Connect with us

Nasional

PP PMKRI Menyayangkan Tindakan Inteloran di Cikarang Bekasi

Published

on

Jakarta, Geosiar.com – PP PMKRI menyayangkan Tindakan Intoleran yang Terjadi di Cikarang, Bekasi pada hari Minggu, 13 September 2020. Berdasarkan video yang beredar di media massa, baik di Facebook maupun Youtube terjadi tindakan persekusi terhadap umat Nasrani yang sedang beribadah, aksi ini terjadi di Cikarang, Bekasi.

Press Release yang diterima Redaksi Geosiar.com, Rabu (16/9/2020) menjelaskan, tindakan intoleran seperti ini sangat disayangkan mengingat Indonesia adalah negara yang plural dan sangat menghargai kebebasan beragama.


Menyikapi hal ini, Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katholik Republik Indonesia (PP PMKRI) sangat menyayangkan kejadian ini. Dimana dalam amanat konstitusi, terkait dengan pengakuan, perlindungan, dan kebebasan memeluk agama sudah akomodir dalam amanat konsitusi, tepatnya di Pasal 29 UUD NRI 1945 sehingga segala tindakan persekusi terhadap umat beragama sangat tidak dibenarkan.


Tindakan intoleran seperti ini bukan kali pertama terjadi di Indonesia, sebagai contoh tindakan persekusi pada April 2020, menyerang hajatan keagaman di solo, pada 18 agustus 2020, dan beberapa kejadian lainnya.


Isu intoleran ini memang masih menjadi polemik yang belum juga menemukan titik terang.

Menurut riset Tirto.id tercatat pada tahun 2013-2018 terjadi 37 kejadian, mulai dari penutupan rumah ibadah, tindakan persekusi, dan proses pendirian rumah ibadah yang terbilang sulit.


Paulus Gemma Galgani, selaku Presidium Hubungan Masyarakat Katholik (PHMK) PP PMKRI mengatakan, “Mengecam tindakan intoleran berupa persekusi terhadap jemaat nasrani yang dilakukan oleh sekelompok warga (oknum) di Cikarang, Bekasi.”


Ia menambahkan, “Berkaca dari kejadian ini, Pemerintah dalam hal ini sebagai pemangku kebijakan harus mampu memberikan jaminan dan kepastian kepada setiap umat beragama dapat menjalankan keyakinannya masing-masing.

Konkretnya adalah membuat aturan yang tegas terhadap oknum-oknum pelaku persekusi, dan tindakan intoleran lainnya.”

Oleh karena itu, kiranya kejadian seperti ini tidak lagi terulang. Indonesia yang terlahir sebagai negara yang majemuk, kiranya dapat dimaknai sebagai kekayaan multikulturalisme dimana kita memiliki beban bersama untuk tetap menjaga kesatuan dan persatuan di bumi pertiwi, tutupnya.(rel/red)

Advertisement