Connect with us

Dunia

Pekerja Kesehatan di Inggris Uji Coba Hydroxychloroquine

Published

on

Obat Chloroquine

Geosiar.com, Jakarta – Para pekerja kesehatan dari Inggris bakal mulai mengambil bagian dalam uji coba internasional guna membuktikan apakah obat malaria chloroquine dan hydroxychloroquine dapat mencegah Covid-19.

Penelitian bernama COPCOV itu bakal melibatkan lebih dari 40.000 tenaga medis yang bertugas di garda depan penanganan wabah yang berkontak dekat dengan pasien Covid-19, di Eropa, Afrika, Asia serta Amerika Selatan.

Uji coba itu dipimpin oleh Universitas Oxford dengan bantuan dari Unit Penelitian Obat-obatan Tropis Mahidol Oxford (MORU) di Bangkok. Penelitian itu akan terbuka bagi peserta dari Inggris mulai Kamis (21/5/2020), dijalankan beberapa rumah sakit di Brighton dan Oxford.

“Kami sungguh tidak tahu apakah chloroquine atau hydroxychloroquine bisa bermanfaat atau justru berbahaya untuk melawan Covid-19,” ujar Profesor Nicholas White dari Universitas Oxford, salah satu ketua tim penelitian.

“Cara terbaik untuk mengetahui apakah obat itu efektif mencegah Covid-19 adalah dengan melakukan uji coba secara acak,” jelas dia.

Nick Cammack selaku pemimpin percepatan pengobatan Covid-19 di Wellcome Trust—lembaga riset yang membantu mendanai uji coba itu—menyatakan hal serupa.

“Jika, dan hanya jika, obat-obatan itu efektif, maka bisa ditingkatkan (produksinya) dan disalurkan ke seluruh dunia secepatnya,” ujar Cammack.

Di Inggris, negara Eropa lain dan Afrika, para peserta akan diminta mengonsumsi hydroxychloroquine atau plasebo selama tiga bulan. Sedangkan peserta di Asia akan mendapat chloroquine atau plasebo.

25 lokasi uji coba rencananya akan dibuka di Inggris hingga akhir Juni, menurut keterangan MORU, dengan rencana pendirian lokasi berikutnya di Thailand dan negara Asia Tenggara lain, Italia, Portugal, Afrika, dan Amerika Selatan. Kemudian hasilnya diharapkan bisa diketahui akhir tahun ini.

Permintaan pasar untuk obat hydroxychloroquine melonjak usai Presiden AS Donald Trump mempromosikan penggunaan obat itu pada awal April, kendati sejumlah ahli malah tidak menyarankan obat tersebut.

Otoritas AS sudah mengizinkan penggunaan darurat hydroxychloroquine untuk pasien Covid-19, akan tetapi Badan Obat dan Makanan memperingatkan penggunaannya pada pasien di luar rumah sakit bisa memunculkan risiko gangguan detak jantung yang serius.