Connect with us

Lifestyle

Agar Hubungan Langgeng, Carilah Pasangan dengan 5 Kriteria Ini

Published

on

Ilustrasi : pasangan.(dok)

Geosiar.com – Mencari pasangan yang sesuai memang jadi tantangan tersendiri.

Pasangan yang berhasil mengatasi lebih banyak masalah tentunya akan lebih mungkin mempertahankan kelanggengan hubungannya dalam jangka panjang.

Menurut psikoanalis bersertifikat sekaligus psikoterapis dan supervisor AEDP, Hilary Jacobs LCSW menjelaskan dalam laman Psychology Today, setidaknya ada lima kualitas yang perlu dilihat ketika mencari pasangan.

Kualitas ini diyakini dapat membantu kita melewati masa-masa sulit bersama dan pada akhirnya memiliki relasi yang semakin baik dan langgeng. Beberapa kualitas dan kriteria tersebut antara lain:

  1. Kemampuan berempati
    Empati adalah kemampuan dan kemauan seseorang untuk menempatkan dirinya di posisi orang lain dan membayangkan apa yang akan mereka rasakan jika berada pada posisi tersebut.

Ini bisa jadi sangat berbeda dari apa yang terlihat dan dirasakan.

Menurut penulis “It’s Not Always Depression: Working the Change Triangle to Listen to the Body, Discover Core Emotions, and Connect to Your Authentic Self”, tanpa empati seseorang akan sulit memahami pasangannya.

Seseorang yang tak memiliki empati mungkin tidak akan menjadikan kebaikan dan rasa sayang kepada pasangannya sebagai prioritas.

  1. Humor
    Ketika hubungan sedang tegang, humor bisa meredakan ketegangan tersebut dan mengubah momen yang buruk menjadi lebih baik.

Tentu saja, ini juga perlu didukung penggunaan humor pada situasi yang tepat.

Namun, untuk mengetahui kapan waktu yang tepat menggunakan humor untuk mencairkan ketegangan dalam hubungan, kita perlu melatihnya bersama pasangan.

Memang, humor tidak selalu menjadi pendekatan yang tepat. Tapi, ketika berhasil, humor dapat sangat membantu meredam ketegangan antarpasangan.

  1. Kemauan untuk terus saling bicara
    Dua orang yang saling mencintai dan termotivasi untuk terus bersama memiliki kekuatan untuk berupaya mengatasi segala konflik.

Namun, kemampuan untuk mengatasi konflik ini butuh waktu, kesabaran dan skill berkomunikasi yang baik.

Seseorang dan pasangannya harus menemukan kesamaan atau punya kemampuan untuk bisa sepakat dengan hal yang sebetulnya tidak disetujuinya.

Butuh waktu untuk bisa menyelesaikan konflik karena ada banyak langkah yang perlu ditempuh hingga kedua belah pihak merasa saling didengarkan.

Kedua belah pihak harus mau untuk terus saling bicara.

Bicara dalam hal ini melibatkan hal-hal seperti mengklarifikasi masalah, memahami arti yang lebih dalam dari sebuah masalah, memastikan masing-masing memahami posisi satu sama lain, menyampaikan empati satu sama lain, hingga terbiasa melakukan brainstorming untuk menemukan solusi di setiap masalah.

Masalah harus dibicarakan dengan baik sampai kedua belah pihak merasa lebih baik.

  1. Memahami emosi
    Ketika perselisihan muncul, emosi akan mendominasi.

Emosi terprogram di semua bagian otak kita dengan cara yang sama. Tidak ada yang bisa mencegah terjadinya emosi, terutama pada saat adanya konflik dan ancaman.

Namun, seseorang selalu punya pilihan bagaimana menanggapi emosinya.

Beberapa orang akan segera bereaksi dan menuruti dorongan hatinya. Respons ini sangat mudah menyulut perkelahian dengan pasangan.

Sementara lainnya, memilih berhenti sejenak untuk berpikir sebelum bertindak.

Ini adalah langkah terbaik karena akan memberi lebih banyak kendali atas respons kita.

Tanpa memahami kerja dasar emosi, pasanganmu tidak akan memahamimu dengan baik dan dia mungkin malah akan mengkritikmu atas perasaan yang kamu rasakan atau melakukan reaksi buruk lainnya.

Kita perlu pasangan yang mau mendengarkan tanpa bersikap defensif, atah setidaknya berusaha untuk melakukannya.

Kita perlu pasangan yang paham bahwa terkadang tidak selalu harus ada yang diperbaiki dalam sebuah kondisi dan mendengarkan dengan sabar saja sudah cukup.

Menghormati emosi bukan berarti kita perlu menjaga emosi pasangan dan mengorbankan emosi diri sendiri, ini malah akan memicu kebencian.

Menghormati emosi pasangan juga bukan berarti membiarkan diri sendiri dilecehkan.

Ini artinya adalah saling memahami ketika pasangannya kesal dan berusaha membantu sebaik mungkin.

  1. Memahami pentingnya aturan dalam hubungan
    Di awal hubungan, segala hal rasanya berjalan lancar.

Namun, seiring berjalannya waktu, perbedaan dan perselisihan mulai bermunculan.

Sebelum potensi konflik itu muncul, ada baiknya jika kamu dan pasangan menetapkan seperangkat aturan dasar untuk kelak menghadapi perselisihan.

Ini adalah aturan tentang bagaimana berselisih secara konstruktif.

Mungkin terdengar berlebihan bagi sebagian orang, tetapi hal ini akan sangat membantu untuk mengendalikan jika kelak terjadi perselisihan.

Misalnya, kamu dan pasangan bisa sepakat untuk berbicara dengan suara yang tenang daripada saling berteriak jika berselisih.

Kamu dan pasangan akan sama-sama belajar bagaimana agar keadaan tidak menjadi buruk bagi satu sama lain.

Karena masing-masing tentu lebih tahu tentang dirinya sendiri, menetapkan aturan dasar juga bisa berarti menyampaikan kepada pasangan apa saja yang kamu butuhkan ketika sedang merasa sedih, marah, kesal, atau merasakan emosi lainnya.

Setiap orang memiliki pemicu emosi yang berbeda-beda. Jadi, ada baiknya kamu memberitahukan itu pada pasangan, begitu juga sebaliknya.

Jangan pikirkan membuat aturan dasar ini perlu dilakukan dalam suasana yang formal.

Tentu, caranya akan berbeda untuk setiap pasangan. Tetapi, kamu dan pasangan bahkan juga bisa membicarakannya di sela-sela obrolan yang lain.(kps/red)