Connect with us

Nasional

Sel Setnov cs Kembali Jadi Sorotan, Ditjen: Lagi Ada Perbaikan

Published

on

Lapas Sukamiskin, Kota Bandung. (Foto: ANTARA/Bagus Ahmad Rizaldi)

Geosiar.com, Jakarta – Sel terduga kasus suap E-KTP Setya Novanto kembali menjadi sorotan Ombudsman RI. Pasalnya, sel yang ditumpangi Setya Novanto, Djoko Susilo dan M Nazaruddin lebih luas dari sel penghuni Lembaga Permasyarakatan (LP) Sukamiskin lainnya.

Menanggapi hal itu, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pemasyarakatan berdalih bahwa saat ini sel ketiga narapidana tersebut sedang dalam proses perbaikan.

“Terkait 3 kamar besar yang dipertanyakan komisioner Ombusmand, pihak Lapas Sukamiskin saat ini sedang melaksanakan perapihan seluruh kamar hunian, termasuk 3 kamar besar termasuk yang sudah ada diperkirakan 12 tahun yang lalu yang sebelumnya berfungsi sebagai ruang pengamanan blok dan mushola,” ujar Kabag Humas dan Protokol Ditjen Pemasyarakatan, Ade Kusmanto, Selasa (24/12/2019).

Adapun tujuan perbaikan tersebut agar seluruh sel sesuai dengan standar hunian berbasis Hak Asasi Manusia (HAM) pada awal tahun 2020. Selain itu, agar tak ada diskriminasi dalam pemberian fasilitas mewah atau perlakuan khusus kepada narapidana tertentu termasuk kepada Setnov, M Nazarudin, Djoko Susilo dan lainnya.

“Saat ini pihak lapas sukamiskin sedang melaksanakan perbaikan kamar hunian sesuai standar pola penempatan narapidana dengan mempertimbangkan unsur kelayakan hunian dari sudut pandang kesehatan, sanitasi, ventilasi, pencahayaan dan standar kelayakan pelayanan berbasis hak asasi manusia,” jelasnya.

Sebagai informasi, LP Sukamiskin dibangun pada tahun 1918 dengan gaya arsitektur Eropa. Lapas ini berbentuk bangun trapesium yang dirancang oleh arsitek Belanda Prof.CP Wolff Scjoemaker.

“Lapas sukamiskin memiliki jumlah kamar exicting 557 unit kamar terdiri dari 3 tipe kamar yaitu tipe kamar kecil ukuran 2,48 X 1,58 M sebanyak 476 kamar, tipe kamar sedang ukuran 2,48 X 3,3 M sebanyak 78 kamar dan tipe kamar besar ukuran 2,48 X 7 M sebanyak 3 kamar,” imbuhnya.

Seperti diketahui, Setnov divonis 15 tahun penjara atas kasus korupsi e-KTP, Djoko Susilo divonis 18 tahun penjara di kasus proyek simulator SIM, dan M Nazaruddin dibui 7 tahun penjara di kasus proyek Wisma Atlet. Namun, hukumannya ditambah 6 tahun penjara atas kasus pencucian uang.