Connect with us

Nasional

Kenaikan Harga Kontainer Mencapai 400%, Eksportir Usul Insentif Biaya Pelabuhan

Published

on

Wakil Ketua GPEI Sumut Paskalis Sitompul (Foto/ist)

Jakarta, Geosiar.com — Wakil Ketua Gabungan Perusahaan Eksport Indonesia (GPEI) Sumut Paskalis Sitompul mengatakan, saat ini kenaikan biaya kontainer mengalami kenikan 300% sampai dengan 400%, dari harga kontainer sebelumnya pada saat normal. Hal ini sangat memberatkan bagi exportir Indonesia.

“Akibat kenaikan harga kontainer yang sangat tinggi ini, banyak exportir Indonesia melakukan penundaan export (postponed shipment) dan akhirnya exportir akan mengalami kesulitan, karena banyak barang menumpuk dan pembayaran dari importir tertunda,” tegas Paskalis menjawab Geosiar.com via selularnya Jumat (8/1/2021).

Masalah kelangkaan kontainer atau peti kemas bagi pengusaha ekspor disebut jadi masalah antarbisnis. Pemerintah diminta memberikan insentif potongan biaya pelabuhan guna menunjukkan empati.

Paskalis Sitompul menuturkan, pemerintah tidak dapat turun langsung menyelesaikan permasalahan kelangkaan peti kemas untuk ekspor. Pasalnya, ini kebijakan pasar yang akan menemukan keseimbangan baru.

“Masalah kelangkaan kontainer dan angkutan laut masalah pasar tidak bisa diselesaikan oleh peraturan pemerintah, manakala keseimbangan ekspor dan impor sudah mencapai equilibrium baru, maka selesai sudah masalah peti kemas tersebut,” kata Paskalis.

Dengan demikian, terangnya, pemerintah tidak dapat mengintervensi secara langsung permasalahan tersebut. Sementara eksportir harus bisa menerima konsekuensi dari langkanya kontainer yang berujung meningkatnya harga freight (biaya angkut) dan keterbatasan pengangkutan dan pelayaran memberikan pelayanan dengan harga berlipat.

Menurut Paskalis, pemerintah hanya dapat memberikan keringanan berupa potongan biaya pelabuhan hingga 50 persen. Hal ini memang tidak berdampak signifikan terhadap pengurangan biaya angkut, tetapi menunjukkan kepedulian pemerintah.

“Yang bisa di perbuat pemerintah adalah biaya pelabuhan diberikan diskon 50 persen. Memang tidak [signifikan], hanya paling tidak ada empati pemerintah terhadap kesulitan pelaku ekspor,” paparnya.

Saat ini, di tengah perdagangan global yang belum pulih akibat pandemi Covid-19, dunia justru dikejutkan oleh kabar kekurangan peti kemas. Kelangkaan ini mengerek harga pembelian peti kemas baru dan tarif sewa hingga 50 persen, mengganggu lalu lintas pelabuhan, menimbulkan biaya tambahan, dan memperlambat pengapalan.

Untuk diketahui, Lonjakan ekspor China dan permintaan konsumen yang kuat di Amerika Serikat membantu menjelaskan keketatan pasokan.

Misalnya, perusahaan angkutan laut Jerman mengalami kenaikan permintaan kontainer 40 kaki terkuat setelah mengalami penurunan permintaan terdalam yang pernah ada akibat pandemi.

Berdasarkan data Container xChange, platform online yang berbasis di Hamburg, Jerman, indeks ketersediaan kontainer 0,04 khusus untuk kontainer 40 kaki di Los Angeles, sedangkan di Shanghai 0,22. Pada skala nol hingga 1, semakin kecil skala menunjukkan semakin kekurangannya terhadap kontainer.(red)

Advertisement