Connect with us

Lifestyle

8 Hal Tak Terduga yang Terjadi pada Otak Saat Bercinta

Published

on

Geosiar.com, – Ketika memikirkan soal aktivitas bercinta, mungkin banyak dari kita yang langsung terpikir pada zat kimia di otak yang menimbulkan perasaan senang.

Namun, sesi bercinta sebetulnya menimbulkan proses yang lebih kompleks pada otak.

Sejumlah penelitian dan magnetic resonance imaging (MRI) menunjukkan ada banyak area terpencil di otak yang aktif sebelum, selama dan setelah seseorang mengalami orgasme.

Namun, penelitian tentang topik ini sebetulnya masih terus berkembang karena sangat menantang untuk terus dipelajari.

Berikut beberapa hal yang terjadi pada otak ketika seseorang bercinta menurut para peneliti:

  1. Bagian otak tertentu melakukan pemanasan
    Sistem limbik, wilayah otak yang bertanggung jawab atas dorongan fisik dan memproses emosi, aktif ketika seseorang berhubungan seks.

Namun, bagian lain dari korteks selebral, yang mengatur penalaran tinggi di pikiran seseorang, malah tidak aktif.

“Akibatnya, tindakan seksual lebih didorong oleh naluri dan emosi ketimbang dengan pemikiran rasional,” ungkap neuropsikolog dan asisten profesor neuropsikologi dari Columbia University, Jason Krellman, PhD, seperti dilansir The Healthy.

  1. Beberapa bagian otak beristirahat
    Dua area spesifik di otak perempuan malah “beristirahat” selama bercinta.

Psikolog klinis di wilayah Kansas City, Jennifer Sweeton, PhD, satu wilayah melibatkan penilaian dan kesadaran sosial.

Itulah mungkin yang menjelaskan mengapa banyak orang berkata seseorang akan “buta karena cinta” ketika bercinta.

Area yang berkaitan dengan kesadaran diri dan penghambatan diri juga ditemukan non-aktif ketika seorang perempuan bercinta.

Kondisi ini menghadirkan pengalaman seperti berada di dluar tubuh, ketika bercinta.

Inilah yang membantu perempuan bisa mengalami orgasme.

  1. Otak melepaskan dopamin
    Aktivitas seks menyebabkan otak melepaskan lebih banyak zat kimia saraf.

Perubahan kimiawi inilah yang membantu mengatur dan mempercepat aktivitas seksual.

Salah satu neurotransmitter itu adalah dopamin, yang dapat menciptakan perasaan ingin, memunculkan euforia, kepuasan, dan penghargaan.

Dopamin dilepaskan di bagian aktif yang sama yang muncul ketika seseorang mengonsumsi makanan atau obat-obatan tertentu.

Bagian otak tersebut adalah hipotalamus, yang juga mengatur rasa lapar, haus dan respons emosional lainnya, serta hal-hal seperti pengaturan suhu tubuh.

  1. Otak melepaskan oksitosin
    Oksitosin adalah hormon yang bertindak sebagai neurotransmitter di otak, yang meningkat seiring dengan membuncahnya gairah seksual dan orgasme.

Ada satu kesalahpahaman di mana kita menganggap oksitosin mendorong keterikatan antar-pasangan setelah mengalami orgasme.

Menurut pendiri perusahaan bioteknologi seksual Liberos LLC, Nicole Prause, PhD, tidak ada penelitian yang membuktikan itu pada perempuan.

Faktanya, hanya ada beberapa penelitian spekulatif bahwa perempuan mungkin lebih terhubung secara emosional setelah orgasme berkat oksitosin dan vasopresin.

Menurut Krellman, apa yang diketahui peneliti adalah bahwa oksitosin yang dilepaskan ketika bercinta dapat memberikan efek penghilang rasa sakit.

Inilah mungkin yang menjelaskan mengapa kesenangan dan rasa sakit seksual sering dikaitkan.

  1. Otak melepaskan vasopresin
    Vasopresin dapat memicu kantuk. Namun, menurut Prause, perubahan vasopresin terjadi lebih signfikan pada laki-laki.

Inilah yang mungkin menjawab banyak pertanyaan, mengapa kebanyakan laki-laki akan tertidur setelah bercinta.

  1. Otak melepaskan serotonin
    Serotonin membantu mengatur suasana hati dan tidur.

Jadi, ketika seseorang tidak mendapatkan cukup serotonin, dia akan cenderung merasa tertekan.

Karena serotonin meningkat ketika seseorang berhubungan seks, kondisi itu dapat memunculkan perasaan bahagia dan damai setelahnya.

Penelitian menunjukkan bahwa seks dapat meningkatkan suasana hati seseorang yang dalam kondisi sehat dan mungkin dapat memicu meningkatkan daya ingat.

  1. Otak melepaskan norepinefrin
    Menurut ahli saraf dari California, Clifford Segil, DO, norepinefrin dapat meningkatkan gairah, perhatian dan energi, dengan mengaktifkan sistem saraf simpatis di otak.

“Norepinefrin dilepaskan untuk meningkatkan detak jantung dan membuat kita terjaga,” ucapnya.

Banyak stereotip jatuh cinta atau napsu, seperti kehilangan napsu makan, energi berlebih dan kesulitan tidur, juga berkaitan dengan norepinefrin konsentrasi tinggi.

  1. Merasa sedih setelah bercinta
    Ini mungkin hanya terjadi pada beberapa orang.

Namun, setelah seseorang mengalami orgasme, otak akan melepaskan prolaktin neurokimia dan menurunkan dopamin.

Perubahan yang terjadi setelah bercinta ini mungkin bisa menjelaskan mengapa beberapa orang mengalami dysphoria atau perasaan sedih setelah berhubungan seks.

Namun, perasaan sedih ini berbeda dari perasaan sedih karena penyesalan atau kesepian.

Pada akhirnya, semua perubahan kimiawi di otak ketika seseorang berhubuhngan seks tidak hanya menciptakan pengalaman yang lebih menyenangkan, tetapi juga memiliki nilai evolusi.

“ Seks sangat penting untuk kelangsungan hidup kita sebagai spesies.”

“Jadi, masuk akal jika tindakan itu bermanfaat, menyenangkan dan membuat kita jauh dari ketidaknyamanan fisik yang mungkin mengganggu sesi bercinta,” kata Krellman. (kps/red)