Connect with us

Sumut

Fitriani Manurung : “Medan Butuh Sentuhan, Harus Diselamatkan”

Published

on

Medan, Geosiar.com – Hari jadi Kota Medan 1 Juli 2020, genap berusia 430 Tahun. Umur yang tentunya tidak muda sebagai sebuah Kota. Sebagai penyandang Kota ketiga terbesar di Indonesia dan nomor satu di Sumatera, Kota Medan masih menyisakan sejumlah permasalahan yang hingga kini belum juga tuntas.

Perubahan dari segenap lini perlu dilakukan Kota Medan, jika ingin Medan bisa bersaing dengan Kota-Kota lainnya yang kini sudah menunjukan geliat. Medan ditantang melakukan perubahan sebagai bukti bahwa Medan pantas disejajarkan dengan kota-kota terbaik di tanah air dan manca negara.

Terkait persoalan ini, tokoh perempuan Kota Medan Hj.Fitriani Manurung menilai Kota Medan harus terus dibenahi sebagai upaya memperbaiki reputasi sebagai Kota besar. Kandidar Doktor Universitas Negeri Medan (UNIMED) ini menyebutnya ‘Medan Perlu Diselamatkan’.

“Kalau boleh jujur, Medan hari ini memiliki anekdot yang sangat negatif di luar, Medan pernah mendapat julukan ‘Kota Sejuta Lubang’, ‘Hat rick Wali Kota bermasalah dengan hukum’, dan tentunya ini harus menjadi pelecut agar Medan bisa lebih baik lagi,” ungkap Hj.Fitriani Manurung, S.Pd, M.Pd kepada wartawan, Rabu (01/07/2020) saat ditanya tentang Kota Medan diHUT nya yang ke 430 tahun.

Berkaca dari itu, perempuan yang merupakan Bakal Calon Wakil Walikota Medan ini menilai ada beberapa permasalahan yang perlu terus dibenahi dalam rangka mengembalikan nama Kota Medan agar lebih baik lagi.

“Persoalan Infrastruktur, Pelayanan Publik, Fasilitas Publik, Ekonomi/kesejahteraan masyarakat, Pendidikan dan Kesehatan adalah persoalan yang harus dipecahkan satu persatu dalam upaya mengembalikan citra Kota Medan sebagai Kota besar yang modern,” papar Fitriani yang mengusung jargon “Jadikan Medan Lebih Baik” dan “Medan Butuh Sentuhan Ibu”.

Masalah infrastruktur, Fitriani menyinggung persoalan ini kerap menjadi masalah setiap tahunnya oleh karena buruknya kualitas pengerjaan serta tersentralistiknya pembangunan infrastruktur di inti Kota saja.

“Kita menyaksikan kawasan Medan Utara selalu menjadi kawasan yang terpinggirkan, sementara kawasan kawasan lainnya kerap mulus dengan polesan infrastruktur. Ini harus menjadi catatan ke depan.Pemerataan pembangunan di semua lini mutlak dilakukan kedepan begitu juga kualitas pengerjaan infrastruktur harus benar-benar diperhatikan,” ungkapnya.

Pelayanan Publik, persoalan ini menjadi salah satu yang penting diperhatikan sebagai Kota Besar. Buruknya pelayanan publik di satu Kota akan sangat memperngaruhi citra Kota tersebut. “Bayangkan saja, pelayanan publik sekelas kota besar harus menguras waktu dan tenaga sementara sebagai Kota Besar harunya mampu memberikan pelayanan yang cepat dan murah,” ucapnya.

Persoalan Pungli dalam pelayanan publik juga menjadi salah satu yang perlu diperhatikan. “Ini perlu komitmen bersama dalam menuntaskannya. Dan, hari ini di Medan praktek-praktek buruk semacam ini kerap terdengar,” katanya.

Persoalan selanjutnya adalah Fasilitas Publik. Sebagai Kota Besar, Perempuan berhijab ini mengatakan, ketersediaan fasilitas publik wajib dimiliki Kota Medan. “Ketersediaan fasilitas publik yang memadai adalah salah satu sarana yang mutlak dimiliki sebagai Kota Besar,” jelasnya.

Kemudian masalah Ekonomi dan Pendidikan yang patut mendapat porsi yang lebih. Ekonomi dan Pendidikan menjadi salah satu instrumen yang paling disorot publik, sejauh mana kesejahteraan masyarakat di satu kota tersebut dan bagai mana kualitas manusia yang tentunya dihasilkan dari pendidikan.

“Masalah ekonomi dan pendidikan juga harus dikuatkan dengan kebijakan anggaran yang baik, penguatan pengauatan terhadap keduanya harus maksimal dilakukan,” jelasnya. (rel/lm)

Advertisement