Connect with us

Lifestyle

Jangan Minum Air dalam Botol yang Terpapar Sinar Matahari, Bahaya!

Published

on

Ilustrasi air minum dalam botol plastik yang terekspos sinar matahari.

Geosiar.com, Lifestyle – Banyak orang takut meminum air di dalam botol yang sudah lama terkena paparam sinar matahari. Mitos mengatakan bahwa paparan panas menyebabkan zat-zat kimia dalam plastik bisa larut dalam air dan memicu kanker.

Ternyata mitos tersebut bukan isapan jempol biasa, soalnya memang ada efek negatif yang akan diterima tubuh apabila kita mengonsumsi air di dalam botol yang sudah lama terekspos matahari.

Melansir dari boldsky.com, Kamis (19/9/2019), meminum air dari botol yang telah terkena paparan sinar matahari dalam waktu lama memiliki efek negatif pada tubuh. Hal ini disebabkan oleh adanya bahan kimia industri BPA atau bisphenol-A dalam plastik yang berbahaya bagi tubuh.

Kendati sebagian besar botol air plastik tidak mengandung bahan kimia ini, BPA dapat ditemukan dalam botol polikarbonat. Adapun efek buruk lainnya dari mengonsumsi air dalam botol yang telah terpapar sinar matahari adalah meningkatnya pertumbuhan bakteri berbahaya, tergantung pada spesiesnya.

Selain itu, tim peneliti dari Universitas Nanjing di Tiongkok dan Universitas Floria juga sudah melakukan percobaan. Peneliti menyimpan 16 merek air dalam kemasan yang dijual di Tiongkok pada tiga suhu, yakni 3,8 derajat celcius, 25 derajat celcius, dan 70 derajat celcius.

Hasilnya, peneliti menemukan kandungan dua zat kimia, yankni antimony dan bisphenol A (BPA). Antimony merupakan logam yang diduga berperan dalam penyakit paru, jantung, dan pencernaan. International Agency for Research on Cancer juga mengelompokkan metal yang disebut antimony trioxide ini punya kemungkinan karsinogen.

Sementara itu, BPA di dalam tubuh bisa menyerupai estrogen. BPA sendiri ditemukan pada beberapa jenis plastik dan sudah dilarang penggunaannya oleh FDA untuk botol susu bayi dan cangkir bayi belajar minum.

Sebenarnya, keadaan BPA dalam botol masih menjadi perdebatan. “Secara teori, plastik seharusnya tak mengandung BPA. Tapi bisa juga saat proses pembuatan, terutama jika memakai produk daur ulang, bisa ditemukan BPA,” kata seorang peneliti, Ma.

Para peneliti memperkirakan bahwa dalam skenario terburuk, minum air yang terkontaminasi tersebut bisa berbahaya, terutama untuk anak. Untuk meminimalisir dampak buruk penggunaan botol plastik untuk menyimpan air minum, sebaiknya air disimpan di dalam sebuah wadah yang terbuat dari tembaga, baja, atau botol kaca.