Connect with us

Nasional

PP PMKRI Gelar Diskusi Online : Indonesia Di Ambang Resesi Ekonomi

Published

on

Geosiar.com – Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) menggelar diskusi mengenai ekonomi bertema “Indonesia Di Ambang Resesi Ekonomi” pada Jumat, 21 Agustus 2020.


Diskusi dilaksanakan secara online dengan menghadirkan dua pakar ekonomi Indonesia, yakni mantan Menko Ekonomi, Rizal Ramli dan Peneliti di Bappenas, Setyo Budiantoro.
Diskusi tersebut dilaksanakan sebagai bentuk respon PP PMKRI terhadap persoalan ekonomi yang melanda Indonesia sejak adanya Pandemi Covid-19.


Dari Press Release yang diterima Redaksi Geosiar.com, Sabtu (22/08/2020) dijelaskan, dalam pemaparan materinya, Rizal Ramli mengatakan, bahwa kesulitan ekonomi Indonesia bukan saja karena Corona, tetapi lebih karena melambatnya pertumbuhan ekonomi yang telah terjadi sejak satu setengah tahun sebelumnya.


“Hari ini kita dalam suasana sulit. Bukan hanya karena corona. Karena kami sudah memperkirakan sejak satu setengah tahun yang lalu, ekonomi Indonesia sudah melambat, sudah lampu kuning bahkan lampu merah.”


Rizal juga mempersoalkan pernyataan menteri keuangan Indonesia, mengenai kondisi ekonomi Indonesia yang belum resesi. “Ada pernyataan yang tadi dari Menteri Keuangan yang tidak benar. Bahwa Indonesia belum resesi, karena pertumbuhan baru negatif kuartal II tahun 2020.”


Ia mengatakan, Indonesia saat ini sudah resmi memasuki masa resesi. Hal itu dikarenakan hitungan pertumbuhan ekonomi bukan secara tahunan (y-o-y). Perhitungannya adalah secara kuartalan (q-to-q) sebagaimana yang digunakan di seluruh dunia.


“Apa yang dilakukan pemerintah ini, dilaporkan sebagai minus 5,3 adalah negatif 5,3 dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun 2019. Istilahnya kuartal year on year. Itu sangat tidak lazim.”


Sementara menurutnya, ekonomi Indonesia sudah resesi sejak pengumuman pertumbuhan pada kuartal kedua karena dua kuartal berturut-turut dua kuartal terkontraksi.
“Sejak kuartal pertama, ekonomi Indonesia sudah terkontraksi. Setelah dibandingkan secara kuartalan, antara kuartal I tahun 2020 dengan kuartal IV 2019, Indonesia mengalami kontraksi sebesar 2,41 persen (q-to-q).”


Mengenai bagaimana ekonomi Indonesia di kuartal III, Rizal ramli mengatakan bahwa di kuartal ketiga ekonomi Indonesia bakalan bertumbuh negatif. Hal itu dikarenakan tidak adanya kebijakan pemerintah yang efektif mendongkrak perekonomian.
“Apakah kuartal III bakal negatif lagi. Mohon maaf, bakal. Karena tidak ada tanda-tanda kebijakan-kebijakan pemerintah efektif di lapangan.”


Prediksi mengenai negatifnya pertumbuhan ekonomi di kuartal III juga menurut Rizal, lebih disebakan oleh persentase pertambahan kredit dan penyerapan anggaran yang lemah. Pertambahan nilai kredit seharusnya minimal 15 sampai 18 persen.
“Dari segi fiskal realisasi anggaran rendah, hanya 20 %. Dari segi pertumbuhan kredit hanya 4 %.


Terkait recovery atau pemulihan ekonomi, Rizal mengatakan bahwa proses pemulihan ekonomi Indonesia akan panjang. Hal ini disebabkan oleh penanganan yang lamban dan tidak efektif.
“Kemudian juga, pola penanganannya lambat. Sehingga recovery ini juga lebih lama. Bisa-bisa recovery-nya makan waktu sampai satu setengah tahun.”


Ia membandingkan penanganan Covid-19 di beberapa negara yang cukup berhasil sehingga tidak perlu waktu lama untuk proses pemulihannya. Sehingga untuk pemulihan hanya dibutuhkan waktu setengah tahunan.
“Kalau kita efektif menangani corona, seperti di Vietnam, New Zeeland, Taiwan, Jerman, maka cepat pulihnya. Ini hanya perlu waktu enam bulanan kira-kira.”


Selain mengkritisi soal penanganan Covid-19 dan ekonomi, Rizal merekomendasikan sebuah kebijakan penting ke depan, terutama terkait terhambatnya proses pendidikan di tengah pandemi dengan menunda pelaksanaan Pilkada 2020.
“Kalau saya sih, saya tunda dulu Pilkada ini. Enam bulan atau satu tahun lagi. Duit yang 20 triliun kita belikan 30 juta handpone. Kita pasang satu juta wifi, di titik-titik, di Gereja, di Mesjid, di sekolahan. Supaya anak-anak bisa belajar yang benar.”


Setyo Budiantoro :


Sementara Setyo Budiantoro dalam materinya menekankan bahwa yang tak kalah berbahaya dari krisis ekonomi saat ini adalah adanya malnutrisi.
“Hal yang lebih mengkhawatirkan dari resesi adalah malnutrisi di keluarga miskin / rentan, dimana Lebih dari 7 juta balita mengalami pertumbuhan terhambat, bahkan sebelum pandemi (Unicef).


Bahwa berkurangnya pendapatan orang tua turut meningkatkan resiko malnutrisi bagi 24 juta anak di seluruh Indonesia, yang kemudian berakibat pada mundulnya brain development & kerentanan untuk sakit.
“Hilang / berkurangnya pendapatan orang tua meningkatkan resiko malnutrisi pada 24 juta balita seluruh negeri (Save the children). Dampak balita kekurangan nutrisi adalah persoalan brain development & rentan sakit seumur hidup.”


Untuk mengatasi persoalan tersebut, Budi menjelaskan agar perlunya realokasi anggaran di Kemenhan dan didistribusikan ke Kemensos untuk bisa menangani masalah malnutrisi ini.
“Oleh karena itu, kesimpulan dari berbagai macam data itu tadi. Menurut saya, perlu ada penghematan terutama kementerian pertahanan dan kepolisian, paling tidak 30 triliun untuk Kemensos. Kalau kita lihat sebelumnya tadi, Kemensos justru turun.”


Pasalnya Indonesia tidak sedang dalam keadaan darurat sipil, melainkan sedang dalam darurat ekonomi terutama berdampak ke malnutrisi.
“Menurut saya, Indonesia pada saat ini tidak sedang dalam posisi darurat sipil, tetapi darurat malnutrisi yang mengancam kemiskinan dan ketimpangan berkelanjutan .”


Meskipun demikian, Budi tak menampik bahwa kunci utama mengatasi masalah ekonomi saat ini adalah tergantung pada keberhasilan menangani pandemi Covid-19.
“Kunci pemulihan ekonomi adalah keberhasilan mengatasi pandemi. Bila ekspetasi positif, maka spending tidak akan ditahan”


Ia juga menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi saat ini sedang dalam pemulihan. Karena kontraksi terbesar terjadi pada bulan Mei 2020, tetapi setelah itu sudah terjadi proses pemulihan.
“Bulan Mei terjadi kontraksi paling besar. Adjustmen terjadi mulai Juni. Recovery mulai terjadi meski dalam bayangan pandemi.” (rel/red)

Advertisement