Connect with us

Sumut

Peringati Hari Ulos, Hj Fitriani Manurung: Pemberian Ulos Simbol Restu, Kasih Sayang dan Harapan

Published

on

Medan, Geosiar com – Tokoh akademisi Hj Fitriani Manurung minta Pemko Medan agar tetap peduli pelestarian kain Ulos sebagai simbol budaya. Seiring dengan itu, para pengrajin dan pedagang Ulos pantas mendapat perhatian demi kelangsungan usahanya.

“Ulos itu simbol budaya dan adat. Pemberian Ulos merupakan lambang rasa estu, kasih sayang dan harapan yang mulia,” ujar Fitriani Manurung kepada wartawan, Kamis (17/10/2019) terkait peringatan hari Ulos Naaion 17 Oktober.

Dikatakan tokoh muda yang bakal calon Walikota-Wakil Walikota Medan periode 2020-2024 ini, Pemerintah harus terlubat dalam upaya pelestarian kain Ulos.

“Kita mendukung pemerintah untuk terus berupaya aktif dalam pengembangan kain tenun nasional salah satunya Ulos sekaligus melakukan pembinaan kepada para perajin,” tutur Hj.Fitriani.

Disebutkan, dengan perayaan Hari Ulos ini diharapkan perhatian Pemerintah terhadap perajin, pelaku uaha, dan desainer bisa lebih dioptimalkan lagi guna melestarikan warisan budaya Indonesia.

“Jadi ini sangat penting, agar Perayaan Hari Ulos ini tidak sekedar seremonial saja, melainkan menyentuh kepada pemberdayaan sehingga Warisan Budaya Indonesia benar-benar bisa dilestarikan,” jelasnya.

Hj. Fitriandi Manurung menekankan, jika perhatian masyarakat sudah maksimal, bukan tidak mungkin Ulos atau kerajinan kain tenun Indonesia bisa berbicara lebih banyak di kancah Internasional.

“Keunggulan Indonesia sebagai negara yang terdiri dari beragam suku bangsa, menyimpan potensi yang sangat besar untuk pengembangan industri fashion berbasis tradisi dan budaya. Kedepan warisan budaya seperti kain Tenun/Ulos ini bisa mendunia,” jelasnya.

Perhatian Pemerintah terhadap para pengrajin ini pada khusunya harus lebih ditingkatkan lagi misalnya terkait program restrukturisasi mesin peralatan, penguatan akses sumber bahan baku melalui pembuatan material center, dan promosi produk tenun melalui media audio visual seperti pembuatan film animasi. “Para pengrajin harus benar-benar terfasilitasi dengan baik,” jelasnya.

Ditambahkan, masyarakat Batak, kata Hj.Fitriani Manurung, Ulos masih digunakan sebagai kain dengan fungsi simbolik dalam tatanan masyarakat Batak, seperti halnya kegiatan Mangulosi yang melambangkan pemberian restu, kasih sayang, harapan dan kebaikan lainnya, meskipun pada perkembangannya para desainer sudah melakukan berbagai macam terobosan hingga menjadi produk fashion yang mendunia. (lamru)

Advertisement