Connect with us

Kesehatan

Kisah Pasien Covid-19, Selama 34 Hari Isolasi di Rumah Sakit

Published

on

Selama 34 hari isolasi di Rumah Sakit terdeteksi pasien positif Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) sungguh hal yang menakutkan. Pengalaman itu tentu menjadi pelajaran dan motivasi hidup menjaga kesehatan dan berbuat lebih baik.

Tepatnya, 26 Mei s/d 28 Juni 2020 di rawat inap Isolasi Covid 19 di salah satu Rumah Sakit (RS) swasta tertua di kota Medan. Saat 5 hari pertama, mata sulit untuk dipejamkan karena terbayang hal yang menakutkan. Kendati berada di ruangan ber AC dengan fasilitas yang memadai tetap saja perasaan terus gelisah menunggu hasil diagnosa.

Mata selalu tertuju ke tetesan jarum infus mengalirkan cairan ke dalam tubuh yang terasa meriang. Selain menahankan rasa sakit meriang dengan suhu badan tidak normal. 😭😭. Pikiran ini terbebani dan was-was terhadap pasien Covid 19 dan meninggal dikubur massal.

Jujur saja, penyebab utama tidak bisa tidur bukan karena rasa sakit, tetapi karena perasaan cemas dan ketakutan. Berawal saat tiba di RS ruang pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) Senin (25/5/2020) malam pukul 23.30 wib. Saat itu, petugas medis mengukur suhu badan, dengan hasil 38.8 C 😰. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan darah dan foto rontgen paru-paru.

Setelah menunggu dua jam kemudian, tenaga medis memberitahukan hasil pemeriksaan. Petugas medis tadi pun memulai perbincangan dengan nada bertanya, “Bapak kerja dimana, kemana saja perjalanan beberapa hari terakhir ini. Ada ke tempat keramaian, riwayat perjalanan Bapak kemana saja,” tanya petugas medis dengan nada membujuk.

Mendengar pertanyaan itu, sejenak terdiam. Penulis yang berprofesi sebagai wartawan, tentu agak sulit untuk menerangkan riwayat perjalanan secara singkat karena padatnya aktifitas sehari hari. Lalu, penulis balik bertanya, “Mamangnya bagaimana hasil pemeriksaan darah dan foto dok? Doktrr jaga menjawab, “Iya dalam foto paru ada infeksi,” sebutnya.

Mendapat keterangan dokter, perasaan mulai gusar dan timbul rasa takut yang berlebihan. Satu satunya, pasrah dan berusaha tegar, berDoa, kiranya Tuhan memberikan yang terbaik.

Selanjutnya, petugas medis memutuskan harus dilakukan rawat inap dengan ruangan tersendiri. “Ini ketentuan dari tim Gugus Tugas Percepatan penanganan Covid 19 Kota Medan. Jika ada pasien yang mengalami demam dan infeksi paru akan dilakukan penanganan sesuai protokol kesehatan,” terangnya.

Ditemani istri dan anak, penulis pun menempati salah satu ruangan untuk rawat inap sekitar pukul 2.00 Wib dini hari. Petugas medis mdnganjurkan agar istirahat menunggu dokter ahli paru paru dan dokter ahli untuk diaknosa selanjutnya. Petugas medis pun menganjurkan agar pasien tidak boleh menerima tamu di rumah sakit.

Tiba, Selasa pagi (26/5/2020), sekitar pukul 9.00 Wib, 2 orang dokter pun datang selisih waktu yang berbeda. Pertama datang dokter spesialis penyakit dalam yakni dr Budiyanto, berikutnya dokter spesialis paru paru yakni dr Pantas Hasibuan.

Kesimpulan dokter sementara, penyebab demam karena infeksi di paru paru. “Kita rawat dulu secara intensip, besok kita lakukan kembali periksa darah dan rontgent City Scaning GGD. Dari hasil scaning nanti akan lebih jelas jenis penyakitnya,” terang dokter Budianto.

Setelah menerima penjelasan dari dokter, kemudian perasaan bertambah takut yang luar biasa. Rasa takut dan cemas terhadap pandemi Covid 19 yang sangat berbahaya.

Sebelum dilajukan pemeriksaan Sweb Covid 19, dokter pun melakukan pemeriksaan sample darah untuk pemeriksaan yang ke 2. Dan dilakukan foto City Scanning system Gradient Descent (GGD).

Tepatnya, Sabtu siang, (30/5/2020) dokter ahli penyakit dalam dr Budianto kembali visid, beliau menyampaikan hasil diagnosa sekaligus memutuskan harus dilakukan perawatan yang lebih intensif.

Sama halnya dr ahli paruparu Pantas Hasibuan menyampaikan hasil foto rontgen dan CT Scanning terdapat infeksi paru di sebelah kanan dan kiri bahkan kondisi berlendir.

Maka, hasil diagnosa ke dua dokter tadi menyimpulkan penulis ditetapkan sebagai Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid 19. Saat itu juga disarankan supaya pindah ruangan ke ruang ISOLASI pasien Covi 19. “Keluarga pun tidak diperbolehkan mendampingi/jaga, apalagi menerima tamu,” tegasnya.

Mendengar penjeladan dokter, perasaan terasa disambar petir seakan dunia mau kiamat. Penulis memperhatikan istri yang sedang menangis terisak isak. Namun, anak saya tetap tegar dan memberikan semangat terhadap penulis. “Tenangkan pikiran pak, gak apa apa pindah ruangan Isolasi, biar lebih tenang semangat pak,” imbuhnya menghibur.

Disaat pindah, menuju ruangan isolasi, isak tangis keluarga tidak terbendung seakan perpisahan terakhir. Tentu terbayang segala hal terhadap nasib pasien Covid 19.

Namun, setelah tiba diruangan isolasi ukuran 4 x 6. Penulis pasrah dan berDoa, kondisi apa dan akan bagaimana pun diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Apalagi, lesan dokter dan perawat, agar tetap menjaga pikiran supaya tenang dan jangan sampai terbebani masalah apapun. Tetapi, situasi di ruang isolasi, pikiran sangat terbebani.

Di ruang isolasi, penulis pun menjalani Swab Covid 19. Selanjutnya, dari keterangan dokter paru saat visid, Jumat (5/6/2020), hasil foto paru paru yang dilakukan pada Kamis (4/6/2020) masih terjadi radang paru paru maka harus dilakuan tambahan komsumsi obat.

Dan pada Sabtu, (6/6/2020) dokter memberitahukan hasil swab sample lendir dari tenggorokan dan hidung yang diambil pada tanggal 1 dan 2 Juni lalu terbukti positif terdapat virus yakni positif terpapar Covid 19.

Mendengar pernyataan dokter seketika pikiran lagi lagi ibarat disambar petir. Perasaan sangat sedih terus terbayang segala hal. Namun, hati pasrah dan ikhtiar Berdoa kepada Tuhan mendapatkan pertolongan.

Disaat mendapat perawatan di isolasi, Selasa 9 Juni 2020 sore, phisikolog meghubungi pasien via vidio call untuk memberikan semangat dan motivasi. Penulis disuruh agar tetap semangat dan menyarankan agar berusaha menenangkan pikiran dan membatasi membaca berita tentang Covid 19.

Bahkan, demi menghindari tambah beban pikiran disarankan agar tidak melakukan komunikasi kepada siapa pun kecuali Istri dan anak.

Kemudian, pada Kamis 11 dan 12 Juni 2020 dilakukan kembali Swab test untuk memastikan diagnosa infeksi virus corona masih ada. Namun, untuk menunggu hasil selama 4 hari, perasaan terus ketakutan. Tetapi tetap berdoa, agar Tuhan memberikan kepulihan.

Menunggu hasil swab, dan kondisi badan sudah sehat, mata selalu menatap jam dinding dan kalender yang tergantung. Perasaan yang sangat membosankan menunggu hasil Swab test terakhir. Berharap dan berdoa agar hasil pemeriksaan Negatif, Kapan bisa “lepas” dari jeratan ISOLASI yang menakutkan.

Satu minggu kemudian, menunggu swab Covid 19 gelombang ke 3 (ke 5 dan 6). Tepatnya pada 27 Juni 2020, hasil pemeriksaan Covid 19 dinyatakan Negatif. Dan pada 28 Juni 2020 penulis diperbolehkan pulang ke rumah.

Berkat kejadian ini, penulis menyampaikan puji syukur kepada Tuhan. Atas pertolongannya yang memberikan kesembuhan melalui pengobatan tim medis sehingga dapat beraktifitas kembali.

Begitu juga kepada dokter serta seluruh tim medis di rumah sakit yang tetap sabar memberikan pelayanan maksimal, ramah dan mensuport sehingga penulis tetap terhibur. Terima kasih kepada tim medis, kiranya Tuhan memberikan kesehatan dan segala keahlian dan kepintaran kepada pahlawan kesehatan menangani pasien. Tim medis patut jadi pahlawan dan wakil Tuhan menyampaikan pengobatan kepada pasien.

Tidak luput, ucapan terima kasih kepada istri tercinta, keluarga, sahabat dan seluruh yang tidak disebut satu persatu yang telah memberikan Doa dan semangat sehingga penulis dapat sehat kembali.

Mari kita sikapi wabah Covid 19 yang mewabah saat ini. Kiranya, kita semua dapat memahami dan mentaati anjuran pemerintah mengikuti protokol kesehatan. (penulis wartawan Geosiar.com/lambok manurung)

Advertisement