Connect with us

Dunia

Tewaskan 34 Orang di Gaza, Militer Israel Ngaku Bersalah

Published

on

Ilustrasi serangan udara tentara Israel di Gaza. [Foto: Menahem KAHANA / AFP]

Geosiar.com, Israel – Militer Israel akhirnya mengaku bersalah atas peristiwa serangan udara pada 14 November lalu yang menewaskan 34 warga sipil di Gaza, dimana sembilan korban tewas merupakan anggota satu keluarga.

Awalnya, Israel menargetkan rumah kepala unit roket Jihad Islam yang diidentifikasi sebagai Rasmi Abu Malhous dan saudaranya Mohamed. Rasmi Abu Malhous diyakini sebagai pegawai Otoritas Palestina (PA) di Gaza.

Namun, pada kenyataannya Rasmi Abu Malhous bukanlah kepala unit roket Jihad Islam melainkan warga sipil yang sama sekali tak ada kaitannya dengan Jihad Islam.

“Mereka memelihara domba dan nyaris selalu hidup susah sebelum mereka terbunuh,” tutur Anggota suku Sawarka Badui, Mohamad Awad yang juga tetangga keluarga tersebut kepada Aljazeera beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, militer Israel berdalih bahwa mereka telah mengumpulkan berbagai informasi intelijen terkait target serangan yang mengindikasikan bahwa rumah itu “ditetapkan sebagai kompleks militer organisasi teror Jihad Islam”.

Namun, penyelidikan militer kemudian menemukan “bahwa meskipun kegiatan militer dilakukan di markas, itu bukan kompleks tertutup, dan pada kenyataannya, warga sipil ada di sana,” demikian pernyataan yang dikutip dari Aljazeera, Kamis (26/12/2019). Tentara mengatakan akan belajar dari kesalahan untuk mengurangi terulangnya kejadian serupa.”

Sebagai informasi, adapun korban tewas yakni sembilan anggota keluarga Sawarka di Deil Al Balah. Lima korban adalah anak-anak. Kemudian, Rasmi, istri keduanya Maryam (45), dan tiga dari 11 anaknya yaitu Salim (3), Mohannad (12), dan Firas (3 bulan).

Kemudian, istri Mohamed, Yousra (39), dan dua putranya Moaaz (7) dan Waseem (13). Mohamed meninggal pada 22 November karena luka-lukanya. Korban satu keluarga ini adalah di antara 34 warga Palestina yang terbunuh dalam serangan udara Israel di Jalur Gaza selama dua hari pertempuran antara Israel dan kelompok Jihad Islam.