Connect with us

Dunia

Masjid Hagia Sophia, Politik Erdogan dan Nabi Muhammad 

Published

on

Ilustrasi : Hagia Sophia. (Foto/dok)



Jakarta, Geosiar.com — Salah satu situs bersejarah Hagia Sophia di Istanbul, Turki, menggelar salat Jumat perdana pada Jumat (24/7) setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengembalikan fungsi bangunan itu yang selama ini merupakan museum menjadi masjid.

Salat Jumat hari ini merupakan yang perdana sejak 86 terakhir setelah presiden pertama Turki, Mustafa Kemal Ataturk, mengubah status Hagia Sofia yang merupakan masjid di zaman Ottoman Turki menjadi museum.

Meski Hagia Sophia pernah difungsikan sebagai masjid selama 478 tahun sejak 1453, langkah Erdogan kali ini dikritik banyak pihak mulai dari negara Barat seperti Amerika Serikat, Yunani, Rusia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hingga Paus Fransiskus dan komunitas Gereja Kristen Ortodoks.

Sebagian besar umat Muslim di Turki bahkan dunia menyambut baik langkah Erdogan ini, terutama kaum Muslim konservatif. Mereka, tak terkecuali Erdogan yang merupakan lulusan “pesantren” Imam Hatip High School, menganggap penetapan Hagia Sophia sebagai masjid menunjukkan kekuatan Islam.


Erdogan menganggap mengembalikan Hagia Sophia sebagai masjid menandai era sekuler di Turki berakhir.


Namun, tak sedikit pula Muslim liberal menyayangkan perubahan status Hagia Sophia kembali menjadi masjid.

Menurut Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Komaruddin Hidayat, perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid tidak berhubungan dengan legitimasi pengaruh Islam di Turki bahkan kawasan.


Doktor Ilmu Filsafat Barat dari Universitas Teknik Timur Tengah, Turki, itu menganggap langkah perubahan status Hagia Sophia ini hanya lah kepentingan politik Erdogan saja.

“Tidak semata-mata perubahan Hagia Sophia menjadi masjid menandakan Islam berjaya. Di Timur Tengah memang cenderung ada pemimpin negara yang ingin tampil sebagai pemimpin umat Muslim dunia. Langkah ini bisa jadi langkah Turki yang ining menunjukkan bahwa mereka leader of the Muslim world,” kata Komaruddin kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (24/7).


Komaruddin mengatakan tidak relevan juga jika Erdogan mendasari keputusannya tersebut untuk menambah kapasitas ibadah umat Muslim di Istanbul. Ia menganggap dari segi fungsi tempat ibadah, perubahan Hagia Sophia sebagai masjid tidak lah mendesak karena di Istanbul banyak sekali masjid.

“Bahkan di sebrang Hagia Sophia berdiri masjid indah sekali dan besar dan masih sanggup menampung banyak jamaah. Jadi ini memang kepentingan dalam negeri Turki saja,” ujar Komaruddin.

“Beda cerita dengan negara-negara Eropa. Mereka butuh masjid karena sedikit sekali masjid karena itu tidak heran kalau banyak gereja dibeli untuk diubah jadi masjid. Lagi pula, gereja di sana banyak bangunan biasa jadi tidak punya nilai historis dan politis, beda dengan di Istanbul,” paparnya menambahkan.
Komaruddin menyayangkan langkah Erdogan ini. Menurutnya, Hagia Sophia merupakan bangunan yang memiliki nilai sejarah yang tinggi dan sepatutnya dipertahankan sebagai museum.

Berdiri gagah di tepi Selat Bosphorus, Istanbul, Hagia Sophia awalnya merupakan gereja yang dibangun Kekaisaran Roma saat menguasai Turki sekitar 1.500 tahun lalu.

Ketika itu Istanbul masih bernama Konstantinopel yang menjadi ibu kota Kekaisaran Romawi Timur, yang kelak disebut Kekaisaran Byzantium.

Pembangunan Hagia Sophia berlangsung enam tahun dan pertama kali dibuka sebagai gereja ortodoks setinggi dua lantai dengan kubah besar yang dikelilingi empat kubah kecil dan empat menara pada tahun 537.

Hagia Sophia bertahan sebagai gereja selama 916 tahun hingga tahun 1453, sebelum Kesultanan Ottoman akhirnya merebut Konstantinopel dari tangan Kekaisaran Byzantium.


Sang pemimpin saat itu, Sultan Mehmed II, langsung memerintahkan arsitek bernama Sinan untuk mengubah fungsi Hagia Sophia dari gereja menjadi masjid serta menutup ikon Kristen termasuk lukisan Kristiani di dinding-dinding bangunan tersebut dengan plester putih.

Mantan rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah itu menganggap keputusan Erdogan mengubah Hagia Sophia sebagai masjid menyalahi ajaran Al Quran dan Nabi Muhammad SAW jika dilakukan untuk menunjukkan kekuatan Islam dari agama-agama lain.

Mengutip Al Quran, Komaruddin mengatakan Islam bahkan tidak mengajarkan untuk menghancurkan apalagi mengubah tempat ibadah agama lain untuk dijadikan masjid.

“Itu kuat sekali tertulis dalam Al-Quran. Nabi Muhammad SAW bahkan sahabatnya, Umar bin Khattab, tidak pernah menghancurkan atau mengubah gereja menjadi masjid,” kata Komaruddin.

Senada dengan Komaruddin, kolumnis New York Times, Mustafa Akyol, turut menyayangkan langkah Erdogan ini.

“Sekelompok umat Muslim, termasuk saya, tidak nyaman dengan langkah bersejarah (Erdogan) ini dengan alasan: bahwa pemaksaan terhadap perubahan tempat beribadah atau kuil telah terjadi berkali-kali dalam sejarah manusia dari segala arah bahkan dapat diperdebatkan dari sudut pandang Islam murni,” kata Mustafa dalam tulisan kolomnya berjudul ‘Would the Prophet Muhammad Convert Hagia Sophia?’

Sama seperti Komaruddin, Akyol juga mengutip ajaran Al Quran yang tidak membenarkan penghancuran tempat ibadah agama lain meski wilayah tersebut didominasi umat Islam.

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

“Pluralisme agama tercermin dalam Al_Quran, ketika dikatakan Tuhan melindungi “biara-biara, gereja, sinagoge, dan masjid-masjid di mana nama Tuhan banyak disebutkan. Itu adalah satu-satunya ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan gereja dan hanya dengan nada terhormat,” kata Akyol.

Dalam kolomnya itu, Akyol juga bercerita bahwa semasa perang demi menyebarkan ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW tidak pernah memandang agama monoteisme lainnya seperi Yahudi dan Kristen bukan sebagai lawan, tetapi sekutu.


Ketika kaum Muslim dianiaya di Mekkah oleh kaum kafir, beberapa dari mereka lari dan berlindung di gereja-gereja Kristen di Ethiopia.

Akyol mengatakan ketika Nabi Muhammad SAW memerintah Madinah, ia bahkan menyambut sekelompok Kristiani di Kota Najran untuk beribadah di masjidnya sendiri.

“Tidak ada gangguan dengan praktik iman mereka, tidak ada uskup yang dipindahkan dari keuskupannya, tidak ada biarawan yang diusir dari biara, tidak ada biksu yang dipindahkan dari kuilnya pada masa itu,” ujar Akyol.

Akyol mengatakan tak hanya Nabi Muhammad SAW, Umar Bin Khattab pun tidak pernah mengganggu tempat dan praktik ibadah agama lain ketika memperluas pengaruh Islam. Saat Umar menaklukkan Jerusalem, para umat Kristen dan Yahudi di kota itu khawatir akan dibantai dan diusir.

“Namun, Khalifah Umar malah melindungi mereka. Orang-orang Kristen yang semula takut akan pembantaian malah menemukan rasa aman di tangan Umar. Umar bahkan memberikan keamanan terhadap harta benda, gereja, hingga salib mereka,” ujar Akyol.

“Gereja-gereja mereka tidak diambil dan tidak dihancurkan atau bahkan salib-salib mereka juga tidak dihapus,” paparnya menambahkan.(cnn/red)

Advertisement