Connect with us

Politik

Hujan Interupsi, Sidang MPR Disebut Sandiwara

Published

on

Anggota MPR RI Dapil Papua Barat F-PDIP, Jimmy Demianus Ijie. (Foto: Andri/mr)

Geosiar.com, Jakarta – Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) tengah menggelar sidang paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (2/10/2019). Sidang yang dimulai pada pukul 10.30 WIB ini, dihujani interupsi lantaran hanya dipimpin satu pimpinan sementara saja yakni Wakil Ketua MPR Hillary Brigitta Lasut.

“Tolong dijelaskan, ke mana pimpinan satu lagi?” tanya anggota majelis Arya Bima dari Fraksi PDIP dalam sidang, Rabu (2/10/2019).

Lantas, pertanyaan itu dijawab pimpinan sidang dengan dalih masalah kesehatan. Karena itu, sidang hanya dipimpin oleh dirinya.

“Pak Sirait [Ketua MPR Sabam Sirait] sudah izin karena ada masalah kesehatan. Seharusnya memang dipimpin oleh dari DPD, tapi beliau berhalangan,” ujar Hillary.

Interupsi kemudian berlanjut pada persoalan belum adanya wakil dari DPD untuk MPR, sehingga pembentukan fraksi MPR dinilai sebagian anggota belum bisa dilanjutkan. Karena itu, ada yang meminta sidang dilanjutkan dan ada pula yang meminta ditunda.

Menanggapi perdebatan tak berujung, seorang majelis asal Papua, Jimmy Demianus dari F-PDIP dengan suara lantang mengkritik jalannya sidang yang menurutnya tidak masuk akal. Ia bahkan mengatakan, sidang tersebut sebagai sandiwara yang berujung pada perebutan kursi kekuasaan.

“Terima kasih pimpinan. Saya melihat kita ini sedang diperlihatkan sandiwara yang tidak lucu. Hanya berebut soal kursi kekuasaan di lembaga ini,” ujar Jimmy Demianus tegas.

Ia menyayangkan, sidang tersebut tidak menunjukkan kepedulian terhadap persoalan yang sedang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, termasuk krisis kemanusiaan di Papua.

“Dan tidak memperlihatkan sense of crisis, kita ada persoalan kemanusiaan yang luar biasa terjadi di Papua,” lanjutnya.

Merasa terpukul, Jimmy pun menangis sembari tetap menyampaikan pandangannya dengan terbata-bata.

“Kita itu jadikan lembaga ini yang perhatian dengan masalah bangsa. Kita hanya berebut kekuasaan semata. Sementara orang di Papua membutuhkan kehadiran lembaga negara untuk menyelesaikan masalah mereka,” ujarnya sambil terisak.

Lebih lanjut, dia meminta agar penentuan fraksi MPR bisa dipercepat, sekaligus menyalahkan DPD yang terlalu lama menentukan pimpinan fraksi mereka di MPR.

“Tidak usah tersandera dengan kelompok yang belum ada wakilnya. Siapa suruh mau berlama-lama bermain. Percepat saja ini pimpinan MPR,” pungkasnya.