Connect with us

Sumut

Dinas Ketapang Sumut Tanggap Penyebaran Virus Hog Cholera

Published

on

Upaya Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara dalam mencegah penyebaran virus hog cholera yang menyerang ternak babi. [Foto: art/Geosiar.com]

Geosiar.com, Sergai – Virus hog cholera tengah menjadi permasalahan serius di kalangan para peternak babi dan juga pemerintah. Setidaknya sekitar empat ribu ternak babi mati akibat terjangkit virus yang juga dikenal sebagai Classical Swine Fever (CSF) ini. Hal tersebut diinformasikan oleh Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara, ungkap Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Serdang Bedagai (Kominfo Sergai) Drs H Akmal kepada wartawan, Kamis (7/11/2019).

Dikatakan Akmal, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) merupakan salah satu daerah yang terdampak penyebaran virus hog cholera, bersama 6 kabupaten lainnya, yakni Dairi, Humbang Hasudutan, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Karo, dan Deli Serdang. Tercatat, ada sekitar 500 ekor babi yang dilaporakan mati di Kecamatan Sei Bamban, tepatnya di Desa Pon, Gempolan, dan Desa Sei Belutu.

Lebih lanjut, Akmal mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sergai melalui Kadis Ketapang M Aliuddin diwakili Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, drh. Andarias Ginting melaporkan, jika sudah dilakukan tindakan cepat tanggap berupa penanggulangan dan usaha preventif, yaitu dengan melakukan penyuluhan dan edukasi kepada peternak dan stakeholder di Desa Sei Belutu tentang pencegahan agar virus tidak menyebar ke wilayah lain.

Selain itu, lanjutnya, telah dilakukan pendataan terhadap peternakan babi yang berpotensi terserang penyakit. Pendataan tersebut diperlukan untuk mendapatkan data yang konkrit menyangkut populasi ternak babi se-Kabupaten Sergai sehingga dapat diambil langkah tindak lanjut.

“Tak hanya itu, telah dilaksanakan juga peninjauan lokasi bagi peternakan babi di wilayah yang terindikasi terjangkit penyakit kolera babi dan melakukan penyuntikan kekebalan atau daya tahan terhadap penyakit pun sudah dilakukan. Penyuntikan hewan ternak babi ini bekerja sama dengan bidang kesehatan hewan pada Dinas Pertanian Provsu,” ujar Kadis Kominfo saat dikonfirmasi.

Akmal menambahkan, Dinas Ketapang juga sudah melaporkan secara detail persoalan ini kepada Dinas Ketapang Provinsi Sumut, Balai Veteriner Medan, dan pusat melalui laporan Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (Isikhnas).

Dinas Ketapang tak lupa melakukan sosialisasi kepada petugas lapangan dan masyarakat melalui penyuluhan-penyuluhan intensif, terutama tindakan yang harus diambil terhadap ternak yang mati agar bangkai ternak segera dibakar atau minimal dikubur, bukan dibuang sembarang.

Selain itu, lanjutnya, melakukan koordinasi dengan petugas peternakan, PPL, dan stakeholder juga aktif dilakukan untuk menyatukan pengertian dalam menghadapi permasalahan ini. Terbaru, pada tanggal 1 November lalu, Balai Veteriner Medan juga turun bersama-sama dengan Dinas Ketapang untuk melakukan investigasi di Desa Gempolan dan Penggalangan, Kecamatan Sei Bamban.

“Hasil dari investigasi mengunggkap jika sudah mulai terjadi kematian ternak sejak bulan Agustus. Dalam investigasi ini juga sudah dilakukan pengambilan sampel darah dan organ untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium. Tak hanya itu, Dinas Ketapang juga telah melakukan imbauan dan sosialisasi kepada seluruh masyarakat melalui Radio Sergai FM,” terang Akmal.

Pemberian disinfektan berupa cairan semprot cuci kandang jenis glutanol dengan turun mendistribusikan ke masyarakat juga sudah dilakukan oleh Dinas Ketapang. Disinfektan ini memang tidak bisa menyembuhkan ternak yang sudah terjangkit karena virus hog cholera belum ditemukan obatnya. Namun, pemberian disinfektan terbukti berdampak cukup signifikan terhadap penurunan jumlah ternak yang mati.

Menurut keterangan Adarias Ginting, tambah Akmal, walaupun gejala yang ditunjukkan hewan ternak yang mati cenderung persis seperti simtom virus hog cholera, namun pihaknya masih menunggu Kementerian Pertanian untuk merilis pernyataan resmi perihal jenis penyakit dan tindakan lanjutan lain yang perlu diambil. (art)