Connect with us

Politik

Sumpah Al-Quran Loyalis Airlangga Bikin Bamsoet Meradang

Published

on

Airlangga Hartarto (kiri) dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) (kanan).

Geosiar.com, Jakarta – Polemik perebutan kursi Ketua Umum Partai Golkar periode 2019-2024 semakin memanas. Pasalnya, dua kandidat yakni Airlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo (Bamsoet) wajib mengumpulkan pendukung yang loyal dari DPD I dan II dengan berbagai cara.

Seperti sebelumnya, Airlangga membiarkan anggota DPD II Golkar di Jawa Barat (Jabar) menyatakan dukungan terhadap dirinya dengan bersumpah di bawah Al-Quran dalam sebuah masjid. Hal itu diketahui dari sebuah video berdurasi 1 menit 25 detik yang telah tersebar di lini masa.

Namun, sumpah Al-Quran ini membuat Bamsoet meradang. Ia justru menilai Airlangga dan pendukungnya telah menjadikan agama sebagai perkakas politik.

“Pada titik ini, jelas terlihat, bahwa Airlangga, para loyalis, dan pengikutnya hanya menjadikan agama sebagai perkakas politik. Padahal, agama itu simbol kejujuran yang harus tercermin dalam setiap jabatan yang diemban oleh pemeluk agama termasuk yang sedang menjabat sebagai ketua umum,” ujar Bamsoet, Senin (2/9/2019).

Bagi Bamsoet, agama merupaka simbol moral tertinggi yang aktualisasinya dan bisa terlihat dalam kehidupan pribadi, tanggung jawab, responsif terhadap aspirasi, rela menderita demi orang yang di pimpinnya, dan melayani.

Selain Bamsoet, Darul Siska yang termasuk loyalis Bamsoet juga sependapat bahwa dukungan di bawah Al-Quran seperti yang dilakukan pendukung Airlangga terlalu berlebihan. Darul menyebut, kubu Airlangga sudah kehabisan akal untuk meraup dukungan para anggota DPD sehingga merasa perlu menggunakan sumpah Al-Quran.

Menanggapi kubu Bamsoet, loyalis Airlangga yang juga Ketua Koordinator Bidang Perekonomian Partai Golkar, Azis Syamsudin, justru menganggap wajar ada deklarasi dukungan menggunakan Al-Quran.
Ia menilai tidak ada yang salah dengan penggunaan kitab saat pengambilan dukungan.

“Sama, saya tanya sama anda anda berlebihan enggak pake hijab? Penilaian itu masing-masing anda mau pake hijab boleh enggak pakai hijab boleh. Itu hakiki kepada hablum minallah. Jangan diperdebatkan itu. Itulah Bhineka Tunggal Ika kita, itulah empat pilar kita itulah azas Pancasila,” ujarnya, Senin (2/9).