Connect with us

Dunia

Demonstran Myanmar Gunakan Telur Paskah Lawan Kudeta

Published

on

Ilustrasi : Aksi kudeta (Foto/dok)

Geosiar.com,- Warga Myanmar memanfaatkan momen Hari Raya Paskah untuk mempertegas perlawanannya terhadap junta militer. Dikutip dari kantor berita Reuters, demonstran Myanmar menuliskan pesan-pesan pemberontakan di telur paskah dan kemudian membagikannya untuk menunjukkan kepada junta bahwa mereka belum menyerah.

Pesan-pesan yang mereka tulis beragam. Ada yang menuliskan “Kami pasti menang”, “Revolusi!”, hingga “pergilah MAH!”. MAH adalah singkatan untuk panglima Militer Myanmar, Min Aung Hlaing. Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Min Aung Hlaing adalah otak di balik kudeta Myanmar.

“Warga di seluruh penjuru Myanmar melanjutkan perlawanannya untuk mengakhir kedikatoran, demi demokrasi dan hak asasi manusia,” ujar pernyataan pers Asosiasi Bantuan Hukum untuk Tahanan Politik, yang terus memantau perkembangan perlawanan terhadap Militer Myanmar, Ahad, 4 April 2021.

Militer Myanmar telah mengantisipasi bahwa warga akan memanfaatkan momen . Oleh karenanya, sejak Jumat kemarin, mereka membatasi akses internet agar gerakan warga tidak menjadi viral. Namun, hingga berita ini ditulis, gerakan warga masih berlanjut.

Di saat bersamaan, Militer Myanmar juga makin agresif melakukan penangkapan warga yang terlibat dalam gerakan perlawanan. Menurut laporan Reuters, Militer Myanmar telah mengeluarkan 40 surat perintah penangkapan untuk figur publik. Mereka terdiri atas selebritas, influencer, aktivis, blogger, hingga politisi.

Mereka yang berhasil ditangkap akan dihukum penjara. Adapun total hukuman yang akan diberikan militer Myanmar adalah maksimal 3 tahun.

Total, sudah ada 2658 orang yang ditangkap junta sejak kudeta Myanmar dimulai pada 1 Februari lalu. Beberapa figur pertama yang ditangkap adalah Penasihat Negara Aung San Suu Kyi serta Presiden Wyin Mint. Kabar terakhir, Aung San Suu Kyi mengklaim dirinya sehat dan tengah menjalani proses hukum untuk perkara-perkara yang dijatuhkan kepadanya oleh Militer Myanmar.(tmp/red)