Connect with us

Nasional

Peringati Hari Perempuan Internasional, PHI : Kapitalisme Picu Krisis Iklim Mengerikan

Published

on

Geosiar.com,- Setiap tanggal 8 Maret kita peringati sebagai hari perempuan internasional. Secara historis, mendunianya hari perempuan internasional bermula dari peran Clara Zetkin, seorang perempuan revolusioner, yang mendorong Lenin menetapkannya sebagai hari libur pada 1922.

Dalam perayaan International Women’s Day pertama di Eropa, 8 Maret 1911, para perempuan berbaris di Wina memperingati martir-martir Komune Paris. Pada 1917, para perempuan Rusia turun ke jalan memprotes kondisi kehidupan yang memburuk di tengah Perang Dunia I dan akhirnya menjatuhkan Tsar.

Hari Perempuan Internasional tidak bisa dipisahkan dari peran perjuangan para perempuan revolusioner melawan para pemilik modal yang melakukan penghisapan, ketidakadilan, kekerasan dan pemiskinan yang melanda dunia.


Saat ini, seiring dengan makin kencangnya perluasan geografi akumulasi kapital di seluruh dunia, melintasi batas administratif dan geografis negara bangsa, kelestarian lingkungan semakin terancam. Akumulasi kapital rakus tanah juga telah melucuti kedaulatan rakyat atas tanah dan airnya.

Bahkan, tidak bisa dipungkiri, para perempuan telah menjadi pihak yang paling dirugikan atau terdampak atas semua aktivitas ekonomi kapitalistik. Ketika hutan-hutan dibabat untuk operasi industri ekstraktif dan perluasan perkebunan, para perempuan disingkirkan dari ruang hidupnya. Mereka menghadapi pencemaran lingkungan, dan intimidasi.

Setelah dicerabut dari tanahnya dan ditransformasi menjadi kelas pekerja industri, para perempuan juga diperlakukan secara tidak adil dan kerap mendapat intimidasi dan kekerasan seksual.

Namun, seperti kita tahu, para perempuan telah membuktikan dirinya berada di garis terdepan melawan perampasan tanah dan perusakan lingkungan yang sedang berlangsung saat ini.

Kita sedang menghadapi apa yang disebut oleh John Bellamy Foster sebagai tragedi kepemilikan bersama yang sedang dirampas dan dikuasai secara brutal oleh kepentingan privat yakni para pemilik modal.

Inilah yang sedang terjadi di Pulau Pari di DKI Jakarta, pegunungan Kendeng di Jawa Tengah, Gunung Tumpangpitu di Banyuwangi Jawa Timur, Hutan adat Kinipan di Kalteng, hutan adat di Merauke Papua, pulau Kodingareng di Sulawesi Selatan dan di banyak tempat lainnya di Indonesia.

Tanah dan air Indonesia tengah dikapling-kapling untuk kepentingan investasi, terutama di sektor ekstraksi dan industri manufaktur. Dalam konteks global semua aktivitas ekonomi kapitalisme telah memicu terjadinya krisis iklim yang sangat mengerikan.

Padahal sejak dua dekade lalu, Vandana Shiva telah mengingatkan bahwa kematian alam mengancam kelangsungan kehidupan. Bumi, demikian kata Shiva, kini sudah mendekati ajalnya: hutan, tanah, air dan udaranya sedang menuju kematian.

Bahkan, bila perusakan hutan terus terjadi tanpa bisa dihentikan. Diperkirakan menjelang tahun 2050 seluruh hutan tropik akan musnah. Dengan musnahnya hutan tropik, akan musnah pula keanekaragaman kehidupan yang ditunjangnya (Shiva: 1997).

Kini saatnya kita menyatakan dengan gamblang bahwa yang kita butuhkan adalah feminisme untuk 99% yang menolak segala bentuk penindasan gender yang berakar pada subordinasi reproduksi sosial untuk akumulasi kapital dan merusak lingkungan.

Kita tak boleh lagi membiarkan para perempuan buruh, perempuan adat, perempuan nelayan, perempuan petani kecil berjuang sendiri. Kita tidak boleh lagi berdiam diri atas semua bentuk intervensi kedaulatan tubuh perempuan, baik atas nama ortodoksi agama, maupun hasrat akumulatif kapitalisme.

Melalui pernyataan ini, Partai Hijau Indonesia (PHI) menyampaikan terima kasih dan hormat sebesar-besarnya pada para perempuan yang telah memberi teladan bagi generasi muda untuk selalu berjuang menegakkan keadilan, kesetaraan dan kelestarian.

PHI menyerukan untuk selalu bergandeng tangan bersama para perempuan dan lelaki yang sedang berlawan memperjuangan kehidupan yang lebih baik, setara, berkeadilan dan lestari.

Selamat Hari Perempuan Internasional! Hidup Perempuan Indonesia yang berlawan!

Jakarta, 8 Maret 2021
Presidium Nasional Partai Hijau Indonesia:
Taibah Istiqamah, Kristina Viri, Roy Murtadho, John Muhammad dan Dimitri Dwi Putra. (Rel/red)