Connect with us

Hiburan

Tayang di Bioskop, Begini Fakta ‘Bumi Manusia’ Versi Novel

Published

on

Poster Film Bumi Manusia

Geosiar.com, Lifestyle – Film ‘Bumi Manusia’ resmi tayang di seluruh bioskop Tanah Air mulai hari ini, Kamis (15/8/2019). Seperti diketahui, film ini diadaptasi dari novel karya Pramoedya Ananta Toer dengan judul serupa yakni ‘Bumi Manusia’.

Sebenarnya, novel ini merupakan bagian pertaman dari Tetralogi Buru ciptaan Pramoedya Ananta Toer. Dalam versi novelnya, buku ini memuat berbagai isu sosial dan politik yang terjadi di Indonesia kala itu. Tiga buku lainnya yakni Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. 

Baca selengkapnya di artikel “Sinopsis Bumi Manusia, Film Adaptasi Novel Pramoedya Rilis Besok”, https://tirto.id/egeZ

Nah, sebelum menonton film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini, ada baiknya membaca novel ‘Bumi Manusia’ karya Pramoedya Ananta Toer terlebih dulu.

Jika tidak sempat, berikut rangkuman fakta-fakta dari novel ‘Bumi Manusia’ yang bakal melengkapi detail dari film. Simak yuk!

Bukan Sekadar Kisah Asmara

Buku pertama Tetralogi Buru ini memang menceritakan kisah pertemuan antara dua tokoh utama yakni Minke dan Annelies Mellema. ‘Bumi Manusia’ sendiri banyak menggambarkan sosok Annelies yang bukan orang pribumi.

“Di depan kami berdiri seorang gadis berkulit putih, halus, berwajah Eropa, berambut dan bermata Pribumi. Dan mata itu, mata berkilauan itu seperti sepasang kejora dan bibirnya tersenyum meruntuhkan iman.”

Dalam buku ini, konflik percintaan antara Minke yang orang pribumi, dengan Annelies terlihat sangat kontras. Seorang pria pribumi yang jatuh cinta terhadap perempuan kulit putih.

Kendati demikian, buku ini bukan sekedar menceritakan kisah asmara keduanya, tapi ada represi yang coba didobrak dan tatanan sosial yang coba ‘dihancurkan’ oleh Annelies dan Minke.

Sosok Nyai Ontosoroh yang Keras

Dalam ‘Bumi Manusia’ sosok Nyai Ontosoroh merupakan tokoh pertama yang dikenalkan Pramoedya Ananta Toer. Saat usianya menginjak 14 tahun, perempuan yang bernama asli Sanikem itu dijual orang tuanya kepada pengelola Boerderij Buitenzorg. Kemudian ia dijadikan istri simpanan yang kemudian dipanggil Nyai.

Sebagai seorang Nyai pribumi, kehidupannya semakin keras setelah Tuan Mellema meninggal. Dia mempertahankan apa yang menjadi haknya yang selama ini terempas, berusaha melawan pengadilan putih dan aturan sosial di masanya.

Nyai Ontosoroh juga cerminan budaya Eropa yang sedang marak saat itu. Berbeda dengan pemikiran Eropa, Nyai Ontosoroh memercikkan api perlawanan terhadap penindasan. 

Dobrakan Tatanan Sosisal

Pramoedya Ananta Toer menggunakan watak Minke, Nyai Ontosoroh, dan Annelies untuk mendobrak tatanan sosial yang terjadi di masa itu. Lewat karakter-karakter yang diciptakan Pram, ‘Bumi Manusia’ menjadi pondasi kokoh bagi Tetralogi Buru.