Connect with us

Lifestyle

Hindari Hal Ini Kalau Ingin Hidup Mapan!

Published

on

Ilustrasi.

Geosiar. com, Lifestyle – Setelah bekerja keras, seseorang tentu ingin menikmati hasilnya. Misalnya menjadi seorang berkecukupan dengan sejumlah kebutuhan mendasar dan kebutuhan penunjang pada saat ini maupun di masa mendatang. Itulah kondisi seseorang bisa disebut kaya.

Namun, masih banyak orang belum mapan meski sudah punya pekerjaan tetap, rutin dapat bonus dari kantor. Kalau iya, mungkin kamu harus menyimak alasan-alasan di bawah ini mengenai kenapa orang gagal membangun hidup yang mapan.

Kurang menabung

Rata-rata, penduduk Indonesia hanya menabung 8% dari pengeluaran total mereka. Padahal kalau mau hidup mapan, kamu harus punya tabungan yang cukup. Tabungan juga penting supaya kamu nggak kocar-kacir dan terpaksa ngutang saat jatuh sakit atau ada kebutuhan mendadak.

Malas mencatat pengeluaran

Kamu nggak merasa kamu boros. Tapi, kamu sering kehabisan uang sebelum akhir bulan. Dan kamu nggak tahu apa yang salah.Mungkin uangmu habis sedikit demi sedikit untuk berbagai pengeluaran kecil yang terjadi berkali-kali. Solusinya: biasakan diri mencatat pengeluaran. Mulai dari rokok, kopi, sarapan harus dicatat semuanya. Dengan ini, kamu bisa tahu pengeluaran apa yang harus diminimalisir, dan bagaimana cara meminimalisirnya.

Suka ngutang

Beberapa jenis utang seperti KPR atau kredit modal usaha memang gak bisa terhindarkan. Tapi, kalau yang melilitmu adalah utang kartu kredit? Ingat, kartu kredit ibarat medan perang antara nasabah dan bank. Kalau nasabah menang, dia bakal dapat banyak diskon dan fasilitas tanpa harus tekor. Tapi kalau nasabah kalah, bisa-bisa dia kehilangan rumah.

Enggak punya rencana keuangan dan dana darurat

Iya sih, “rencana keuangan” mungkin terdengar membosankan. Tapi gimana bisa kamu mencapai sesuatu kalau kamu nggak tahu apa yang jelasnya mau kamu capai?

Selain itu, menurut para ahli keuangan, kamu mestinya punya dana senilai enam bulan gaji untuk sewaktu-waktu menutup keperluan darurat. Kamu atau anggota keluargamu bisa sakit mendadak atau terkena musibah. Kalau nggak punya dana cadangan, apa yang bisa kamu lakukan? Utang bukan pilihan, apa lagi mengingat bunganya.

Lebih suka mengeluh daripada berusaha

“Gaji kurang, lembur mulu!” “Nggak tahu lah. Kayaknya bakal kelilit utang seumur hidup.” Kalau memang situasimu nggak adil, pikirkan bagaimana caranya kamu bisa meminimalisir akibat ketidakadilan itu. Pikirkan betapa bahagianya kamu begitu bisa keluar dari situasi itu.

Enggak (mau) memikirkan masa depan

Makan malam di tempat mahal nggak jadi masalah buatmu, bahkan kalau kamu nggak punya apa-apa buat makan besok. Kamu nggak logis. Kamu impulsif. Dan kamu bangga akan itu. Mungkin sampai sekarang orang-orang di sekitarmu masih tahan dengan sifat borosmu. Tapi ingat mereka hanya akan ikhlas menolong kalau mereka tahu kamu usaha. Susah untuk percaya bahwa orang yang nggak berusaha pantas buat dibantu.

Enggak paham kerasnya hidup

Masalah utamamu bukan gaya hidup yang boros, bukan pula kecenderungan untuk ceroboh. Masalah utamamu adalah kamu nggak paham kerasnya hidup. Kamu selalu punya orang di belakangmu yang akan memikul akibat dari kesalahan-kesalahanmu. Kamu selalu yakin entah bagaimana bahwa Tuhan akan selalu mencukupkanmu.

Padahal, nggak ada orang yang pernah tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya besok. Kamu nggak akan tahu sampai kapan orang-orang akan tahan denganmu. Kamu nggak tahu sampai kapan Tuhan bersabar terhadapmu. Kamu bahkan nggak tahu kenapa dan untuk apa kamu hidup.