Connect with us

Nasional

Kemenkes Sebut Tak Perlu Takut Positif Corona

Published

on



Jakarta, Geosiar.com — Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan (Yankes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Abdul Kadir mengatakan masyarakat tidak perlu takut dinyatakan positif Covid-19.
Ia menyampaikan ada stigma yang berkembang di masyarakat bahwa seolah positif Covid-19 itu menakutkan. Padahal, kata dia, tak semua orang yang positif Covid-19 menimbulkan gejala berat.

“Kita tidak perlu terlalu takut positif karena positif pun belum tentu kita sakit,” kata Kadir dalam Simposium Nasional Dies Natalis 64 Unhas yang disiarkan langsung akun Youtube FKM UNHAS, Selasa (1/9/2020).


Kadir mengatakan orang yang positif Covid-19 tanpa gejala hanya perlu mengisolasi diri di rumah, memperbaiki asupan gizi, dan meningkatkan imunitas.

Menurutnya, orang positif Covid-19 tanpa gejala juga tidak perlu dirawat di rumah sakit. Sehingga, kapasitas rumah sakit tidak penuh.

“Kita sekarang harus sepakat Pedoman Penanggulangan Covid-19 revisi kelima adalah [orang] yang dimasukkan ke rumah sakit [adalah] mereka yang [memiliki gejala] sedang sampai berat,” tuturnya.


Dengan kebijakan itu, Kadir mengklaim jumlah rumah sakit yang ada jauh dari penuh. Dia menyebut saat ini ada 839 rumah sakit yang melayani pasien Covid-19. Sementara tempat tidur yang terpakai (bed ocuppancy rate) baru 42,3 persen.

“Dengan demikian, tidak benar isu-isu yang mengatakan rumah sakit semuanya penuh, itu semua adalah hoaks sebenarnya,” ujarnya. “Rumah sakit kita tenang-tenang saja. Katanya di Jakarta meningkat, tetapi tidak semua harus masuk rumah sakit,” kata dia lagi.

Kasus positif Covid-19 di Indonesia per Senin (31/8) mencapai 174.796 orang, dengan 125.959 orang di antaranya dinyatakan sembuh, dan 7.417 orang telah meninggal dunia.


Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat 100 dokter telah gugur akibat Covid-19 per 30 Agustus. Terbanyak berada di Jawa Timur yakni sebanyak 25 dokter, kemudian Sumatera Utara 15 dokter, dan DKI Jakarta 14 dokter.

Kemenkes pun meresponsnya dengan santunan Rp300 juta. Padahal, IDI menyebut yang terpenting adalah perbaikan sistem dan insfrastruktur di rumah sakit serta perlindungan kepada tenaga medis.(cnn/red)

Advertisement