Connect with us

Politik

Kabinet Baru Nihil PAN dan Demokrat

Published

on

Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. (Foto: detik.com)

Geosiar.com, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Wakil Presiden Ma’ruf Amin telah mengumumkan 34 nama menteri yang bakal membantunya selama lima tahun ke depan, Rabu (23/10/2019) pagi.

Adapun komponen Kabinet Indonesia Maju berasal dari berbagai latar belakang di antaranya pebisnis, politisi, dan mempunyai posisi dalam lembaga atau setingkat menteri. Dari ke-34 menteri, sebanyak 16 nama berasal dari partai politik. Namun, tidak satupun yang berasal dari Partai Demokrat dan PAN.

Padahal, sebelumnya Presiden Jokowi telah melakukan serangkaian pertemuan dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Kamis (10/10/2019) dan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan di Istana Kepresidenan, Jakarta pada Senin (14/10/2019).

Lantas, apa yang menyebabkan tidak terpilihnya Demokrat dan PAN untuk mengisi jabatan dalam kabinet Jokowi-Ma’ruf?

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menduga, gagalnya Demokrat masuk dalam kabinet lantaran terganjal restu dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri yang selama ini disinyalir memiliki hubungan kurang harmonis dengan SBY.

“Hubungan SBY dan Megawati tidak pernah harmonis. Kedua tokoh ini sulit untuk disatukan sehingga ini mungkin menjadi ganjalan bagi Demokrat untuk mendapatkan jatah menteri di kabinet Jokowi-Ma’ruf,” tutur Adi kepada Tribunnews, Selasa (22/10/2019).

Ketimbang masuk koalisi, Adi lebih menyarankan agar Demokrat tetap menjadi oposisi yang kritis bagi pemerintahan. Dia menyebutkan dampak positif yang akan diterima Demokrat apabila tetap oposisi.

“Demokrat bisa bermitra dengan PKS dan mungkin PAN dari luar pemerintah. Jika memilih oposisi, ada dampak positif bagi Demokrat untuk bisa menampung aspirasi masyarakat sekaligus mendapatkan suara pemilih untuk 2024,” pungkasnya.

Dengan gagalnya PAN dan Demokrat masuk koalisi, maka 16 menteri yang berasal dari parpol di antaranya Tjahjo Kumolo, Yasonna Laoly, Pramono Anung, dan Juliari Batubara dari PDIP. Kemudian, Airlangga Hartarto, Agus Gumiwang Kartasasmita, dan Zainuddin Amali dari Partai Golkar.

Sementara itu dari Partai NasDem ada 3 nama, yakni Syahrul Yasni Limpo, Siti Nurbaya Bakar, Johnny G. Plate. Lalu dari PKB ada Ida Fauziah, Abdul Halim Iskandar, dan Agus Suparmanto. Dari PPP hanya Suharso Monoarfa.

Sedangkan dari partai oposisi yang masuk koalisi, yaitu Gerindra mendapat dua jatah kursi, yakni Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo.