Connect with us

Nasional

Amnesti Baiq Nuril Resmi Diteken Presiden Jokowi

Published

on

Terpidana kasus pelanggaran UU ITE Baiq Nuril Maknun (tengah) saat menyaksikan rapat kerja Komisi III DPR dengan Menkumham di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/7/2019). (Foto: Kompas)

Geosiar.com, Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi resmi menandatangani surat Keputusan Presiden (Keppres) terkait permohonan amnesti bagi terpidana kasus pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Baiq Nuril Maknun.

“Tadi pagi Keppres untuk Ibu Baiq Nuril sudah saya tanda tangani,” tutur Jokowi di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, seperti dikutip dari laman resmi Sekretariat Presiden, Senin (29/7/2019).

Kabar baik itu disampaikan Jokowi sebelum melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Jokowi pun mempersilahkan Baiq Nuril untuk mengambil surat Keppres tersebut di Istana.

“Jadi, silakan Ibu Baiq Nuril kalau mau diambil di Istana silakan. Kapan saja sudah bisa diambil,” tambah Jokowi.

Ketika ditanya apakah Baiq Nuril bisa bertemu dengan dirinya pasca penerbitan Keppres tersebut, mantan Wali Kota Solo itu mengatakan tidak merasa keberatan justru ia siap menerima Baiq Nuril dengan senang hati apabila ingin bertemu langsung dengannya

“Diatur saja. Saya kira saya akan dengan senang hati menerima,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Baiq Nuril menerima vonis hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta karena dianggap melanggar Pasal 27 Ayat 1 juncto Pasal 45 Ayat 1 UU Nomor 11/2008 tentang ITE setelah peninjauan kembali (PK) kasus yang menjeratnya ditolak Mahkamah Agung (MA).

Lantas, ia pun memberanikan diri untuk mengajukan permohonan amnesti kepada Jokowi lewat surat yang ditulisnya sendiri. Ternyata kasus ini juga menyedot perhatian Presiden dan mendesak agar DPR segera merapatkan permohonan amnesti ini.

Melalui sidang paripurna ke-23 masa sidang V Tahun 2018/2019, DPR pun resmi menyetujui agar Presiden Joko Widodo memberi amnesti (pengampunan) kepada Baiq Nuril Maknun.