Connect with us

Dunia

Brasil Kritik Usulan Presiden Prancis Soal Kebakaran Amazon

Published

on

Kondisi hutan Amazon yang mengalami kebakaran parah, Kamis (22/8/2019). (Foto: REUTERS/Ueslei Marcelino)

Geosiar.com, Brasil – Pemerintah Brasil mengkritik usulan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang ingin membawa persoalan kebakaran hutan Amazon di forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) negara-negara G7. Kritikan itu disampaikan oleh Presiden Brasil, Jair Bolsonaro.

Sebelumnya, usulan terkait kebakaran hutan Amazon disampaikan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam sebuah kicauan di akun Twitter miliknya @EmmanuelMacron, Jumat (23/8/2019) pukul 2.15 dinihari.

“Rumah kita sedang terbakar. Hutan hujan Amazon – paru-paru yang memproduksi 20% oksigen di planet kita – sedang terbakar,” tulis Macron dalam sebuah cuitan di Twitter.

Atas dasar itu, Macron pun mengklaim kebakaran yang mencapai tingkat rekor di hutan hujan Amazon sebagai ‘krisis internasional’ yang harus menjadi agenda prioritas di KTT G7.

“Ini merupakan krisis internasional. Para anggota KTT G7, mari kita diskusikan kondisi darurat ini pertama-tama dalam dua hari!” tutup dia.

Menanggapi usulan itu, Presiden Brasil Jair Bolsonaro meradang. Ia bahkan menuduh Presiden Prancis itu menggunakan masalah domestik Brasil untuk tujuan politik pribadi. Sebab, membicarakan topik tersebut di KTT G7, di mana Brasil bukan merupakan anggota KTT.

“Saran presiden Prancis untuk mendiskusikan masalah Amazon di G7 tanpa partisipasi negara yang terlibat mengesankan pola pikir penjajah yang salah tempat, yang tidak cocok dengan abad 21,” tulis Bolsonaro di akun Twitter @jairbolsonaro, Jumat (23/8/2019) pukul 5.36 dinihari.

Selain itu, Bolsonaro juga mengatakan jika Macron terlalu membesar-besarkan masalah ini, termasuk dengan menggunakan gambar palsu. Sebelumnya, sang presiden telah menuding bahwa LSM mungkin telah menyulut api di hutan Amazon sebagai aksi balas dendam kepada pemerintah yang memangkas pendanaan mereka.

Dunia

Imbas Corona, Produksi iPhone di China Menurun

Published

on

Pabrik pembuat smartphone iPhone, Foxconn di Kota Zhengzhou, Provinsi Henan, China, sudah ditutup lebih dulu akibat wabah virus corona. (Foto: AFP)

Geosiar.com, Beijing – Produksi iPhone di China terhambat hingga mengalami penurunan signifikan akibat wabah virus Corona COVID-19. Perusahaan pemilik iPhone, Apple Inc. pun dikabarkan telah memperingatkan para investornya terkait halangan dalam memenuhi pedoman keuangan kuartal kedua.

Meskipun seluruh fasilitas produksi iPhone yang berada di luar Provinsi Hubei telah dibuka kembali, namun tingkat produksi perusahaan dikatakan melaju secara perlahan. Apple juga menyampaikan bahwa mereka lebih mementingkan kesehatan para pekerja.

“Kesehatan dan kesejahteraan setiap orang yang membantu membuat produk-produk ini menjadi nyata adalah prioritas utama kami, dan kami bekerja dalam konsultasi erat dengan para pemasok dan pakar kesehatan masyarakat kami saat jalur ini berlanjut,” demikian pernyataan Apple Inc. seperti dikutip dari 1News, Selasa (18/2/2020).

Penurunan produksi iPhone juga disebabkan permintaan pasar yang juga menurun di China. Diketahui, sekitar 42 toko ritel Apple ditutup, sisanya beroperasi di jam kerja yang terbatas. Namun, permintaan iPhone di luar China dilaporkan masih tinggi, sesuai dengan harapan perusahaan.

Dampak dari penurunan produksi ini sangat terasa bagi keuangan Apple sebab China merupakan pasar ritel terbesar ketiga Apple untuk produk iPhone, setelah Amerika Serikat dan Eropa.

Continue Reading

Dunia

Akibat Corona, Perayaan HUT Kaisar Jepang Dibatalkan

Published

on

Kaisar Jepang Naruhito dan Permaisuri Masako melambaikan tangan kepada warga saat parade kerajaan menandai penobatan Naruhito sebagai Kaisar di Tokyo, Jepang, Minggu (10/11/2019). (Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Geosiar.com, Tokyo – Perayaan hari ulang tahun Kaisar Naruhito terpaksa dibatalkan akibat makin mewabahnya virus Corona di negara itu. Rencananya peringatan ulang tahun itu berupa pertemuan langsung antara kaisar baru Jepang dengan masyarakat.

“Mengingat berbagai situasi, kami memutuskan membatalkan kunjungan oleh masyarakat umum ke istana untuk ulang tahun Yang Mulia,” demikian pernyataan badan rumah tangga kekaisaran dalam pernyataan resmi, seperti dilaporkan AFP, Senin (17/2/2020).

Pembatalan itu diumumkan sehari setelah Menteri Kesehatan Jepang Katsunobu Kato meminta warganya menghindari kerumunan massa dan acara kumpul-kumpul yang tidak penting, termasuk antrean panjang kereta komuter demi mencegah COVID-19 semakin menyebar di negaranya.

“Penampilan Yang Mulia di pagi hari serta penandatanganan buku sambutan di depan umum akan dibatalkan,” pungkas pernyataan itu.

Sejauh ini, virus baru tersebut telah menginfeksi 59 warga Jepang. Ditambah dengan kapal pesiar Diamond Princess yang sedang dikarantina di lepas pantai Yokohama, yang menginformasi 355 kasus virus Corona.

Continue Reading

Dunia

China Terpaksa Karantina Uang Kertas Akibat Virus Corona

Published

on

Ilustrasi mata uang Yuan yang terpaksa dikarantina untuk mencegah penyebaran virus Corona. (Foto : Dok/Ist)

Geosiar.com, Beijing – Bukan hanya manusia, uang kertas di China pun turut dikarantina sebagai langkah antisipasi penularan virus Corona atau Covid-19. Hal itu disampaikan pejabat Bank Sentral Cina dalam konferensi pers pada hari Sabtu, 15 Februari 2020.

Dikutip dari AFP, Senin (17/2/2020), sejumlah bank di Cina menyinari uang kertas yuan dengan sinar ultra violet atau memanasinya dengan suhu tinggi untuk mencegah wabah virus Corona. Kemudian, uang itu dibalut dan dikarantina selama 14 hari atau tergantung dengan keparahan wabah virus Corona di wilayah tertentu, sebelum uang tersebut diedarkan kembali.

Wakil gubernur Bank Sentral Cina, Fan Yifei bank mengaku, pihaknya akan mencetak uang kertas baru bila memungkinkan. Katanya, bank sentral sudah menerbitkan uang kertas baru 4 miliar yuan atau setara dengan Rp 7,8 triliun untuk Provinsi Hubei, pusat penyebaran epidemi, sebelum liburan Tahun Baru Imlek baru-baru ini.

“Langkah ini untuk memastikan keselamatan masyarakat dan kesehatan saat menggunakan uang tunai,” ujar Fan.

Langkah itu dilakukan untuk menjamin kebersihan dan kesehatan masyarakat dari paparan virus. Uang yang sudah beredar sebelumnya sangat mungkin terpapar virus karena pernah dipegang penderita. Sebab, WHO menduga penyebaran virus Corona bisa melalui benda yang terkontaminasi selain kontak langsung dan tetesan dari penderita.

Kendati demikian, masih belum diketahui secara jelas bagaimana efektivitas dari program karantina ini, mengingat masyarakat China tergolong lebih suka membayar dengan menggunakan aplikasi ketimbang uang tunai.

Continue Reading
Advertisement

BERITA NASIONAL

Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com