Connect with us

Dunia

Alasan Para Pemimpin Dunia Belum Ucapkan Selamat ke Joe Biden

Published

on

Joe Biden .(dok)

Geosiar.com – Ketika sekutu dekat lama Amerika Serikat dan mayoritas kepala negara dunia mengucapkan selamat atas kemenangan Joe Biden, sejumlah pemimpin dunia tetap bungkam meski Biden telah memastikan mayoritas suara elektorat dalam pemilu AS.

Hingga Senin, 9 November 2020, sejumlah kepala negara masih bungkam dengan kemenangan Joe Biden. Meski ada alasan untuk tetap bungkam, misalnya menunggu kepastian hukum pemilu AS, beberapa pemimpin memandang kemenangan Joe Biden sebagai dinamika politik yang bakal mempengaruhi hubungan bilateral AS sepeninggal Donald Trump. Berikut kepala negara yang belum mengucapkan selamat kepada Joe Biden.

Presiden Rusia Vladimir Putin


Vladimir Putin adalah salah seorang dari sekian kepala negara yang belum memberi selamat ke Joe Biden. Terlepas dari rivalitas dua negara adidaya, namun pada 2016, Kremlin langsung memberi selamat kepada Presiden Donald Trump beberapa jam setelah dia memenangkan 270 suara elektorat, menurut CNN, 10 November 2020.

Kremlin mengatakan pada hari Senin bahwa terlalu dini untuk mengakui Joe Biden pada saat ini, meskipun jaringan media AS memastikan Joe Biden menang pada Sabtu.

“Kami yakin benar untuk menunggu hasil resmi pemilu diumumkan,” kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan selama konferensi telepon, menurut kantor berita milik pemerintah Rusia, TASS.

Dalam banyak hal, tujuan Trump terkadang tumpang tindih dengan tujuan presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka berdua ingin NATO mengurangi perannya di Eropa, misalnya, meskipun untuk alasan yang berbeda. Rusia memandangnya sebagai ancaman yang dekat dengan perbatasannya dan bekas-bekas sejarah Perang Dingin, sementara Trump memandang aliansi sebagai sesuatu yang usang dan menghamburkan uang AS, menurut Quartz.

“Saya suka Putin, dia menyukaiku,” kata Trump dalam rapat umum video. Trump juga berpendapat bahwa Rusia harus dibiarkan kembali ke dalam Kelompok G7, sekelompok negara maju yang diusir setelah menginvasi dan mencaplok Krimea pada 2014.

“Biden akan bekerja keras dengan mitra dan sekutu untuk mendorong kembali apa pun yang Rusia rencanakan, apakah itu mencoba membunuh warga Rusia di luar negeri, atau membunuh pemimpin oposisi mereka sendiri seperti dugaan upaya dengan Alexey Navalny di Siberia, atau aktivitas di Suriah , Krimea, dan lainnya,” Kata Karin von Hippel, direktur jenderal Royal United Services Institute kepada CNN. “Jadi saya pikir Putin tahu bahwa akan ada lebih banyak upaya untuk mencoba menahan Rusia.”

Presiden Cina Xi Jinping

Pemerintah Cina pada Senin menghindari pertanyaan tentang kapan akan memberi selamat kepada Presiden terpilih Amerika Serikat Joe Biden atas kemenangan pemilihannya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina hanya mengatakan bahwa Cina akan bertindak “sesuai dengan praktik internasional.”

Lebih dari 24 jam setelah media AS menyatakan Biden menang, Cina tetap menjadi salah satu dari sedikit negara besar yang belum mengirim pesan ucapan selamat kepada Biden dan timnya atas kekalahan mereka atas Donald Trump, membuat banyak orang berspekulasi apakah pejabat di sana menunggu keputusan resmi.

Berbicara pada jumpa pers di Beijing pada Senin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan bahwa China telah mencatat deklarasi kemenangan Biden.

“Kami memahami bahwa hasil pemilihan umum akan ditentukan sesuai dengan hukum dan prosedur Amerika Serikat,” kata Wang, dilaporkan CNN. “Kami akan menangani masalah pernyataan (selamat) sesuai dengan praktek internasional.”

Wang tidak merinci apa yang dimaksud dengan “praktik internasional”, terutama mengingat sejumlah besar negara yang telah memberi selamat kepada Biden, termasuk Inggris, Australia, Israel, Prancis, dan Jerman.

Dalam editorial yang diterbitkan pada Ahad, surat kabar milik pemerintah China Daily mengatakan bahwa hubungan dapat “diatur ulang menjadi lebih baik,” terutama pada perdagangan, di mana kedua negara telah melancarkan perang perdagangan selama dua tahun yang merusak ekonomi dua negara.

Presiden Turki Recep Tayyip ErdoganPada Senin, Omer Celik, juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa di bawah pimpinan Erdogan, mengatakan mereka menunggu hasil pemilu diumumkan resmi.

Pernyataan itu muncul setelah berhari-hari bungkam atas hasil pemilu yang secara luas dipandang sebagai pukulan bagi Erdogan.

Sementara konsolidasi kekuasaan Erdogan tidak tertandingi oleh Trump, pemerintah Turki tampaknya khawatir bahwa Biden akan memperkenalkan kembali demokrasi dan wacana promosi hak asasi manusia ke dalam hubungan bilateral, menurut Asli Aydintasbas, seorang rekan di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri kepada Washington Post.

Sementara tokoh oposisi Turki menyambut baik kemenangan Biden. Kemal Kilicdaroglu, salah satu musuh Erdogan yang paling menonjol, mengatakan dia berharap untuk memperkuat hubungan Turki-Amerika dan aliansi strategis dua negara.

Singkatnya, dengan Trump menjabat, Erdogan sebagian besar telah diberikan hak untuk melakukan apa yang dia inginkan, seperti menekan oposisi di dalam negeri, menurut CNN.

Lain Donald Trump lain Joe Biden. Joe Biden tahun lalu pernah berbicara di edisi khusus “The Weekly” New York Times, mengatakan dia khawatir tentang Turki dan akan mengambil pendekatan yang sangat berbeda untuk hubungan dengan negara, termasuk mendukung kepemimpinan oposisi dan Kurdi.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro

Presiden Brasil Jair Bolsonaro belum memberi selamat atas kemenangan Joe Biden meski media utama AS memastikan kemenangannya atas Donald Trump.

Bolsonaro, yang mendapat julukan Donald Trump dari tanah Amerika Latin, telah mendekatkan hubungan lebih dekat selama pemerintahan Trump.

Mantan tentara yang memenangkan kepresidenan Brasil pada tahun 2018, meniru banyak taktik kampanye Trump, yakni dengan polarisasi politik.

Bolsonaro dan anak-anaknya – yang, seperti halnya Trump, memainkan peran aktif dalam politik dan Trump terpilih kembali.

“Saya berharap, semoga, segera muncul pada pelantikan Presiden Trump di Amerika Serikat,” kata Bolsonaro akhir bulan lalu, dikutip dari Washington Post.

Putranya, Anggota Kongres Eduardo Bolsonaro, yang mengenakan topi “Trump 2020” dalam perjalanan ke Washington sebagai utusan ayahnya, mempertanyakan suara Biden dan integritas pemilu AS di Twitter pekan lalu, CNN melaporkan.

Namun pekan lalu, Bolsonaro tampak menyesuaikan diri dengan kenyataan baru. “Saya bukan orang terpenting di Brasil, sama seperti Trump bukan orang terpenting di dunia, seperti yang dia sendiri katakan,” kata Bolsonaro pada Jumat.

Dengan kepergian Trump, Bolsonaro kehilangan sekutu diplomatik dan mendapati dirinya menghadapi Presiden AS yang lebih fokus pada hak asasi manusia dan lingkungan.

Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador

Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador membuat pernyataan hati-hati tentang pemilihan AS di mana dia tidak menyebut Joe Biden sebagai pemenang. Sebaliknya, dia mengatakan perlu menunggu sampai proses hukum untuk penghitungan suara selesai.

“Berkenaan dengan pemilihan AS, kami akan menunggu sampai semua masalah hukum diselesaikan,” kata López Obrador pada konferensi pers Sabtu, Reuters melaporkan. “Saya tidak bisa memberi selamat kepada satu kandidat atau yang lainnya. Saya ingin menunggu sampai proses pemilihan selesai.”

Lopez Obrador telah menjalin hubungan dekat dengan Presiden AS selama beberapa tahun terakhir, bahkan dalam menghadapi perundungan ekonomi dan retorika rasis Trump. Kedua pemimpin yang sama-sama populis dan telah membangun citra politik di atas kultus kepribadian, bertemu pada bulan Juli untuk merayakan implementasi kesepakatan perdagangan Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada.

Keengganan Lopez Obrador untuk memberi selamat kepada Biden mungkin disebabkan oleh persahabatan itu. Langkah tersebut juga bisa dimaknai sebagai kelanjutan dari tradisi politik luar negeri yang secara aktif menghindari mengomentari urusan negara lain.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un

Media pemerintah Korea Utara menahan diri untuk tidak menyebut pemilu AS, sementara negara saudaranya langsung mengucapkan selamat kepada Joe Biden.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in mengatakan pada Senin bahwa Korea Selatan akan memastikan tidak ada kesenjangan dalam aliansi dengan Amerika Serikat dan proses membangun perdamaian di semenanjung Korea, saat ia memberi selamat kepada Joe Biden atas kemenangan pemilihan presiden AS, Reuters melaporkan.

Tentu saja, pemerintah Korea Utara membatasi aliran informasi tentang kebebasan politik di tempat lain.

Sementara Trump mengklaim telah menikmati “persahabatan khusus” dengan Kim Jong Un, bertemu dengannya tiga kali dan terlibat dalam pembicaraan diplomatik, terpilihnya Biden bisa menjadi perkembangan yang tidak diinginkan bagi Pyongyang, menurut Washington Post. Media pemerintah Korea Utara pernah mengatakan Joe Biden pantas mendapatkan “hukuman tanpa ampun” karena menghina martabat negara.

Pada medio November tahun lalu kantor berita Korea Utara KCNA menyebut Joe Biden sebagai “anjing gila” setelah Joe Biden mengkritik Donald Trump karena memanjakan diktator kejam seperti Kim Jong Un.(tmp/red)