Connect with us

Sumut

Tahun 2020 Angkutan Massal Layanan BTS Beroperasi di Medan, Organda Medan ‘Kawal’ 17 Pengusaha Lokal Ikut Tender

Published

on

Medan, Geosiar.com – Pihak Organisasi Angkutan Daerah (Organda) Kota Medan akan boyong 17 pengusaha angkutan kota (Angkot) asal Medan ke Jakarta untuk ikut ambil bagian tender pelayanan angkutan massal di Medan sistem skema pembelian layanan (Buy The Service/BTS).

“Minggu depan, sekitar 17 pengusaha angkutan lokal akan kita kawal ikut tender di Direktorat Jenderal Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) Kementerian Perhubungan RI. Kita pastikan pengusaha Medan siap mengisi koridor unruk operasional,” ujar sekretaris Organda Kota Medan Jaya Sinaga (foto) kepada Geosiar.com di Medan, Jumat (29/11/2019).

Dikatakan Jaya Sinaga, saat ini pihaknya dari Organda Medan dan pengusaha lokal (Medan-red) mendukung penuh konsep yang ditawarkan Ditjen Hubdat Kementerian Perhubungan RI. Dimana konsep tersebut sejalan dengan program Pemko Medan guna meminimalisir kemacetan lalu lintas di Medan.

“Sistem transportasi massal dengan pola BTS akan jauh lebih baik mengantisipasi kepadatan lalu lintas yang nyaris stagnan di kota Medan. Kita sebagai angkutan konvensional siap menjual layanan. Apalagi pemerintah siap subsidi layanan gratis ,” ujar Jaya Sinaga.

Selama ini diakui Jaya, angkutan di Medan terkesan ada tudingan miring ugal ugalan karena mengejar setoran. “Tetapi karena ke depan ada subsidi dari pemerintah untuk membeli layanan, kita pengusaha siap menjual layanan itu,” tegas Jaya Sinaga seraya menyebutkan ada sekitar Rp 100 Milar yang disiapkan pemerintah untuk subsidi.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya kepada wartawan Geosiar.com, Kasubdit Angkutan Perkotaan Ditjen Hubdat Kemenhub RI, B Wahyu Hapsoro menjelaskan pihaknya akan memberikan layanan lalulintas yang terbaik di kota Medan pada Tahun 2020.

Penerapan layanan itu yakni transportasi massal dengan skema BTS.

Bahkan, hal itu sudah disahuti Kepala Dinas Perhubungan Kota Mefan, dikatakan adapun sistem transportasi massal nanti biaya operasional angkutan disubsidi oleh Dirjen Perhubungan ke operator/perusahaan yang bentuknya konsorsium. Untuk itu, bagi seluruh pengusaha angkutan di kota Medan akan diberi kesempatan sebagai penyedia jasa angkutan berikut sopir yang berkualitas.

Ditambahkan, operator harus mampu menyiapkan berapa armada berikut sistem layanan yang dibutuhkan. “Siapa yang mampu memenuhi pelayanan itu akan dilelang. Bagi operator yang melanggar SOP tentu diberikan sanksi,” ujar Iswar.

Sedangkan Pemko Medan hanya mempersiapkan sarana pendukung untuk program itu. Seperti penyediaan fasilitas naik turun penumpang, penataan trayek feeder dan sosialisasi.

Lebih rinci lagi Iswar menjelaskan, rencana pengembangan koridor angkutan perkotaan sistem BTS di kota Medan direncanakan 8 koridor. Ke 8 Koridor yang direncanakan yakni koridor Terminal Pinang Baris – Lapangan Merdeka, Terminal Amplas – Lapangan Merdeka, Belawan – Lapangan Merdeka, Terminal Pinang Baris – Terminal Amplas, Terminal Pinang Baris – Sp Aksara/Jl Letda Sujono, Medan Tuntungan – Lapangan Merdeka, Tembung -Lapangan Merdeka dan koridor Deli Tua – Lapangan Merdeka. Dari ke 8 koridor hanya 5 yang akan direalisasi pada tahap pertama.

Diterangkan, Lapangan Merdeka hanya sebagai konektivitas, dimana bus yang dari beberapa koridor hanya lintas dan mutar disana. “Tidak ada tempat mangkal atau terminal disana. Bus yang datang dari Belawan atau Tuntungan misalnya langsung mutar balik. Di sana hanya perlintasan saja,” terang Iswar.

Sedangkan Pemko Medan tentu menyiapkan Halte di lapangan Merdeka. Fasilitas dan sistem sarana prasarana seperti informasi tentu secara inklut disiapkan operator.

“Nantinya, si operator harus menyediakan elektronik informasi tentang keberadaan bus yang rute lapangan Merdeka. Sehingga penumpang dapat mengetahui bus yang sedang ditunggu berada dimana. Berbagai pelayanan yang memudahkan penumpang akan kita terapkan disana,” jelas Iswar. (lamru)

Advertisement