberi produknya untuk di ekspor kepada pihak kedua atau pemberi jasa. Jadi disini kita temukan adanya indikasi tidak bayar pajak,” tegas Hendrik.

Kita harapkan, lanjut Hendrik, melalui Sekolah Ekspor dapat meningkatkan ekspor di Sumut, karena para pelaku dan pemilik barang akan mendapatkan pengetahuan tentang ekspor. “Jadi, Kami GPEI Sumut juga punya target 1.000 eksportir baru dalam jangka waktu 2 tahun,” kata Hendrik, sambil menunjukkan silabus, materi dan rencana sekolah ekspor.

Terkait rencana membuka sekolah ekspor, lanjut Hendrik, kedatangan ke Jatim sekaligus untuk Studi Banding ke GPEI Jatim. “Untuk sekolah ekspor atau course exim, GPEI Jatim sudah melaksanakan terlebih dahulu. Jadi, kami GPEI Sumut datang kemari sekaligus studi banding,” tegas Hendrik.(red)