Connect with us

Lifestyle

Menghadapi Anak yang Suka Berbohong 

Published

on


Geosiar.com – Tidak ada orangtua yang senang anaknya menjadi pembohong. Untuk mencegahnya, orangtua harus membiasakan anak berbicara jujur sedari dini.

Namun, dalam situasi tertentu mungkin saja anak terpaksa berbohong. Bila mengetahuinya, orangtua perlu memberikan “hukuman” yang tepat agar menjadi pembelajaran sehingga anak tidak berbohong lagi di kemudian hari.

Berikut kiat memberikan “hukuman” pada anak agar tidak berbohong lagi di kemudian hari seperti diungkap Your Tango.

  1. Ajarkan tentang kebenaran tersembunyi

Setiap orangtua pasti pernah mendengar peribahasa “Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.”

Arti dari peribahasa tersebut adalah meskipun kebohongan ditutupi sedemikian rupa, pasti akan ketahuan juga.

Kenalkan konsep ini ke anak dengan cara memintanya membersihkan kulkas yang di dalamnya ada bahan beraroma busuk. Anak pasti akan berkomentar tentang aroma tersebut.

Orangtua bisa menjelaskan bila aroma ibarat kebohongan. Saat kulkas ditutup, aroma mungkin tidak tercium. Tapi ada kalanya kulkas dibuka yang membuat aroma busuk tercium.

Mengajarkan hal tersebut membuat anak mengerti, sepandai apapun ia berbohong, tetap akan ketahuan pada akhirnya.

  1. Menuliskan kalimat
    Saat kecil kita mungkin pernah disuruh menulis kalimat “Saya tidak akan berbohong lagi” sebanyak ratusan kali saat ketahuan tidak bicara jujur.

Hukuman tersebut bisa juga diberikan kepada anak. Secara tidak langsung, kata-kata itu masuk ke alam bawah sadar anak yang membuatnya berpikir dua kali sebelum berbohong.

  1. Ajak berbuat kebaikan

Selanjutnya, orangtua bisa mengajak anak untuk berbuat kebaikan lain. Misalnya membagikan makanan ke orang lain yang membutuhkan atau membantu pekerjaan rumah.

Orangtua bisa menunjukkan kebahagiaan saat anak berbuat kebaikan. Anak pasti senang bisa membuat orangtuanya bahagia.

Ingatkan kepada anak bahwa berkata jujur juga termasuk kebaikan dan apabila mereka bohong, orangtua akan sedih. Dengan begitu, anak termotivasi untuk terus berkata jujur karena tak mau membuat orangtuanya sedih.(kps/red)

Advertisement