Connect with us

Sastra

Soal Pengusiran Wartawan, Dua Anggota DPRD Medan Buka Bicara, Ini Penjelasannya

Published

on

Medan, Geosiar.com – Dua anggota Fraksi PKS DPRD Medan yakni Irwansyah dan Abdul Latif Lubis angkat bicara soal pemberitaan pengusiran wartawan oleh staf sekretariat DPRD Medan. Apalagi pengusiran itu terjadi saat pertemuan dua anggota DPRD Medan dengan DPRD Bantul Yokyakarta Rabu (27/11/2019) di gedung dewan.

Kepada wartawan diruang kerjanya, Kamis (28/11/2019), Irwansyah menjelaskan, pengusiran wartawan oleh staf sekretariat DPRD Medan Ika Suafitri Dewi tanpa sepengetahuan mereke berdua.

“Wartawan keluar saat kami fokus berdialog dengan tamu. Cuman kami perhatikan staf tadi agak gelisah. Saat itu kami membicarakan anggaran reses dan sosper anggota dewan,” terang Irwansyah.

Ditambahkan Abdul Latif Lubis lagi, kemungkinan pengusiran wartawan karena saat staf DPRD Bantul mempertanyakan beberapa mata anggaran di sekretariat DPRD Medan. “Jadi bukan karena membicarakan pos anggaran reses dan sosper, kalau soal dana itu kami terang terangan,” sebut Abd Latif Lubis.

Terkait pengusiran wartawan itu, Irwansyah dan Abdul Latif Lubis akan mempertanyakan hal itu ke atasan Ika yakni Halidah. “Kita kan gak nyaman, saat pertemuan kita ada pengusiran wartawan. Sementara wartawan itu mitra kita,” sebut Irwansyah yang diamini Abd Latif Lubis. (lamru).

Advertisement

Sastra

Kelas Puisi BBSU Marakkan Gerakan Literasi Sekolah

Published

on

Medan, Geosiar.com – Balai Bahasa Sumatra Utara (BBSU) membuka kelas puisi tahap II untuk pelajar SMP Medan dan Sekitarnya, Minggu (17/3/2019). Sebanyak 30 pelajar pilihan yang telah mengikuti Kelas Puisi Tahap I kian antusias, melahirkan puisi, serta mendiskusikan karya mereka.

“Selain menjadi insan kreatif dan cinta puisi, kita berharap para peserta kelas puisi BBSU dapat memarakkan gerakan literasi di sekolah masing-masing,” ujar Kepala BBSU, Dr. Fairul Zabadi, usai memberikan materi literasi di sekolah kepada para peserta.

Fairul Zabadi mengemukakan, Kelas Puisi BBSU ini juga bermuara penerbitan buku puisi karya peserta. Penerbitan buku puisi ini diharapkan menjadi motivasi bagi pihak sekolah maupun pelajar-pelajar lain untuk menekuni puisi sekaligus memarakkan gerakan literasi sekolah.

Sebelumnya, Fairul Zabadi memberi pemahaman kepada para peserta. Pada masa lampau, terangnya, literasi dipahami sebagai kemampauan membaca, menulis, dan berhitung.

“Pada hari ini, pengertian literasi berkembang sebagai kemapuan memahami dan memanfaatkan hasil bacaan dan menulis untuk kecakapan hidup,” ungkap Fairul.

Dalam kesempatan itu, Fairul juga menyitir ungkapan futurolog, Alvin Toffle, yang menyebutkan orang yang tidak berliterasi pada abad 21 adalah bukan yang tidak mampu membaca dan menulis, tetapi adalah orang tidak bisa menjadi pembelajar: tidak bisa belajar, tidak belajar dan tidak mau belajar.

Dia juga menyampaikan agar para peserta dapat menjadi penggerak literasi di sekolah masing-masing. Tujuannya agar tercipta lingkungan sekolah yang gemar membaca dan menulis.

Kelas Puisi Tahap II ini juga diampu oleh Peneliti Muda Balai Bahasa Sumatra Utara, Nurelide, S.S., M.Hum, penyair Teja Purnama. Media video dan gambar digunakan untuk memicu gairah dan memantik imajinasi peserta.
Pada hari itu karya puisi peserta juga didiskusikan.

Dalam diskusi ini, penyair Teja Purnama lebih bertindak sebagai pendamping diskusi sekaligus memberikan masukan dan saran untuk perbaikan karya peserta.
Di awal diskusi, Teja menyebutkan, penyair atau akademisi bisa mengajari orang menulis puisi, namun kehidupanlah yang melahirkan seseorang menjadi penyair. (rel)

Continue Reading

Sastra

Ucapan Selamat Tahun Baru 2019 Keren Cocok Dibagikan

Published

on

By

Geosiar.Com, Inspirasi – Beberapa hari lagi tahun 2018 akan kita lalui dan memasuki tahun baru 2019. Bagi yang merayakan tentu tahun baru juga dilaksanakan sebagai ajang silaturahmi dan memberik ucapan selamat tahun baru kepada sesama , teman dan keluarga.

Ditengah jaman informasi teknologi saat ini, ucapan selamat tahun baru dapat disampaikan melalui media sosial, whatsapp, Sms dan lain sebagainya.

Baca Juga : Cara Bikin Stiker Ucapan Natal dan Tahun Baru di WhatsApp

Agar anda lebih mudah memberikan ucapans selamat tahun baru, geosiar.com sudah menghimpung beberapa ucapan selamat tahun baru dari berbagai sumber untuk anda jadikan sebagai referensi.

“Jangan sesali masa lalu
Jangan kuatirkan masa depan
Selalu ada Asa dan Harapan di Tahun Baru. Selamat Tahun Baru 2019, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Jangan sesali masa lalu, jangan mengkhawatirkan masa depan karena selalu ada harapan dan kemungkinan terbaik untuk awal yang baru. Karena tidak ada kata terlambat untuk memulai berbuat baik, Selamat Tahun Baru 2019, Mohon Maaf Lahir dan batin”

“Tahun baru bagaikan membuka lembaran baru yang berupa kertas kosong, kertas yang akan kita tuliskan berbagai kata dan makna kehidupan di tahun yang akan datang. Selamat Tahun Baru 2019 semoga di tahun ini penuh dengan kebahagiaan, kesenangan, kesehatan, kesuksesan dan kedamaian selalu menyertai kita semua.” Mohon Maaf Lahir dan batin.

“Setiap pergantian tahun, berarti umur kita semakin berkurang. Oleh karena itu, janganlah kamu menyia-nyiakan waktu yang ada. Karena waktu tak akan pernah kembali. Tahun baru, semangat baru, untuk memperbaiki diri di tahun 2019 yang baru ini.” Selamat Tahun Baru, Mohon Maaf Lahir dan batin.

“Mari kita tutup lembaran kusam di tahun 2018, mari menyongsong tahun baru 2019 dengan sebuah lembaran putih, mari belajar dari kesalahan di tahun sebelumnya, dan mari menjadi pribadi yang lebih baik lagi di tahun ini.” Selamat Tahun Baru, Mohon Maaf Lahir dan batin.

“Tidak akan ada ucapan tahun baru dariku karena itu akan menjadi biasa. Tidak akan ada sms selamat 2019 di handphonemu karena inboxmu sudah penuh akan itu. Dariku yang istimewa untukmu adalah do’a dan harapan agar ditahun mendatang kebahagiaan senantiasa menyertaimu.” Selamat Tahun Baru 2019 , Mohon Maaf Lahir dan batin..

Jadilah cahaya dalam balutan kegelapan yang kelam, jadilah inspirasi yang mampu memberikan pencerahan. Selamat tahun baru 2019! Selamat Tahu Baru, Mohon Maaf Lahir dan batin.

Continue Reading

Sastra

Cerita Ibu

Published

on

Ilustrasi

 

Geosiar.com, Cerita Pendek

Cerita Ibu

Oleh : Mirza Fahmi

Tidak banyak hal yang bisa kukatakan tentang Ibuku, dan aku tak pernah sekalipun coba menerka. Sewaktu kecil, Di rumah yang hanya diisi kami berdua praktis Ibu jarang berbicara tentang dirinya sendiri. Kalaupun ada yang masih sanggup diserap ingatan kecilku, adalah tentang dongeng-dongengnya.

Ya, jika kau bertanya tentang apa yang bisa kuingat dari Ibu, adalah tentang dongeng yang tak habis-habisnya. Berbeda dengan Ibu-ibu lain yang menjinakkan keliaran anaknya dengan sentilan kuping atau cubitan tangan, Ibuku selalu memakai dongeng. Jika aku malas bangun, segera akan kudengar kisah si rusa yang tak sadar kalau tempat yang ditidurinya adalah punggung buaya. Belum lagi kisah kera yang pipis sembarangan. Yang paling kuingat adalah Kebun Binatang yang dihuni satwa dengan berbagai macam Phobia, aku Ingat berulang kali aku ketiduran, sampai Ibu akhirnya membahas Ular -binatang favoritku saat itu- yang takut akan gelap.

Dongeng Ibu seperti tidak pernah kehabisan energi untuk menyenangkanku, hingga suatu saat aku sempat berpikir untuk berbuat nakal dengan sengaja, agar dongeng itu bisa kudengar lagi. Tak jarang cara ini berhasil. Kuakui aku sudah semakin mahir menebak polanya. Tidak ada omelan, teriakan atau apapun dari arah pintu. Pertama, Ibu akan diam, melihat kearahku sambil tersenyum, lalu mengisyaratkan agar aku duduk di sampingnya. Dongeng akan segera dimulai.

Seperti kubilang tadi, kami hanya tinggal berdua. Sehingga dengan kondisi rumah yang lapang, tak jarang aku bermain di ruang tamu, terutama di hari-hari hujan. Ibu yang memang jarang melarang membolehkan saja asal “ Jangan sampai bikin berantakan..”.

Namun suatu saat aku tak sengaja memecahkan pigura foto kesayangan ibu karena terlalu asik dengan bolaku. Aku tahu betul pigura itu adalah benda yang paling ia perhatikan dari seluruh barang-barang ruang tamu. Tiap pagi, benda itulah yang selalu ia bersihkan terlebih dahulu.

Aku tahu Ibu sudah sejak awal mengawasi dari balik lemari piring. Dengan gugup aku berusaha membereskan sisa-sisa pigura itu, berisi foto besar yang tertutup pechan kaca., aku mendongak dan melihat muka Ibu yang muram menyaksikan pecahan kecil kaca pigura.

“Maaf..”

“Tidak apa-apa..sini duduk dulu..”

Tangan luwesnya menyuruhku kembali duduk disampingnya, meski kupandang kenakalan ini layak diganjar lebih dari sekedar dongeng. “ Maaf..” Kataku lagi seakan cukup untuk memperbaiki pigura yang sudah berceceran, didalam hati aku mengutuk bola kempes sumber semua ini. Perkataan Ibu setelahnya, kurasa, tak pernah aku duga :

Pada suatu zaman, ada sebutir debu yang selalu dibawa angin kesana kemari. Ia tak pernah tahu asalnya dari mana dan kemana ia akan menuju. Sepanjang hari, Debu melintasi gunung, lembah, dan lautan tanpa henti. Pada awalnya, ia begitu menikmati kesehariannya. Pemandangan yang selalu berganti, musim berubah di berbagai tempat yang dikunjungi, dan tabiat orang-orang di sana sini. Semua ia lihat dengan senang hati dari atas, kemanapun angin bertiup membawanya.

Namun suatu hari, ia merasa jenuh dengan rutinitas tanpa hentinya. Sering ia melihat dari ketinggian rumah-rumah manusia, gubuk hangat, dan manusia yang bergembira didalamnya. Ia iri. Ia ingin juga merasakan hal yang sama. Menetap di satu tempat. Merasakan sesuatu yang disebut rumah. Perjalanannya dirasa sudah cukup.

Aku merasa aneh mendengarnya, selain karena cerita yang jauh berbeda dengan biasanya. Ibu tak pernah sekalipun melihat kearahku ketika bercerita. Ia melihat pagar kami, yang memang bisanya dibiarkan terbuka sedikit, “ Agar gampang keluar masuk “ Jelas Ibu tiap kali ditanya tetangga-tetangga. Meski yang keluar-masuk disana Cuma kami berdua.

Tarikan nafas Ibu menandakan ia tak ingin disela, dan aku membunuh keinginanku untuk bertanya saat itu juga.

“Hei angin, sampai kapan kita akan seperti ini? terus terbang tak kenal arah?”

Angin lama tak menjawab, debu paham betul sifat kawan satu-satunya ini. Ia lambat berpikir. Dan debu harus sabar menunggu agak alam sampai angin menjawab dengan suara beratnya, “Aku tak tahu…”

Debu sudah tahu sebelumnya apa jawaban si angin, meski didalam hati ia terus mengharapkan jawaban yang berbeda. Debu memutuskan tidak bertanya-tanya lebih jauh lagi. Dan Pemandangan manusia, rumah, dan aktivitas mereka mulai cukup mengganggu kesehariannya kini.

Hingga ketika rutinitas debu mengharuskannya melihat lagi tempat-tempat indah – yang ia sadari besok pagi tak akan dilihatnya lagi -. Debu Berteriak “Hey Angin, Aku sudah bosan!” Debu kali ini sudah muak.

Angin berhenti sejenak, menatap temannya yang baru kali itu berbicara keras kepadanya. “Aku sudah bosan ikut-ikut perjalananmu lagi, sekarang aku ingin tempat tinggal, aku berhak untuk itu…” Kata debu dengan suara naik turun ditelan bunyi laju angin. Angin hanya diam, dia seperti biasa, lambat menjelaskan pikirannya kedalam ucapan. Setelah jeda yang cukup lama ia pun hanya mengeluarkan 3 patah kata, “Aku Tak Tahu..”

Debu marah, namun kali ini tanpa teriakan, ia tahu angin tidak salah. Angin hanya membawa debu, bukan keinginan angin untuk menerbangkan debu kesana kemari tanpa henti. Debu yang putus asa, tak berkata sepatah katapun lagi, memilih terus melihat tempat indah dibawah sana, tahu kalau saat ia membuka matanya esok hari, tempat itu pasti telah berganti. Dan terus egitu sampai ia tak akan peduli apapun lagi.

*ending

Continue Reading
Advertisement

BERITA NASIONAL

Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com