Connect with us

Sumut

PMKRI Medan Beri Pembelajaran Anak-Anak Pinggiran Rel Kereta Api

Published

on

Medan, Geosiar.com,- Dibalik keterbatasan ekonomi yang mereka miliki sejumlah mahasiswa memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak pinggiran rel di Jalan Orde Baru, Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat, kota Medan pada Jumat, 9/4/2021.

Mahasiswa tersebut tergabung dalam organisasi Perhimpunan mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) cabang Medan.

Mereka memberikan pendidikan gratis bentuk wujud kepedulian mereka sebagai mahasiswa dan sebagai kader organisasi. Kegiatan itu mereka lakukan karena sangat penting memberi pendidikan bagi anak-anak usia dibawah 12 tahun.

“Ini bentuk kepedulian kita terhadap situasi pendidikan saat ini. Kami sebagai kader dan mahasiswa harus turut andil memberikan pendidikan bagi masyarakat yang membutuhkan,” kata Ceperianus Gea yang merupakan ketua Presidium PMKRI Cabang Medan, melalui Press Realisis yang diterima Redaksi Geosiar.com, Minggu (11/4/2021)

Adapun jenis kegiatan yang dilakukan mengajar anak-anak tentang membaca,menulis,menghitung, mewarnai gambar, edukasi pentingnya pendidikan bagi anak sekolah dasar dan pentingnya perhatian orang tua terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan anak.

Untuk para orang tua sendiri mereka mengajari bagaimana cara membuat sabun cuci piring dengan bahan dan alat yang murah, lebih sederhana dan praktis. Sabun cuci piring yang sudah jadi nantinya akan dibagikan secara gratis kepada orang tua siswa.

“Masih hari ini kami melakukan kegiatan disini, tetapi kami berkomitmen akan melakukan kegiatan ini sampai seterusnya,” kata Mega Nadeak sebagai kordinator kegiatan tersebut.

Mereka memilih lokasi Jalan Orde Baru karena dari beberapa survei yang mereka lakukan tempat itu yang paling menarik karena banyak anak-anak yang putus sekolah dan lokasinya berada di pinggir rel kereta api.

“Kami memilih lokasi ini karena dari beberapa survei yang telah kami lakukan lokasi di sini merupakan yang paling menarik karena banyak anak-anak yang putus sekolah dan warga juga menerima dengan baik,” kata Mega.

Mereka juga ingin mengubah pola pikir yang terbentuk pada anak-anak yang ada di lingkungan ini, mereka ingin anak tidak berpikir hanya untuk uang.

“Waktu pertama kemarin ke sini anak-anak kalau disuruh mengerjakan sesuatu langsung minta uang. Jadi pola pikir itu yang akan kita perbaiki sedikit demi sedikit,” kata Ceperianus.

Liska Simanungkalit orang tua siswa yang hadir mendampingi anaknya belajar di tempat itu mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurut dia itu adalah kegiatan yang sangat positif dan harus didukung agar tetap berjalan dengan baik dan bisa mengarahkan anak-anak untuk lebih memakai waktu untuk belajar.

“Saya merasa senang ada yang mengajari anak-anak. Kalau ada yang mengajari kan waktunya untuk bermain pasti makin sedikit,” kata Liska.

Tantangan bagi para mahasiswa sendiri sebenarnya tidak mudah. Rata-rata mereka anak kos yang berasal dari luar kota Medan. Untuk uang makan dan uang kuliah mereka masih bergantung pada orangtua. Mereka harus mampu membagi uang tersebut untuk biaya perjalanan dan membeli alat-alat tulis dan gambar yang akan digunakan para siswa.

“Untuk menjalankan kegiatan ini kami masih kolektif. Harus pintar-pintarlah membagi kiriman dari kampung. Kalau ngak ya gak makan lah,” kata Ceperianus Gea sembari menutup pembicaraan.(rel/red)