Connect with us

Sumut

RE Nainggolan Sindir Gubernur Edy: Jangan Nonjobkan Adik-adik Saya yang Bermarga

Published

on

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi bersama RE Nainggolan dalam acara Temu Ramah Tokoh Masyarakat Kristen di Aula Rumah Dinas Gubernur, Medan, Selasa (19/11/2019). [Foto: Biro Humas Setdaprovsu/Imam Syahputra]

Geosiar.com, Medan – Tokoh masyarakat Kristen Sumatera Utara (Sumut) Rustam Effendy atau RE Nainggolan memberikan sindiran menohok kepada Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi, saat memberi kata sambutan dalam acara Temu Ramah Tokoh Masyarakat Kristen di Aula Aula Rumah Dinas Gubernur, Medan, Selasa (19/11/2019).

Dalam sambutannya, RE Nainggolan mengatakan, sejak dilantik jadi Gubernur dan Wakil Gubernur, Edy Rahmayadi dan Musa Rejekshah disambut antusias oleh semua suku dan agama di Sumatera Utara. Hal itu menunjukan bahwa keduanya diterima memimpin Sumut. Namun dalam kesempatan yang sama, RE Nainggolan juga melontarkan sindiran agar Edy Rahmayadi tidak membeda-bedakan masyarakat terkait masalah pekerjaan.

“Namun dalam suatu kesempatan, saya juga membisikan kepada Gubernur agar jangan menonjobkan adik-adik saya yang bermarga itu,” sindir RE Nainggolan yang disambut tepuk tangan semua undangan.

Menurutnya, selain mengkoordinasikan pembangunan, seorang kepala daerah juga bisa membina masyarakat. Dia berujar, segenap unsur kemasyarakatan harus tercermin secara seimbang, selaras dan serasi, sehingga semua dapat bersukacita dan bersemangat dalam membangun Sumut.

Lebih jauh, dia mencontohkan kepemimpinan pahlawan nasional asal Tanah Batak, Raja Sisingamangaraja XII, yang memiliki Panglima dari Aceh, sahabat dari Tanah Karo, teman setia dari Simalungun dan daerah lainnya. Disebutnya, Raja Sisingamangaraja XII dapat bertahan dalam peperangan sejak 1878-1907 atau 29 tahun lamanya karena ditopang berbagai pilar, baik pilar dari Aceh, Karo, Dairi dan lain sebagainya.

Dari contoh ini, RE Nainggolan berharap Pemprov Sumut bisa belajar bahwa pembangunan daerah dapat sukses dan bertahan bila ditopang berbagai pilar, baik dari segi agama, suku, dan budaya.

“Mungkin kalau hanya orang Samosir saja yang mendukung beliau, mungkin hanya 3 tahun saja sudah tewas beliau. Tapi karena didukung semua unsur, maka Raja Sisingamangraja XII bisa hampir 30 tahun berjuang. Saya pikir dalam konteks itulah kita sangat berkeinginan Sumut harus dapat semakin berkembang,” jelasnya.

“Itu mungkin tercapai jika kita dapat bersama seiring, sejalan untuk membangun Provinsi Sumut ini ke depan. Sebab persoalan kita banyak saat ini, apakah itu persoalan toleransi, persoalan radikal dan persoalan lainnya,” pungkasnya.