Connect with us

Ekonomi

Cukai Rokok Naik, Menko Darmin: Wajar Demi Sehat

Published

on

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution.

Geosiar.com, Jakarta – Kenaikan tarif cukai hasil tembakau sebesar 23 persen yang berdampak pada harga jual eceran menjadi 35 persen mulai 2020 menuai beragam komentar. Ada yang menyetujuinya, namun banyak pula yang menolak lantaran diduga akan mengganggu ekosistem industri.

Polemik ini turut disoroti oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution. Ia menilai kenaikan tarif cukai rokok yang sebesar 23 persen pada 2020 merupakan hal yang wajar.

“Pertimbangan cukai rokok, tahun lalu tidak naik, sehingga naiknya wajar kalau lebih besar,” kata Darmin Nasution seperti dikutip Antara, Senin (16/9/2019).

Darmin mengatakan bahwa besaran kenaikan cukai rokok itu juga telah mempertimbangkan aspek menurunkan tingkat konsumsi.

“Kenaikan cukai rokok itu memiliki beberapa objektif, pertama urusan menurunkan konsumsi karena alasan kesehatan,” tegas Darmin Nasution.

Selain itu, dia mengklaim kenaikan cukai rumah rokok itu juga untuk mengoptimalkan penerimaan negara yang dalam Rancangan Anggaran Penerimaan dan Belanja (APBN) 2020, pendapatan cukai ditargetkan sebesar Rp179,2 triliun.

“Nah, dari semua itu di timbang-timbang. Angkanya yang sudah diceritakan Bu Sri Mulyani,” lanjutnya.

Adapun alasan lain terkait kenaikan cukai rokok adalah untuk mempertimbangkan kelangsungan penyerapan tenaga kerja.

Sebagai informasi, Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya menyatakan bahwa pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan tarif cukai rokok sebesar 23 persen, serta harga jual eceran sebesar 35 persen.

Menurut Sri Mulyani, pemerintah telah mempertimbangkan keputusan itu baik dari sisi industri, tenaga kerja, hingga sektor pertanian.