Connect with us

Fashion

Mengenal Tenun Ikat

Published

on

“Bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang menjunjung tinggi tradisi leluhurnya”.

Geosiar.com, Lifestyle – Kutipan ini menyiratkan makna yang amat dalam, yang memberikan pesan moral bagi generasi muda untuk senantiasa menjunjung tinggi dan memelihara nilai budaya lokalnya. Menurut Koentjaraningrat, (1974:118) Sifat khas suatu kebudayaan memang bisa dimanifestasikan dalam beberapa unsure yang terbatas dalam suatu kebudayaan, yaitu dalam bahasanya, dalam keseniannya (yang kuno warisan nenek moyang maupun yang kontemporer, termasuk misalnya gaya berpakian), dan dalam upacaraupacaranya (yang tradisional maupun yang baru). Ada macam-macam budaya lokal yang memiliki nilai filosofi yang tak terhingga, yang diwarisi oleh para leluhur bangsa ini. Salah satunya adalah pembuatan tenun ikat. Menurut sejarah, sebutan “Tenun Ikat” diperkenalkan pertama kali oleh seorang ahli etnografi Indonesia dari Belanda, G.P Rouffaen sekitar tahun 1900.

Indonesia merupakan masyarakat majemuk memiliki ragam budaya bernilai tinggi yang diwariskan secara turun– temurun sebagai cermin budaya bangsa. Salah satu warisan itu adalah budaya tenun. Budaya tenun merupakan bagian dari ragam budaya sebagai warisan budaya nusantara yang harus dilestarikan karena dapat memperkaya ciri khas bangsa Indonesia dengan motif dan coraknya yang beraneka-ragam. Perbedaan letak geografis Indonesia yang terdiri dari beberapa pulau mengakibatkan adanya keragaman jenis kain dan ragam hiasnya tersebut. Keberadaaan tenun ikat dalam kehidupan masyarakat memiliki peran dan bernilai sangat baik secara ekonomi, sosial dan budaya. Nilai-nilai ini dapat dilihat dari perilaku atau kebiasaan masyarakat Menenun adalah pekerjaan atau kerajinan tangan yang dikerjakan oleh kaum perempuan yang diturunkan kepada anak gadisnya dari generasi ke generasi. Namun dengan perkembangan zaman yang serba praktis dan penuh teknologi mempengaruhi anak muda saat ini, khususnya bagi remaja putri kurang akan kepeduliannya untuk melakukan tradisi turun menurun tersebut

Kain tenun ikat Sikka Flores adalah salah satu dari sekian banyak produk budaya tradisional khas Indonesia yang dibuat secara tradisional namun bernilai seni tinggi dan indah. Proses pembuatan produk warisan budaya khas daerah ini melewati sejumlah proses yang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Dibutuhkan ketekunan dan kesabaran untuk menghasilkan sehelai kain tenun ikat dimana hampir semua proses pembuatan kain ikat tersebut dilakukan secara tradisional dan manual serta menuntut ketekunan dan kesabaran tinggi. Kain tenun ikat sendiri biasa dipakai masyarakat berbagai suku di Sikka sebagai pelengkap busana, selain itu juga sebagai selendang atau sarung. Kain tenun atau sarung inipun banyak digunakan untuk perlengkapan dalam upacara adat misalnya : pernikahan, kelahiran, kematian, dan lain-lain. Proses awal tenun kain di Sikka dalam catatan sejarah, dieksplorasi secara hebat sekitar tahun 1600-an oleh Raja Don Aleksius Alesu Ximenes Da Silva, yang akrab disapa “Mo’ang Lesu” sebagai perintis tradisi tenun-menenum di kampung Sikka sejak tahun 1607.  Sebagai salah satu ungkapan rasa terima kasih atas jasanya, hingga kini kaum ibu selalu “mengabadikan” motif Rempe Sikka Tope pada salah satu jenis tenunan mereka karena motif tersebut merupakan salah satu motif kesukaan Mo’ang Lesu

Kini, Sikka menjadi sebuah kabupaten yang memiliki pengrajin tenun ikat yang sangat kuat dan menjadi salah satu sentra pengrajin tenun di Nusa Tenggara Timur.Setiap daerah di Flores menampilkan corak dan ragam hias serta warna yang berbedabeda. Keragaman motif kain tenun ikat Maumere bukan hanya sebatas kreasi seni, tetapi pembuatannya juga mempertimbangkan simbol status sosial, keagamaan, budaya dan ekonomi. Bahkan, ada beberapa motif tertentu yang pembuatannya melalui perenungan dan konsentrasi tinggi, motif dan ragam hiasnya mengandung nilai filosofis, penggunaannya diperuntukkan bagi hal-hal yang berkaitan dengan adat dan budaya, serta menjadikannya sebagai tradisi yang terwaris sampai hari ini. (Alexander 1995)

Jenis dan Makna Yang Terkandung

Jenis motif dan warna serta in unsur tertentu masih harus dibagi lagi untuk peruntukan si pemakai dari strata apa, usia, jenis kelamin, untuk kegiatan apa, dan kapan waktu dipakai. Jenis tenunan tersebut terdiri dari: Kain tenun ikat, Kain tenun prenggi, Kain tenun liin, Kain tenun neleng, Kain tenun itor. Jenis kain adat artinya full motif terdiri dari hurang kelang (jalur-jalur ikat dan non ikat) dan bermutu tinggi karena mempunyai nilai filosofi / pesan khusus dan prosesnya dengan upacara khusus dalam hampir tiap tahapan prosesnya. Lapisan-lapisan bagian motif yang disebut sebagai satu-kesatuan hurang kelang yang terdapat dalam suatu unsur kain tenun atau sarung berbeda tergantung pada jenis motifnya. Motif teridentifikasi pada bagian ina gete (main motif) yang merupakan nama dari motif kain tersebut. Banyak jenis motif sarung (utan Maumere) yang sering digunakan dalam upacara adat, antara lain tersebut sebagai berikut:

                                           Gambar 1. Motif “Manu Hutu”

Manu Hutu menunjukkan empat anak ayam yang mengelilingi dan yang dilindungi induknya. Motif ini menyimbolkan perlidnungan atau pengayoman.

                               Gambar 2. Gambar Sarung Motif Jarang Atabi’an

Dipakai sewaktu ada kematian dalam perlambang manusia menaiki kuda menuju alam baka c. Motif Orange Tulada

                                         Gambar 3. Sarung Motif Orange Tulada

Orange Tulada menyimbolkan pohon hidup yang memberi teladan. Warna asli dari kain Orange Tulada ini adalah merah atau biru gelap.

                                           Gambar 4. Sarung Motif Rempe Sikka

Sarung ini untuk upacara bagi pasangan yang agar hidup rukun

                                         Gambar 5. Sarung Motif Dala Mawarani

Dengan perlambang Bintang Kejora diharapkan dapat memberi penerangan atau petunjuk, juga sebagai media penolak bala. Arti dari Dala Mawarani adalah Bintang Kejora lambang kebijaksanaan dan kemurnian ; ”Dala Reta Waen – Mawarani Wali Rahang” artinya Bintang di dahi lambang kebijaksanaan, bintang di hati lambang kemurnian. Dipakai oleh gadis-gadis atau ibu-ibu bijak.

Selain daripada 5 motif di atas terdapat juga beberapa motif menarik lainnya yang menjadikan ciri khas tersendiri motif kain tenun dari Sikka. Motif-motif tersebut memiliki ciri khas tersendiri dan sarat akan makna dalam kehidupan sehari-hari orang Sikka dari dahulu hingga sekarang. Kain tenun khas Sikka biasanya selalu menggunakan warna gelap seperti hitam, coklat, biru, dan perpaduan biru hitam. Sedangkan motifnya ada beragam jenis yang khas, yaitu motif okukirei yang berdasarkan kisah tentang nenek moyang Sikka yang dulunya adalah pelaut ulung. Mulai dari udang, kepiting, sampan, hingga nelayan menjadi ciri khas bagi kain tenun Sikka ini. Selain itu ada juga motif mawarani yang dihiasi dengan corak bunga mawar. Motif ini merupakan ciri khas kain yang hanya dikenakan oleh putri-putri Kerajaan Sikka. Motif lainnya yang dipakai dalam kain tenun ini adalah motif burung, ular, dan kalajengking. Kemudian berkembang lagi menjadi motif ragam hias seperti ketupat dan bunga. Motif-motif kain tenun ini juga mempunyai arti simbolik yang berbeda-beda dan digunakan pada upacara adat yang berbeda pula, seperti Utang Moko yang digunakan untuk upacara perladangan, Utang Breke digunakan untuk upacara tolak bala, dan Utang Merak yang digunakan untuk pakaian pengantin perempuan Motif-motif yang dihasilkan sangat beragam dan bervariasi baik motif yang menampilkan keaslian sarung zaman dulu yang disebut Utan(g) Jentiu maupun motif kreasi pengrajin sendiri. Ikat Tenun Sikka memiliki kekhasan dan sangat populer baik nasional maupun internasional karena masing-masing motif mempunyai pesan moral tersendiri dan dapat dibedakan dengan jelas dari motif-motif daerah lain yang ada di Indonesia dan menjadi icon Pemerintah Kabupaten Sikka. Sampai sekarang sebanyak 52 motif Ikat Tenun Sikka telah mendapat pengakuan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Selain Ikat Tenun untuk menghasilkan Utan(g) yakni sarung wanita para pengrajin di Maumere juga melakukan tenun sulam untuk sarung laki-laki yang disebut Lipa. Ada beberapa jenis dan nama sarung laki-laki yaitu Lipa Prenggi, Lipa Loen Peten, Lipa Liin, Lipa Huran, Lipa Tokang. Bagi Masyarakat Kabupaten Sikka hasil tenunan berupa Utan(g) dan Lipa digunakan untuk upacara adat atau momen-momen kehidupan seperti kelahiran, perkawinan, dan kematian selain untuk dipakai  sebagai pakaian adat dan dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga .Berikut merupakan beberapa bentuk motif tenun dari Sikka.

Gambar 6. Motif –motif Tenun Sikka (facebook.com/TunggalHatiArt)

FUNGSI DAN NILAI – NILAI KAIN TENUN IKAT MAUMERE

Menenun, menenun dan terus menenun, sudah seperti ‘falsafah’ hidup bagi kaum perempuan di  Sikka. Tidak sedikit hasil tenunan dari karya tangan mereka yang dengan tekun mengikat benang, sabar merangkai motif, serta terampil dalam menenun. Sesungguhnya, ibu-ibu penenun ini, tidak hanya menenun selembar kain dengan nilai jual secara ekonomis, tetapi mereka juga merangkai dan menenun motif sejarah, budaya, nilai-nilai hidup, identitas kampung, pesan moral dan sosial, serta kekhasan mereka sebagai perempuan; kelembutan, kesabaran, rasa memiliki dan berbagai. Menenun “warisan” leluhur, agar generasi sekarang dan yang akan datang tidak lupa dengan warna budaya sendiri.

  • Faktor Budaya

Salah satu faktor penyebab sehingga orang Sikka memilih membuat kain tenun ikat sebagai sistim mata pencaharian hidup mereka yaitu faktor budaya, dimana diketahui menurut informasi yang diberikan bahwa pekerjaan turun temurun dari orang tua atau nenek moyang mereka. Pengetahuan dalam membuat kain tenun ikat diperoleh orang Maumere bukan karena dari pendidikan formal tetapi karena pengetahuan yang secara turun temurun dari nenek moyang.

  • Budaya Orang Sikka

 Budaya merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang dan diwariskan dari generasi kegenerasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, bangunan dan karya seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak dan luas. Unsur-unsur sosial budaya ini besar dan meliputi banyak kegiatan sosial masyarakat. (Stewart dan Sylvia 2005:)

Selain faktor budaya, salah satu faktor penyebab orang Sikka menjadi pembuatan ikat tenun atau pete perung juga adalah karena ekonomi. Karena menurut informasi yang diperoleh dari seorang informan bahwa hasil penjualan dan pendapatan dari pete perung sangat tinggi dan dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka. Fungsi Ekonomi misalkan Sarung dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan,keperluan adat istiadat

  • Fungsi Kain Tenun Ikat Dalam Masyarakat Sikka

Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam kekuatan yang harus dihadapi masyarakat dan anggotaanggotanya seperti kekuatan alam, maupun kekuatankekuatan lainnya di dalam masyarakat Sikka itu sendiri yang tidak selalu baik baginya. Kecuali itu, manusia dan masyarakat memerlukan pula kepuasan, baik di bidang spiritual maupun material. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tersebut di atas, untuk sebagian besar dipenuhi oleh kebudayaan yang bersumber pada masyarakat itu sendiri. Kain tenun ikat maumere yang juga merupakan bagian dari unsur kebudayaan yang sampai saat ini masih berkembang dengan pesat di  Sikka Baopaat mempunyai berbagai fungsi di daalam kehidupan masyarakatnya.

Adapun fungsi kain tenun ikat bagi masyarakat Sikka di Maumere adalah sebagai berikut. Kain tenun ikat Maumere mempunyai fungsi untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan adat istiadat dalam arti untuk memenuhi kebutuhan kehidupan mereka dalam artian dengan ada penghasilan kain tenun ikat tersebut mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka dan dapat menunjang kehidupan yang lebih baik, dan aktivitas sehari-hari yang berhubungan dengan keperluan di dapur seperti alat untuk memasak, alat untuk menyimpan dan sebagainya. Model-model kain tenun ikat maumere sebagai kebutuhan rumah tangga pada umumnya adat iastiadatnya, contoh perkawinan, orang meninggal.sambut baru atau disebut dengan komuni pertama. Kain tenun ikat maumere sebagai keperluan rumah tangga dan adat-istiadat sampai dengan saat ini masih diproduksi oleh para pengrajin di  Sikka ini masih banyak yang memakainya. Masyarakat Sikka masih tetap mempergunakannya karene mereka bias membuatnya sendiri. Walaupun sekarang zaman sudah modern dengan berbagai kain-kain yang diproduksi oleh pabrik dari bahan sutra, namun kain tenun ikat maumere dalam kegiatan-kegiatan perkawinan tidak mudah dapat digantikan dengan benda lain. Misalnya sarung diganti dengan uang, karena kain tenun ikat sudah menjadi tradisi buat orang maumere ketika ada pesta perkawinan.

  • Simbol Kedewasaan

Menenun bukan hanya sebagai pekerjaan tradisional dan penunjang ekonomi bagi kaum perempuan Sikka. Lebih dari itu, menenun menunjukkan identitas perempuan Sikka dan sebagai tanda kedewasaan untuk memasuki masa perkawinan. Kepandaian menenun menjadi ukuran seorang gadis dianggap sudah dewasa. Sebelum menikah, anak gadis harus pandai menenun karena kedewasannya diukur dari hasil tenunan mereka. Karena itu, kemahiran dalam menenun menjadi kewajiban tak tertulis bagi perempuan Sikka sebelum beranjak menikah.Kegiatan menenun juga digunakan sebagai sarana kaum perempuan Sikka menuangkan kreativitasnya. Karena sejak zaman dahulu, menenun menjadi kegiatan utama perempuan Sikka.

PERALATAN BAHAN DAN PROSES PRODUKSI

Proses pembuatan melalui beberapa tahapan, pertama yaitu menggulung benang, pencelupan, Benang Sutera yang masih putih dicelup sesuai warna yang dikehendaki, setelah itu dijemur dengan bambu panjang di terik matahari untuk membuat kain dan selendang (ukuran lebar kain 90 cm untuk selendang 60 cm, sedangkan panjangnya 165 hingga 170). Setelah benang kering maka akan dilakukan proses desain (pencukitan) dengan menggunakan bambu yang sudah di bagi dan di ikat dengan tali raffia sesuai dengan motif yang dikehendaki. Setelah proses pencukitan selesai maka akan dilakukan proses penenunan yang memerlukan waktu 2 minggu. Didalam proses penenunan ini benang lungsi sutera dimasukkan kealat tenun melalui sisir tenun dan henddle utama pada rangkaian kain yang membentuk pola simetris dan diisi oleh benang sutra dan benang warna tambahan. Alat yang digunakan untuk proses penenunan ini selain 1 (satu) set alat tenun, digunakan juga baliro yang digunakan untuk menyentak benang di lungsi dengan benang pakan. Benang pakan dimasukkan dengan menggunakan alat yang bernama bolen. Sedangkan untuk mempermudah benang pakan yang ada di bolen masuk ke lungsi teropong didorong melewati benang lungsi. Setelah benang di bolen lewat, baik benang sutera maupun benang warna ataupun benang liwar, maka dilakukan penenunan dengan menyentak benang dengan beliro yang dibantu dengan sisir tenun. Proses penenunan dimulai dari ujung kain, dilanjutkan sesuai dengan motif kain. Setiap motif mempunyai tumpal kain. Tumpal kain biasanya diletakkan di bagian depan ketika kain dipakai.

Peralatan dan Bahan Peralatan tenun ikat maumere, Peralatan itu pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi dua, yakni peralatan pokok dan tambahan. Keduanya terbuat dari kayu dan bambu. Peralatan pokok adalah seperangkat alat tenun itu sendiri yang oleh mereka disebut sebagai “panta”. Seperangkat alat yang berukuran 2 x 1,5 meter ini terdiri atas gulungan (suatu alat yang digunakan untuk menggulung benang dasar tenunan), sisi (suatu alat yang digunakan untuk merentang dan memperoleh benang tenunan), pancukia (suatu alat yang digunakan untuk membuat motif, dan turak (suatu alat yang digunakan untuk memasukkan benang lain ke benang dasar). Panta tersebut ditempatkan pada suatu tempat yang disebut pamedangan (tempat khusus untuk menenun), di depannya diberi dua buah tiang yang berfungsi sebagai penyangga kayu rita. Gunanya adalah untuk menggulung kain yang sudah ditenun Alat-alat tenun ikat dibuat secara khusus dengan menggunakan kayu yang terbuat dari taras asam yaitu bagian dalam dari pohon asam. Diayakini masyarakat di kabupaten Sikka,  dengan menggunakan kayu tersebut alat-alat yang digunakan untuk perlengakapan menenun terasa lebih kuat dan tahan lama dan tekstur kayu yang cocok. Sedangkan, yang dimaksud dengan peralatan tambahan adalah alat bantu yang digunakan sebelum dan sesudah proses pembuatan tenun. Alat tersebut adalah penggulung benang yang disebut ruwolot dan alat penggulung kain hasil tenunan yang berbentuk kayu bulat dengan panjang sekitar 1 meter dan berdiameter 5 cm.

Fasilitas Produksi dan Teknologi

 Proses produksi kain tenun ikat maumere sebenarnya cukup sederhana, asalkan tersedia bahan baku utama benang, pewarna (wantex). Bahkan teknologi pembuatannya juga sangat sederhana karena hanya memerlukan keterampilan tangan dan ketekunan, tanpa membutuhkan teknologi modern. Namun demikian kebutuhan akan inovasi dan kreativitas desain motif produk yang dinamis mutlak diperlukan sesuai dengan perkembangan zaman yang seringkali mengutamakan aspek seni dan artistik produk. Pembuatan kain tenun ikat maumere yang umum dilakukan pengrajin adalah tenun ikat maumere. Kain tenun ikat maumere adalah kain yang dibuat dari proses menenun oleh para wanita yang spesifik. Tenun sendiri merupakan kegiatan mebuat kain tenun ikat dengan cara memasukan benang pakan horizontal pada benang – benang lungsin. (“Mo’ang Lesu”,1607 ) Tenun adalah merupakan salah satu seni budaya kain tradisional orang maumere yang diproduksi di Wololora kabupaten sikka. Tenun ikat maumere memiliki makna, nilai sejarah, dan teknik yang tinggi dari segi warna, motif, dan jenis bahan serta benang yang digunakan dan tiap daerah memiliki ciri khas masing – masing. Tenun sebagai salah satu warisan budaya tinggi (heritage) merupakan kebanggaan orang maumere, dan mencerminkan jati diri mereka. Oleh sebab itu, tenun ikat baik dari segi teknik produksi, desaen dan produk yang dihasilkan harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya, serta dimasyarakatkan kembali penggunaannya. Pembuatan motif-motif merupakan salah satu daerah pengrajin tenun ikat. Dalam hal ini kampung Wololora menjadi pusat pengrajin tenun ikat maumere. Keistimewaan kain tenun di desa Wololora selalu menggunakan warna gelap: hitam, coklat, biru, dan biru – hitam ditambahkan hiasan sulur biru. Ada satu motif yang sangat indah, yakni motif mewarnai. Terdapat corak bunga mawar. Menurut cerita lisan turun – temurun, motif ini merupakan kain khas yang hanya dikenakan putri – putri kerajaan sikka. Motif mawarani paling digemari oleh pembeli kaum perempuan. Untuk membuat selembar kain tenun ikat dengan motif paling sederhana memerlukan waktu paling tidak satu bulan. 

Artikel ini dibuat oleh Mustika Mutiara Hati, Mahasiswa Program Pendidikan Vokasi Jurusan Hubungan Masyarakat Universitas Indonesia.