Connect with us

Dunia

PM Irak Ajukan Memorandum Pengunduran Diri

Published

on

Perdana Menteri Irak (PM) Adel Abdul Mahdi. (Foto: AFP/AHMAD AL-RUBAYE)

Geosiar.com, Baghdad – Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi mengatakan akan mengajukan memorandum resmi pengunduran diri kepada parlemen. Keputusan itu diumumkan Abdul Mahdi pada Jumat (29/11/2019) usai ulama tertinggi Syiah Irak menyerukan perubahan pemimpin di negara itu.

“Saya akan mengajukan memorandum resmi pengunduran diri dari perdana menteri saat ini sehingga parlemen dapat meninjau kembali pilihannya,” ujar Abdul Mahdi seperti dilansir dari Time, Sabtu (30/11/2019).

Seruan itu dipicu oleh gelombang protes masyarakat yang tak kunjung mereda selama berminggu-minggu. Aksi itu telah merenggut nyawa 40 orang oleh pasukan keamanan karena telah memblokade jalan-jalan dan jembatan-jembatan penting di Nasiriyah, Irak Selatan.

Sebelumnya, Ayatullah Agung Ali al-Shistani meminta parlemen Irak untuk mempertimbangkan kembali dukungannya bagi pemerintah Abdul-Mahdi, di tengah-tengah meningkatnya kekerasan. Seruan itu dilontarkannya saat khotbah Jumat yang disampaikan di kota suci Najaf.

“Kami menyerukan kepada Dewan Perwakilan dari mana pemerintah saat ini muncul untuk mempertimbangkan kembali pilihannya dalam hal itu,” ujar al-Shistani yang menyiratkan bahwa ia menarik dukungannya untuk perdana menteri.

Persoalan ini berawal dari banyaknya langkah yang diambil Adel Abdul-Mahdi bertentangan dengan keinginan rakyat. Padahal, Abdul Mahdi baru diangkat menjadi perdana menteri sekitar setahun lalu. Demonstran anti-pemerintah Irak menyerukan penghapusan seluruh kelas politik yang telah memerintah Irak sejak jatuhnya Saddam Hussein pada 2003.

Tercatat, hampir 400 orang tewas dalam penumpasan berdarah atas aksi protes sejak 1 Oktober. Kebanyakan dari mereka adalah demonstran muda yang ditembak mati atau terbunuh oleh ledakan tabung gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan keamanan