Connect with us

Nasional

PP PMKRI Sayangkan Adanya Tindakan “Rasisme” Dialami Natalius Pigai

Published

on

Jakarta, Geosiar.com,- Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) menyayangkan adanya tindakan rasisme yang dialami oleh orang Papua. Dalam hal ini dialami oleh saudara Natalius Pigai, mantan komisioner Komnas Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.


Tindakan rasisme ini diketahui ketika Ambronsius Nababan mengunggah status di lini massanya, yang menunggah foto Natalius Pigai yang kemudian menyandingkan foto tersebut dengan seekor hewan yakni, gorilla.


Akun ini juga menyinggung sikap Natalius Pigai yang menolak vaksin dengan mengatakan, “vaksin ko bukan sinovac pace tapi ko pu sodara bilang vaksin rabies.” Digambar yang lain juga ia mengatakan, “ Vaksin sinovac ini dibuat untuk manusia bukan untuk gorilla apalagi kadal gurun. Karena menurut UU Gorilla dan kadal gurun tidak perlu di vaksin.”


Benidiktus Papa, Ketua Presidium PP PMKRI mengatakan, “Kejadian seperti ini bukanlah yang pertama sekali terjadi, mungkin segar dalam ingatan kita bagaimana tindakan rasisme yang dialami oleh mahasiswa Papua di Surabaya,” oleh karena itu, negara harus perlu hadir menyelesaikan permasalahan ini, pelaku rasisme perlu ditindak dengan tegas. “


Ia juga menambahkan, “Perlakuan rasisme ini bukan hanya tentang Natalius Pigai, tetapi dengan orang Papua lainnya. apa yang dilakukan oleh Ambroncius tentu saja bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskrminasi dan Ras tepatnya di Pasal 4 huruf a yang memperlakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.


Dalam kesempatan yang sama ia mengatakan, “ dengan Undang-Undang yang sama juga agar kiranya undang-undang ini dapat dioptimalkan untuk menindak para pelaku rasisme.

Sebagaimana dimuat dalam Pasal 15 dan Pasal 16 Undang-undang ini dan juga Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Oleh karena itu, Polisi harus segera menangkap dan menindak pelaku, agar memberikan kenyamanan dan kepastian di masyarakat.”


Alboin Samosir, Pengurus Pusat PMKRI mengatakan.”Tindakan rasisme terhadap orang Papua tampil dalam banyak bentuk wajah, tidak hanya olokkan yang menjurus ke rasialis tetapi juga sikap-sikap atau kebiasaan orang Papua yang cenderung didiskreditkan dan di stigma negatif,”

Tindakan-tindakan seperti ini harusnya mulai ditanggalkan, orang Papua harus mendapatkan kedudukan yang sama sebagai warga negara Indonesia, meletakkan kemanusian diatas segalanya. Agar kiranya, tidak terjadi konflik sturuktural maupun horizontol.”


“Perlakuan Rasisme yang dialami oleh Natalius Pigai dan orang Papua pada umumnya harus menjadi perhatian kita bersama, sebagai bangsa yang lahir dari kebegaraman baiklah kiranya kita adil sejak dalam pikiran, menyelematkan diri kita dari rasisme kita sendiri dan kemanusian kita yang harus diperkuat kembali, “ tutupnya.

PMKRI Medan : Tindak Tegas

Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Perhimpunan Mahasiswa katolik Republik Indonesia (PMKRI ) Cabang Medan Santo Bonaventura mengecam segala hal bentuk perilaku Rasisme di negara Republik Indonesia, karena sudah bertentangan dengan amanah UUD 1945 dan HAM yang berlaku di Indonesia.

Ketua presidium PMKRI Cabang Medan , saudara Ceperianus Gea mengatakan ujaran maupun perilaku rasisme yang di lakukan politikus nasional itu sangat tidak bermoral, sudah menciderai UUD 1945 dan tidak mengindahkan HAM yang berlaku di negara ini, hal seperti ini harus di tindak tegas oleh pemerintah, takut nya pemerintah akan acuh dengan hal hal seperti ini apalagi pelaku nya Drs.Ambronsius I. M Nababan, M.M merupakan caleg dari partai pendukung penguasa.

“Ini Merupakan bentuk penghinaan sebagai sesama manusia, politikus tersebut sudah menghina secara fisik yg berdampak secara psikis, kita tuntut kesamaan dimata hukum, Kami sebagai adik adik dari kakanda kami Natalius Pigai merasa sangat miris atas pernyataan yg mengarah kepada pelecehan, penghinaan, yang mana hal ini merupakan Rasisme sebagai warga Negara Republik Indonesia. Dengan ini kami meminta saudara Ambrosius Nababan Untuk meminta maaf secara terbuka kepada seluruh rakyat indonesia atas pernyataan yang beredar di media sosial, jika hal ini tidak diindahkan dan permintaan maaf tidak segera dilakukan secara terbuka dan maka kami akan membawa kasus ini ke tahapan yang lebih serius sesuai dengan perundang undangan yg berlaku” ucap Ceperianus Gea

Hal senada juga di sampaikan Sintong Sinaga selaku Presidium Gerakan Kemasyarakatan PMKRI Cabang Medan bahwa semestinya seorang politikus itu membawa dampak positif bagi rakyat , memberikan contoh yang baik, serta memberikan kontribusi yang berguna bagi rakyat apalagi saat masa pandemi seperti ini, bukan malah melakukan ujaran atau perilaku rasisme, PMKRI Cabang Medan meminta kepada pihak kepolisian untuk tegas menangani kasus seperti ini, jangan terkesan tebang pilih nanti nya.

“Kita paham bahwa kakanda Natalius Pigai sering melakukan peran nya sebagai masyarakat yaitu sebagai kontrol bagi pemerintah apalagi saat ini oposisi tidak terlalu kuat di era kepemimpinan pak Jokowi jadi saya rasa masyarakat harus menjadi kontrol bagi pemerintah, yaitu seperti kritik terhadap penyaluran vaksinasi yang dinilai terkesan cukup lama, seharusnya para politikus atau relawan pilpres pro jokowi seperti saudara Ambrosius Nababan mengunakan argumen yang lebih mendasar berdasarkan intelektualitas bukan malah melakukan penghinaan yang tidak manusiawi, miris melihat gelar beliau yang Drs itu tapi tidak sesuai perilaku” tutup Sintong Sinaga. (Rel/*)