Connect with us

Ekonomi

Hari Ini Emas Antam Dijual Rp 754.000/Gram, Turun Tipis Rp 1.000

Published

on

Ilustrasi

Geosiar.com, Jakarta – Harga logam mulia atau emas batangan milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun Rp 1.000 pada perdagangan hari ini, Rabu (14/8/2019) menjadi Rp 754.000 per gram, dari perdagangan kemarin di Rp 755.000 per gram. Harga emas Antam turun Rp 1.000.

Sementara untuk harga buyback atau pembelian kembali emas Antam hari ini ada di level Rp 682.000/gram. Harga buyback ini maksudnya jika Anda ingin menjual emas, maka Antam akan membelinya dengan harga itu.

Harga emas batangan itu telah termasuk PPh 22 sebesar 0,9%. Jika ingin mendapatkan potongan pajak lebih rendah, yakni sebesar 0,45% maka bawa NPWP saat transaksi.

Berikut ini rincian harga emas Antam:
Pecahan 1 gram Rp 754.000
Pecahan 5 gram Rp 3.590.000
Pecahan 10 gram Rp 7.115.000
Pecahan 25 gram Rp 17.680.000
Pecahan 50 gram Rp 35.285.000
Pecahan 100 gram Rp 70.500.000
Pecahan 250 gram Rp 176.000.000
Pecahan 500 gram Rp 351.800.000

Ekonomi

Menkeu Bongkar Penyebab Kerugian BPJS Kesehatan

Published

on

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. (Foto: Aditya Pradana Putra/Antara)

Geosiar.com, Jakarta – Keuangan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan diketahui mengalami defisit sejak tahun 2014 hingga sekarang. Defisit keuangan BPJS Kesehatan tercatat sebesar Rp 19,4 triliun di tahun 2018. Angka ini melesat jauh dibanding tahun 2014 yang hanya sebesar Rp 1,9 triliun.

Menanggapi tekornya BPJS Kesehatan, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akhirnya membongkar penyebab defisit keuangan BPJS Kesehatan selama beberapa tahun belakangan ini. Hal ini diungkapkan Sri Mulyani dalam rapat kerja (raker) bersama Komisi XI DPR RI terkait pengesahan DIM RUU Bea Materai dan BPJS Kesehatan.

“Karena BPJS Kesehatan tidak menerima iuran yang seharusnya dari peserta bukan penerima upah (PBPU) atau peserta umum,” kata Sri Mulyani di ruang rapat Komisi XI, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Total peserta BPJS Kesehatan yang hampir mencapai 223 juta orang, kata Sri, terbagi atas peserta penerima bantuan iuran (PBI) dari APBN sebanyak 96,5 juta orang, dan peserta PBI dari APBD sebanyak 37,3 juta orang.

Kemudian, peserta yang merupakan pegawai penerima upah (PPU) pemerintah 17,1 juta orang, untuk PPU badan usaha dari swasta maupun BUMN sebanyak 34,1 juta orang. Sementara itu, peserta dari PBPU sebanyak 32,5 juta orang, lalu peserta bukan penerima upah dan bukan pekerja (pensiunan) sebanyak 5,1 juta orang.

Sri Mulyani mengungkap, permasalahan kewajiban pembayaran iuran BPJS Kesehatan berasal dari peserta umum seperti wiraswasta. Tercatat, masih banyak dari kelompok umum yang menunggak pembayaran iuran, tapi tetap mendapat fasilitas layanan kesehatan.

“Ini akibat dari masyarakat umum (PBPU) sebagian besar menikmati layanan dan itu yang menyebabkan BPJS menghadapi situasi sekarang, mereka (BPJS) harus mambayar untuk fasilitas kesehatan, maka BPJS menjadi defisit,” ungkap Sri Mulyani.

Selain peserta umum (PBPU), eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan, penyebab lain yang membuat keuangan BPJS Kesehatan defisit adalah manipulasi kelas rumah sakit yang masuk dalam sistem jaminan kesehatan nasional (JKN). Ada rumah sakit yang meningkatkan kelas demi mendapatkan dana yang lebih besar.

“Salah satu temuan BPKP di daerah ada RS golongan D dia mengakunya C untuk dapat unitnya besar, itu ada temuannya BPKP bahwa FKRTL (rumah sakit) ini penggolongannya mereka main ke atas, ini yang coba dirapihkan oleh Kemenkes melakukan riview RS,” pungkas dia.

Continue Reading

Ekonomi

DPR Tolak Pemindahan Ibu Kota: Jangan Boros untuk Pencitraan

Published

on

Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meninjau lokasi alternatif calon ibu kota baru Indonesia di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (8/5/2019).

Geosiar.com, Jakarta – Keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk segera memindahkan lokasi ibu kota Indonesia tidak lagi sekedar wacana belaka. Bahkan, sang presiden telah meninjau beberapa lokasi yang dinilai baik dijadikan sebagai ibu kota baru.

Namun, tak semua pihak mendukung ide pemindahan ibu kota tersebut. Salah satu pihak yang menolak ide itu adalah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). DPR menilai, pemerintah membuat pencitraan dan menghamburkan uang negara dengan memindahkan ibu kota dari DKI Jakarta ke Kalimantan.

“Jadi ini mohon jadi suatu pertimbangan, jangan sampai ada pemborosan biaya untuk kepentingan yang tidak jelas, hanya pencitraan. Semoga bisa dikaji lebih mendalam oleh pemerintah,” kata Anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Bambang Haryo, Selasa (20/8/2019).

Menurut Bambang, daripada menghamburkan uang untuk pemindahan ibu kota, sebaiknya pemerintah lebih memprioritaskan masalah harga sejumlah kebutuhan pokok yang masih mahal saat ini.

“Kebutuhan pangan kita sekarang ini harga-harga komoditas jauh lebih mahal daripada yang ada di Arab Saudi,” ujar dia.

Selain harga komoditas pangan, Bambang juga menyoroti masalah listrik yang dinilai masih mahal bagi masyarakat. Kemudian, aliran air bersih ke seluruh kawasan di dalam negeri.

“Ini kebutuhan pokok yang harus direalisasikan terlebih dahulu dibandingkan dengan pemindahan ibu kota,” tambah dia.

Selain Partai Gerindra, kritikan soal pemindahan ibu kota juga disampaikan oleh mantan Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) era Presiden Indonesia keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yakni Emil Salim.

Emil mengatakan, anggaran yang digunakan untuk pemindahan ibu kota juga bisa digunakan untuk hal lain yang lebih mendesak, seperti pemerataan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan.

Sebagai informasi, pemerintah telah menghitung kebutuhan dana untuk memindahkan ibu kota yakni sebesar Rp 466 triliun. Dana tersebut akan berasal dari dua pihak yakni Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 93 triliun, dan sisanya dari kerja sama dengan swasta.

Continue Reading

Ekonomi

Rupiah Tekan Dolar AS Rp 14.200 Pagi Ini

Published

on

ILUSTRASI

Geosiar.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pagi masih menguat di kisaran Rp 14.200. Angka ini tercatat pada Senin (19/8/2019) pukul 09.00 WIB.

Di pembukaan neraca dagang pagi ini, mata uang Paman Sam tercatat bergerak di rentang Rp 14.190 hingga 14.230. Sementara pada pekan lalu, dolar AS tercatat bergerak dari level Rp 14.139 hingga 14.339.

Berdasarkan data RTI, dolar AS memang terpantau melemah dan menguat terhadap sebagian mata uang negara utama dunia. Mata uang paling kuat menekan dolar AS adalah ringgit Malaysia, peso Filipina, dan rupiah pagi ini.

Untuk rupiah sendiri, pagi ini menguat terhadap won Korsel, dolar Selandia Baru, dan dolar Singapura

Continue Reading
Advertisement

BERITA NASIONAL

Advertisement

Trending

Alamat Redaksi : Jl. Mataram No. 21 Gedung Catolic Center Lt 2 Medan – Sumatera Utara, Telp. +626180514970 Email : geosiar.com@gmail.com Copyright © 2017-2018 Geosiar.Com