Connect with us

Politik

Paul S Minta Libatkan Seluruh Elemen Sosialisasi Perda, Tegakkan Perda Sampah

Published

on

Medan, Geosiar.com – Anggota DPRD Medan Paul Mei Anton Simanjuntak minta Pemko Medan supaya melibatkan seluruh instansi memberdayakan sosialisasi tentang kebersihan di kota Medan. Seiring dengan itu, Pemko Medan harus menegakkan Perda No 6 Tahun 2015 tentang pengelolaan Persampahan.

“Saya rasa semua pihak setuju jika kota Medan bersih dan asri. Maka itu, seluruh elemen masyarakat harus peduli dengan kebersihan,” tegas Paul Mei Anton Simanjuntak SH saat menggelar sosialisasi ke XI Tahun 2019 Perda Kota Medan No 6/2015 tentang pengelolaan persampahan di Jl Pertiwi, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Minggu (28/7/2019). Hadir saat sosialisasi tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan ratusan masyarakat.

Kepada masyarakat diminta agar tidak membuang sampah sembarangan apalagi membuang sampah ke parit maupun ke sungai. Masyarakat juga agar mewadahi sampahnya mulai dari rumah hingga tempat pembuangan sampah sementara. “Masalah kebersihan adalah tanggungjawab bersama. Pemerintah berkewajiban mengangkut sampah ke Tempat Sampah Akhir (TPA) dan mengelolanya. Sedangkan masyarakat wajib mewadahi sampah mulai dari rumah dan dilarang membuang sampah sembarangan,” terang Paul.

Apalagi saat ini Pemko Medan telah memiliki Perda Persampahan. Dalam Perda sudah jelas mengatur tentang larangan dan ketentuan pidana. Seperti Pasal 32 dengan jelas mengatur larangan yakni setiap orang atau badan dilarang membuang sampah sembarangan di kota Medan. Menyelenggarakan pengelolaan sampah tanpa seizin Walikota dan menimbun sampah atau pendauran ulang sampah yg berakibat kerusakan lingkungan.

Sedangkan dalam Pasal 35 diatur soal ketentuan pidana yakni setiap orang yg melanggar ketentuan dipidana kurungan 3 bulan atau denda Rp 10 jt. Bahkan untuk suatu badan yang melanggar ketentuan akan dipidana kurungan 6 bulan atau denda Rp 50 jt.

Dalam hal ini, Paul minta Pemko Medan agar maksimal menerapkan Perda. “Kita harapkan Pemko Medan memberlakukan Perda tersebut dengan tegas,” saran Paul.

Ditambah Paul, Guna memaksimalkan Perda dan terciptanya kebersihan di kota Medan, Walikota Medan dapat memberikan tugas tanggungjawab kepada suluruh Kepala Lingkungan (Kepling). Kepling diharapkan sebagai motor ujung tombak pembinaan dan pengelolaan sampah disetiap lingkungan.

Selain itu menyikapi banyak warga Medan yang membuang sampah sembarangan karena ketiadaan tempat sampah di lingkungan. Hal itu harus menjadi perhatian serius Walikota Medan. Diharapkan, Pemko Medan melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) supaya segera memfasilitasi pengadaannya.

“Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dan sarana angkutan sehingga tidak terlambat sampah diangkut perlu diperhatikan,” tegas politisi PDI P itu.

Ditambahkan Paul, DKP bersama Kepling diharapkan bekerjasama untuk menganjurkan dan menetapkan warga masuk Wajib Retribusi Sampah (WRS). Hal tersebut sangat penting guna peningkatan PAD dari retribusi sampah. “Tentu muaranya untuk menunjang pelayanan maksimal menangani sampah,” tambahnya.

Sebagaimana diketahui Perda Pengeloaan Persampahan terdiri XVII BAB dan 37 Pasal yang bertujuan menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat serta menjadikan sampah sebagai sumber daya. Sedangakan tujuan sosialisasi untuk menggugah kesadaran masyarakat hidup bersih.

Sampah yang dimaksud yakni sampah rumah tangga dan sejenisnya yang berasal kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus dan fasilitas umum. Dalam Perda tersebut juga diatur tentang hak dan kewajiban. Dimana setiap orang berhak mendapat pelayanan pengelolaan persampahan secara baik dan berkawasan lingkungan. Juga berhak mendapat perlindungan akibat dampak negatif dari kegiatan tempat pemprosesan akhir sampah.

Sedangkan kewajiban yakni mengurangi sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan. Menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan. Sedangkan pihak pengelola kawasan koemersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial dan umum wajib menyediakan fasilitas pemilahan sampah. (lamru)